Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Putri Tersayang Rasulullah SAW

Keluarga
  1. Bografi Fatimah Az-zahra Putri Rasulullah
    Seorang gadis yang memiliki paras yang cantik dan jelita. Parasnya cerah bagaikan sekuntum bunga, ia berhati mulia dan memiliki sifat yang sangat lemah lembut. Ia lahir dari seorang pasangan yang bernama khadijah dan Muhammad Saw. Dia bernama Fatimah Az-Zahrah binti Muhammad bin Abdullah bin Abdul Munthalib.

    Fatimah lahir di kota Makkah pada hari Jum’at 20 jumadil akhir sekitar tahun 614 M. Fatimah merupakan putri ke-4 dari anak-anak Rasulullah SAW. Allah Swt menghendaki kehlahiran Fatimah yang mendekati tahun ke-5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa ditunjuknya Rasullah SAW sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan hajar aswad pasca setelah ka’bah diperbarui.

    Kelahiran Fatimah disambut oleh Rasullah dengan sangat gembira dan diberikannya nama oleh ayahnya Fatimah  dan julukannya Az-Zahra sedangkan kunyahnya adalah Ummu (ibu dari bapaknya). Nama Fatimah berasal dari suku kata “Fathama” yang berarti menyampih atau menghentikan atau menjauhkan dan menjamin putri bungsu Nabi Saw berikut dengan seluruh keturunannnya nasa’i bahwa Allah Swt akan membebaskan Fatimah beserta orang-orang yang dicintainya dari neraka.

    Sedangkan Az-zahra artinya bercahaya, berkilau. Diusianya yang ke 5 tahun sang bunda Khadijah harus pulang ke Rahmatullah terlebih dahulu. Di usia yang masih dini dialah yang menggantikan ibundanya menyediakan, melayani keperluan dan membelah ayahandanya. Pada masa kanak-kanak Fatimah tidak seperti umumnya anak-anak kecil yang penuh dengan keasyikan, kebahagiaan dan juga kedamaian.

    Pada umur belasan ia harus rela ditinggalkan oleh  saudara-saudaranya satu persatu dengan kurun waktu yang tidak lama berapa beratnya ujian hidup Fatimah. Akan tetapi Fatimah tidak menyerah ia tetap tegar dengan ujian-ujian yang yang menghampirinya. Fatimah adalah seorang pribadi yang sabar, dan penyayang karena tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Dia senantiasa setia bersama ayahandanya selalu berbakti kepadanya. Itulah sebab mengapa ia dikenal dengan sebutan Ummu Abiha (anak yang menjadi seperti ibu bagi ayah). Rasulullah sering menyebut nama Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasullah Saw pernah berkata “Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia”.

    Hari ke hari Fatimah beranjak dewasa ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik jelita, dimasa mudanya juga tentang menjaga fitrahnya cinta. Rasa yang ada didalam hati Fatimah, tersimpan sangat rapi. Kata cinta Fatimah terucap hanya ketika ia yang telah mengusik hatinya, hanya ketika ia bersiap dan sesungguh-sungguh hatinya. Pada akhirnya yang dapat mengusik hati Fatimah ialah Ali bin Abi Thalib ia merupakan Khulafaur Rasyidin yang ke -4, dan pada akhirnyalah Ali bin Abi Thalib yang menjadi penyempurna separuh agamanya.

    Mereka berdua saling menyukai. Kisah cinta mereka berdua merupakan kisah cinta yang begitu romantis. Bagaimana tidak romantis, kisah cinta mereka berdua memiliki kedudukan yang tinggi dimata Allah SWT. Kisah cinta Ali dan Fatimah berlandaskan pada iman, keyakinan hanya pada Allah semata. Keduanya mampu menyimpan rasa cintanya masing-masing didalam hati hingga pada akhirnya mereka berdua mecurahkan cintanya ke dalam suatu ikatan yang halal yaitu sebuah pernikahan. Pada saat itu Fatimah berusia 18 tahun. Pernikahan Ali dengan Fatimah sangat indah, dengan bermahar baju besi dahulu yang diberikan Rasullah kepada Ali. Kaum muslimin merasa gembira atas pernikahan Ali dan Fatimah, di pernikahan mereka berdua, mereka dikaruniai 5 orang putra yaitu : Hasan bin Ali, Husain bin Ali, Zainab binti Ali, Ummu Kultsum binti Ali, Muhsin bin Ali.

    Setelah lama pernikahannya dengan Ali, Fatimah sering ditinggal oleh Saiyidina Ali yang untuk pergi berperang berbulan-bulan lamanya, namun dia tetap renda dengan suaminya. Namun bagi Fatimah saat berjauhan dengan suaminya merupakan kesempatan berdampingan dengan Allah Swt untuk mencari kasihnya melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan. Sepanjang bepergian Ali hanya anak-anaknya lah yang asih kecil yang menjadi temannya. Untuk mendapatkan air, berjalanlah ia hampir 20 batu mencedoknya dari perigi yang 40 hasta dalamnya, ditengah bahang panasnya matahari dipadang pasir yang terik.

    Terkadang kala dia berlapar sepanjang hari. Sering pula juga ia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkanya tulang di dadanya. Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga ia meminta-minta hingga menyusahkan saminya. Dalam keadaan ini, Fatimah tidak menghilangkan untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri dan melihat orang lain kelaparan. Dia tidak rela bila hidup senang sedangkan sedangkan orang lain yang menderita. Bahkan ia tidak pernah membiarkan seorang pengemis melangkah dari rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelapaan. Memang sangat padan sekali.

    Namu pada suatu hari, Fatimah telah menyebabkan Ali  tersentuh hatinya dengan kata-kata. Menyadari kesilapanya. Fatimah pun segera meminta maaf berulang-ulang kali. Apabila dilihatnya air mata Ali tidak juga berubah, lalu dia dengan berlari-lari kecil mengelilingi Ali, tujuh puluh kali ia thawaf sambil ia merayu-rayu memohon meminta agar dimaafkan. Melihat sikap Fatimah itu tersenyumlah Ali lantas ia memafkan Fatimah. Fatimah masih berada disisi ayahandanya, ketika itu sang ayahnya membisikkan sesuatu kepada Fatimah hingga ia menangis, kemudian sang ayah membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya ia tersenyum.

    Dia menangis karena ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian ayahnya. Namun, menyatakan bahwa ia adalah orang pertama yang akan berkumpul dengannya di alam Baqa’ dan gembiralah hatinya. Tak lama kemudian sang ayah meninggal dunia, Fatimahpun bersedih. Setelah 6 bulan kepergian asang ayah Fatimah meninggal karena sakit. Fatimah meninggal pada usia 28 tahun dimakamkan di perkuburan Baqi’ Madinah. Itulah Fatimah wanita termulia sepanjang zaman. Dia merupakan hasil didikan Rasullah, tidak ada orang yang mirip sekali dengan Rasullah selain Fatimah putri tersayangnya, mulai dari akhlak, cara bicara, kemuliaannya.
  2. Fatimah Wanita Yang Tidak Pernah Haid

    Fatimah merupakan wanita yang tidak pernah haid sepanjang masa. Dengan keistimewaannya ini, Rasullah Saw memberi gelar khusu kepada Fatimah yaitu “ Al-Batul” yang artinya adalah “ Orang Suci”. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan Fatimah r.a menjeladkan bahwa beliau tidak pernah haid. Diantaranya adalah “ putriku Fatimah adalah bidadari. Tidak pernah haid dan nifas. Karena Allah menyampih dan menjauhkan dari neraka” hadist ini disebutkan Al-Kinani dalam karya Tanzih as-Syatiah, ini merupakan hadist dhaif. Jadi, Fatimah adalah seorang wanita yang tidak pernah haid sepanjang masa oleh karena itulah ia disebut sebagai orang yang suci.
  3. Adapun pengalaman teladan yang dapat diambil:

  • Tidak pernah putus asa, mengeluh dalam menghadapi ujian.
  • Berbakti kepada orang tua.
  • Selalu teguh dan tangguh menghadapi segala cobaan yang diberikan kepada Allah. 
  • Lemah lembut, baik hati, sabar.


Berlangganan via Email