Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membiasakan Anak Berpuasa Mulai Dini Melalui Pembelajaran Fiqih

Tau Gak Sih Apa Itu Pembelajaran Fiqih?
Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pembelajaran yaitu “Proses, cara dan perbuatan menjadikan orang atau makhluk belajar”. Dengan demikian, pembelajaran yaitu kegiatan tertentu yang dilakukan agar seseorang dapat mengetahui suatu ilmu pengetahuan. 


Puasa Sejak Dini


Dan juga nih, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Tahun 2003 Bab I Pasal 1 dijelaskan bahwa “Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

Ada juga
menurut pendapat Ahmad Tafsir, “Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan anak mengenai segi kognitf dan psikomotorik semata, yaitu supaya anaklebih banyak pengetahuannya, lebih berpikir kritis, sistematis obyektif serta terampil dalam mengerjakan sesuatu. “Kita berlanjut  ke pengertian “Fikih” gaes, secara bahasa fikih memiliki arti “tau atau paham”. Pengertian ini didasarkan pada salah satu firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 122 yang berbunyi :
ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Dari ayat di atas ini bisa tarik kesimpulan bahwa fikih itu berarti mengetahui, memahami dan mendalami ajaran agama. Sedangkan dalam konteks istilah, seperti halnya pengertian “pembelajaran”, pengertian Fikih secara istilah yaitu sebagai ilmu yang mempelajari syari’at Islam baik dalam konteks asal hukum maupun praktek dari syari’at Islam itu sendiri.

Nah berdasarkan penjelasan tentang pengertian dari pembelajaran dan Fikih di atas, apa ada yang sudah bisa menebak apa kira-kira maksud dari pembelajaran Fiqih? Pembelajaran Fiqih adalah suatu kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa yang bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas berfikir siswa dalam bidang syari’at Islam dari segi ibadah dan muamamalah baik dalam konteks asal hukumnya maupun praktiknya sehingga siswa mampu menguasai materi tersebut dan terjadinya perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap serta tingkah laku anak didik ke arah kedewasaan yang sesuai dengan syari’at Islam dengan menggunakan cara-cara dan alat-alat komunikasi pembelajaran.

Pembelajaran fiqih bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat: 
  1. Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah yang diatur dalam fiqih ibadah dan hubungan manusia dengan sesama yang diatur dalam fiqih muamalah.
  2. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam hal ibadah kepada Allah maupun ibadah sosial.
  3. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial Pembelajaran fiqih pada hakikatnya adalah proses komunikasi yakni proses penyampaian pesan pelajaran fiqih dari sumber pesan atau pengirim atau guru melalui saluran atau media tertentu kepada penerima pesan (siswa). 


Puasa?? Apa Itu Ya??
Pasti kita semua pernah dengar apa itu puasa, tapi kira-kira kita sudah tau gak ya apa maksud dan tujuan dari berpuasa itu sendiri. Dan pasti kita semua ingin melatih generasi bangsa untuk membiasakan berpuasa mulai nmereka masih dini. Kalau gitu yuk kita pahami dulu apa itu puasa?

Puasa menurut bahasa yaitu menahan, sedangkan menurut istilah yaitu menahan diri dari segala perkara seperti makan, minum, dan hubungan kelamin, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, karena mencari Ridha Allah .Dalil Al-Qur’an yang mewajibkan puasa terdapat dalam firman Allahyaitu surat Al-Baqarah ayat 183 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Upaya Guru Untuk Membiasakan Murid Berpuasa
Seorang guru diteladani karena kekuatan pribadi atau karisma melalui integritasnya, dan dihormati karena tindakannya, bukan karena status atau pangkatnya. Para murid biasanya lebih mempercayai apa yang dibicarakan atau diajarkan oleh gurunya dibandingkan dengan orang tuanya. Maka dari itu sebagai seorang guru yang ingin menularkan "karakternya" kita harus mampu mengambil inisiatif dalam perilaku. Yang berarti bukan hanya memerintah saja tetapi mulai melakukan dari dirinya sendiriselanjutnya memastikan bahwa mereka dapat mencontoh dan melaksanakan nilai-nilai yang dilakukannyakita sesuai dengan pepatah jawa yaitu  "Guru, digugu lan ditiru".

Sebagai awalan, kita sebagai guru yang selalu berada dengan mereka dan yang juga menjadi orang tua kedua dari para peserta didik bisa mulai melakukan pengenalan mengenai apa itu puasa, mengapa kita harus ikut berpuasa sejak kecil, dan juga lain hal yang mencakup tentang puasa. Tetapi, jangan sampai penjelasan kita terlalu berat bagi mereka hanya hal-hal kecil yang bisa menimbulkan rasa ingin ikut serta terhadap apa yang kita. 

Di usia ini pun anak mulai mampu untuk berbagi dengan disertai peningkatan kepekaan akan perasaan orang lain. Mereka pun cenderung untuk menyenangkan orang lain seperti terhadap orang dewasa atau sebayanya. Pelibatan di kegiatan seputar Ramadhan pun bisa menjadi alternatif. Seperti menyiapkan makanan berbuka untuk dibagikan pada orang lain atau sedekah pakaian layak pakai. Pelibatan ini dapat menjadi salah satu media untuk memahamkan anak mengenai ibadah shaum. Karena di usia ini, anak menyukai ketika dirinya dapat diakui dengan memberikan bantuan. Jikalau tidak bisa selalu dengan aksi nyata, bermain pura-pura tetap memberikan perasaan dan tantangan yang relatif sama bagi anak seusia ini. Sisipkan pula pemahaman mengenai kemuliaan berbagi di bulan Ramadhan. Untuk menyisipkan pemahaman ini orang tua dapat melakukan role play. Dengan cara ini anak belajar menempatkan diri di posisi orang lain. 

Sedangkan untuk anak usia 6-7 tahun, pemahaman akan ibadah shaum dapat diberikan lebih dalam dengan pelibatan akan kegiatan yang lebih kompleks. Di usia ini, mereka mulai memahami hubungan sebab-akibat, berpikir lebih logis, dan mulai berkurang egosentrismenya sehingga mulai berkembang kemampuan berpikir objektifnya. Pendekatan yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan secara langsung, belum dengan sekedar membayangkannya.

Di usia ini pula biasanya anak-anak mulai membandingkan dirinya dengan hal-hal yang dilakukan oleh lingkungan. Dengan lingkungan yang mendukung dan teman-teman yang juga melaksanakan shaum, anak menjadi lebih terlatih untuk membiasakan diri. Diskusi pun perlu untuk dilakukan di usia ini. Karena bisa jadi tidak semua orang atau teman di lingkungan terdekatnya melaksanakan ibadah shaum. Dengan dialog ini diharapkan pemahaman anak akan lebih terbangun.

Penyisipan nilai-nilai serta pemahaman akan manfaat ibadah shaum dapat orang tua mulai sebelum bulan Ramadhan tiba. Dengan begitu anak akan memasuki Ramadhan dengan kesiapan yang berbeda. Lalu kita bisa mebiasakan untuk mengadakan kegiatan rutin yaitu puasa sunnah setidaknya satu bulan sekali. Dimulai dari hal kecil seperti itulah mereka biasa mulai membiasakan diri dan mulai tertantang untuk puasa. Mungkin mereka memulai dari satu bulan sekali lalu kemudian bisa saja kita beri pacuan lagi agar mereka bersemangat untuk berpuasa maka mereka seketika berlomba-lomba untuk banyak-banyakan puasa.

Kesimpulan 
Jadi sedikit kesimpulan dari penjelasan diatas yaitu “Pembelajaran Fiqih” adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas berfikir siswa dalam bidang syari’at Islam sehingga siswa mampu menguasai materi tersebut dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap serta tingkah laku anak didik ke arah kedewasaan yang sesuai dengan syari’at Islam. Selanjutnya dari salah satu materi pembelajaran fikih di MI yang saya pakai di artikel ini yaitu puasa yang bermakna menahan segala perkara seperti makan, minum, dan hubungan kelamin, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Dan upaya seorang guru agar peserta didik dapat kita biasakan berpuasa mulai kecil yaitu bisa dengan kita latih bersama-sama untuk puasa bersama pada hari senin dan kamis setidaknya kita latih satu kali dalam sebulan dan hingga lama kelamaan bisa kita tambah lagi dengan beberapa cara agar anak-anak bisa mulai terbisa dengan kegiatan berpuasa.


By : Siti Aisyah

Berlangganan via Email