Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Tantangan Menjadi Guru MI dan Korelasi Orang tua di Era Modern?

Madrasah Ibtidaiyah atau lebih sering disebut MI adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal yang ada di Indonesia, setara dengan Sekolah Dasar, yang pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Pendidikan MI ini di tempuh selama 6 tahun. Lalu apa yang menarik dari pendidikan MI ini? Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah sama dengan kurikulum Sekolah Dasar, hanya saja pada MI terdapat porsi lebih banyak mengenai pendidikan agama islam. Sebagaimana pendidikan pada SD namun ditambah dengan  pelajaran-pelajaran agama seperti;Alquran dan Hadist, Akidah dan Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) serta Bahasa Arab.

Kesimbangan Hidup


Madrasah Ibtidaiyah menawarkan pendidikan yang kental dengan keislaman, pembangunan karakter yang dimulai sejak awal masuk, penanaman akhlakul karimah yang sudah dibiasakan sejak kelas satu menjadi tolok ukur kesuksesan Madrasah. Dapat kita jabarkan bahwa akhlak adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan baik. Atau lebih singkatnya tingkah laku. Penanaman akhlak mulia sesuai dengan kaidah-kaidah islam yang telah dipelajari dalam setiap pembelajaran. Tidak hanya dalam pembelajaran saja penanaman itu berlaku, akan tetapi dalam setiap interaksi yang dilakukan oleh siswa-siswi terhadap seluruh warga Madrasah. Hal inilah yang diharapkan oleh setiap orang tua dalam memberikan pendidikan yang akan membawa putera-puterinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi selain penanaman yang telah diberikan oleh orang tua masing-masing dalam kehidupan sehari-harinya.

Di era modern seperti ini, anak akan lebih terbawa arus teknologi yang semakin canggih, semakin berkembangnya teknologi semakin berkembang pula daya pemikiran anak yang mengikuti perubahan zaman. Jika berdampak positif maka akan menjadi lebih baik bagi anak, namun jika sebaliknya, saat teknologi mulai berkembang pesat akan tetapi berdampak buruk bagi anak itu yang akan menjadi tantangan terbesar.

Menjadi seorang guru, apalagi seorang guru Madrasah tidaklah mudah untukdilakukan sebagian orang. Mungkin dapat dikatakan hanya beberapa orang saja yang mampu menjalani profesi ini, berkutat dengan berbagai macam perangkat, mengajar materi bahkan bukan hanya materi saja yang harus diajarkan oleh guru Madrasah, akan tetapi pembelajaran tentang bagaimana sikap sopan, santun, dan tawaddu’.

Ulet dan tidak suka mengeluh serta kreatif adalah tantangan yang harus dijalani oleh guru Madrasah Ibtidaiyah. Bagaimana tidak? Dengan adanya Kurikulum terbaru mengharuskan guru untuk bekerja lebih ulet dan kreatif  dimana setiap pembelajarannya minimal menggunakan media yang konkrit agar memudahkan siswa dalam menangkap pembelajaran. Ditambah lagi akan menyongsong era digital 5.0 (five poin zero) yang kemungkinan terbesar akan terjadi dimana siswa Madrasah Ibtidaiyah sudah mulai menggunakan gadget sebagai sarana pembelajarannya.

Hal itu juga akan berpengaruh dalam mendidik siswa untuk tetap pada jalur yang positif dan bijak dalam penggunaan gadget, guru harus lebih menguasai apa yang dikuasi oleh siswanya untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan oleh guru beserta orang tua.

Korelasi antara guru dan orang tua juga sangat dibutuhkan dalam menyukseskan pembelajaran saat ini, guru sebagai sarana pencerdasan anak dan orang tua sebagai motivator dalam korelasi ini. Guru tanpa dukungan dari orang tua siswa juga akan berdampak kurang baik, tatap muka guru dan siswa hanya terjadi pada saat mereka berada dilingkungan sekolah saja yang biasanya Cuma 8 jam sehari. Sedangkan orang tua memiliki waktu yang jauh lebih banyak untuk tatap muka dan mengajarkan segala hal kepada anaknya.

Menjadi guru dan orang tua di era seperti ini harus selalu waspada dan harus selalu update tentang perkembangan dunia digital, meraka harus jauh lebih luas dan menguasai semua aplikasi yang digunakan oleh anaknya agar mudah untuk memantau apa yang sedang dilakukan oleh anaknya. Sesuai dengan kaidah peran orang tua dalam dunia pendidikan yang utama adalah merekalah yang memiliki tanggung jawab, kewajiban dan kuasa untuk menjadikan anak seperti apa yang terkadang keterbatasan kemampuan, keterampilan, pengetahuan, teknik dan keahlian yang dimiliki oleh orang tua berbeda-beda untuk itu Negara memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka dengan mengadakan sekolah. guru yang memilki kewenangan untuk memberikan pendidikan yang dipercayakan oleh orang tua dan Negara kepada mereka, namun perlu di ingat. Mereka bukan mengambil alih dan menjadi tumpuan satu-satunya pendidik bagi pendidikan anak.

Dan sebagaimana peran guru dalam dunia pendidikan secara luas seharusnya guru berperan sebagai konsevtor, innovator, transmitor, transformator, organisator. Menurut Mendikbud bahwa kunci sukses pendidikan itu di tangan guru dan sebagai ujung tombak peningkatan mutu pendidikan. Guru yang berwawasan global adalah guru yang memiliki pemahaman akan pentingnya teknologi internet dan mampu memanfaatkannya dalam pembelajarannya. Guru juga dituntut untuk bias menyampaikan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman seperti model dan strategi yang dimilki guru haruslah bervariasi. Guru juga harus dapat mengembangkan kreatifitas dan potensi masing-masing siswa, pola pembelajaran tradisional atau lebih dikenal dengan model pembelajaran demonstrasi yang berpusat pada guru cenderung pasif untuk digunakan pada era seperti ini. Untuk itu, guru lebih disarankan untuk berpusat pada siswa dalam pembelajaran agar siswa dapat mengeksplore pengetahuan serta bakat minatnya mulai Madrasah.

Dengan adanya computer internet dapat menjadi media pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk dapat mencari informasi-informasi tentang materi yang dipelajarinya. Guru tinggal menciptakan sarana untuk merangsang potensi belajar siswa. Gaya pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan menjadi PR terbesar bagi semua guru, menciptakan suasana yang kontekstual sehingga mudah dimengerti, tidak terlalu larut menjelaskan dalam setiap pembelajaran.

Jadi, hubungan antara guru dan orang tua harus sejalan seiring berkembangnya teknologi dan pembelajaran agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan Negara, guru dan orang tua. Hubungan ini harus terus terjalin selama siswa menempuh pendidikan Madrasah, komunikasi keduanya juga harus lebih ditingkatkan lagi untuk menjaga dan memantau siswanya saat berada di rumah begitu pun sebaliknya agar orang tua dapat tetap memantau anaknya saat berada di lingungan sekolah.

By : Elvira Rodhiatus Sholiha

Berlangganan via Email