Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Gus Miek: Lahir Sebagai Pemangku Kebesaran


Gus Miek

Semasa kecil KH. Djazuli Utsman bernama Mas'ud. Lahir pada 16 Mei 1900 di Ploso Kediri, dalam lingkungan keluarga Naib (penghulu urusan agama Islam tingkat  kecamatan). Dia menyelesaikan pendidikan di Inlandsch Vervolgh Schoool (setingkat SLTP) selama 2 tahun. Kemudian melanjutkan belajar di Hollandsch Inlandesche School (setingkat SLTA) di Gringging Kediri. Setelah tamat, Mas'ud meninggalkan Kediri untuk melanjutkan belajar di Stovia (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) pada usia 16 tahun.

Mungkin disebabkan oleh pertimbangan lain dari KH. Ma'ruf, Kedunglo, seorang tokoh kharismatik yang termasyhur kewaliannya, Ma'sud terpaksa keluar dari fakultas kedokteran dan melanjutkan belajar di pondok pesantren. Di antara pesantren yag perah disinggahi oleh Ma'sud adalah Pesantren Gondanglegi Nganjuk, yang diasuh oleh KH. Ahmad Sholeh, Pesantren Sono Sidoarjo, Pesantren Sekar Putih Nganjuk, yang diasuh oleh KH. Abdul Rohman Pesantren Mojosari, Nganjuk, yang diasuh KH. Zainudin (Kiai ini kelak menikahkan Ma'sud dengan salah putri angkatnya bernama Badriyah dari putri KH. Khozin Widang Langitan Babat Tuban).

Mas’ud juga pernah belajar kepada Syaikh Al-Alamah al-'Aidrus di Jabal Hindi Makkah, saat menunaikan ibadah haji. Sepulang haji Mas'ud kemudian meneruskan belajarnya di pesantren Tebuireng jombang, dibawah asuhan KH. Hasyim Asyari karena istrinya meninggal saat mas'ud belajar di makkah. Di pesantren Tebu Ireng Mas'ud malah disuruh membantu mengajar tafsir dan sering mewakili pesantren Tebuireng kesejumlah pertemuan dengan para tokoh  nasional untuk membahas berbagai persoalan hukum.

Dari pesantren Tebuireng mas'ud berganti nama menjadi KH. Djazuli. Ia menikah lagi dengan Hannah, Putri Kiai Muharrom Karangkates ,dan meneruskan kepesantren Termas, yang diasuh oleh KH. Dimyati, adik KH. Mahfuzh At-Tarmasi. Garis keturunan KH. Djazuli adalah  KH. Djazuli Utsman Mas Mohair. Utsman-Mas Mohair, Sahal-Zaenal Abidin atau Mbah Joyoulama yang dimakamkan di Mojo Kediri-Suroudo atau Syaikh Yusuf yang dimakamkan di Madura-Mbah Dipoyono atau Imam Nawawi Mbayat-Joyodipo atau Imam Syafi'i-Lodang Joyo-Wirabumi-Kertowijoyo-Tribuana Tungga Dewi, (tapi bukan dengan Kudamerta)-Raden Suruh-Munding Wangi-Munding Sari-Bani Lalijan.

Keagungan Yang Mistrius
Suatu hari, pada 17 Agustus 1940 seorang bayi mungil lahir dari keluarga KH. Djazuli. Kelahiran ini sangat dinanti-nantikan sang ibu karena semasa dalam kandungan, sang ibu sering mengalami peristiwa-peristiwa dan mimpi-mimpi luar biasa yang belum pernah dialami sebelumnya sang ibu telah melahirkan sebanyak 4 kali. Pada saat-saat tertentu mimpi-mimpi seperti itu memiliki arti penting dan bisa dijadikan isyarat karena merupakan ilham yang dikaruniakan Allah melalui jalan mimpi.

Bayi yang telah dinantikan tersebut adalah Gus Miek. Konon, saat melahirkan Gus Miek sang ibu menerima tamu tak dikenal yang menyerahkan gabah (padi) yang sangat banyak untuk persiapan pesta menyambut kelahiran anaknya. Jika dirunut jauh kemasa berikutnya, terbuktilah kenyataan bahwa sepanjang perjalanan Gus Miek bersama pengikutnya, banyak sekali orang-orang disekeliling Gus Miek yang rela menyerahkan harta benda yang tidak ternilai kepadanya. Lepas dari apakah itu berkaitan dengan perjuangan Gus Miek atau sebatas pemberian yang bersifat pribadi. Ada yang memberikan mobil, rumah, hotel dan tanah. Akan tetapi, dari semua pmberian itu ada yang diterimanya dan ada yang diabaikannya. Dari sekian banyak pemberian itu ada yang bersifat ucapan terima kasih dan ada yang mengharapkan berkah darinya.

Anak yang baru lahir itu diberi nama lengkap Hamim Tohari Djazuli, yang lebih sering dipanggil Amiek atau Gus Miek, Ia tumbuh menjadi anak yang lucu. Gerak-geriknya halus dan lembut, seolah mencerminkan kehaluasan dan kelembutan hati tutur kata dan tingkah lakunya mengagumkan, membuat orang-orang yang dekat dengannya merasa teduh tenang penuh kedamaian dan perhatian yang tulus.

Gus miek kecil ketika berjalan selalu merundukkan muka, seolah mencerminkan rasa kerendahan hati yang mempesona. Langkahnya pelan dan penuh  kehati-hatian dan ketenangan membuat orang yang melihatnya terpukau dalam keanggunan dan keheningan prilakunya. Dia tak banyak bicara dan suka menyendiri, berbeda dengan saudara-saudara lainnya.

By : Siti Nurhidayah

Berlangganan via Email