Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAGAIMANA MEMAKNAI TAHUN BARU 1437 H

Islam hadir sebagai perubahan dari jaman jahiliah menuju peradaban keIslaman yang maju sebagai rahmatal lil alamin, perjalanan panjang menjadikan sebuah history pelajaran penting bagi kita semua dalam memaknai esensi dan manifestasi hijrah, tidak hanya secara batinia bahkan tingkatan rohania. Kehidupan memerlukan individu yang survive dalam menghadapi kondisi sosial, ekonomi budaya dan agama pada abad 21 ini sebagai tantangan besar yang harus dipecahkan persoalannya. Jadi perlu sebuah perenungan diantara kita dari hijrah itu sendiri.

Memaknai Tahun Baru Islam


Kata muharram berasal dari kata “harrama” yang mengalami perubahan bentuk menjadi “yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun“. Bentukan “muharraman” berarti yang diharamkan. Apa yang diharamkan ? Perang atau pertumpahan darah! Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At Taubah ayat 36 : “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada 12 bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat 4 bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan”.

Secara harfiah hijrah artinya berpindah menuju suatu tujuan yang diharapka. Secara istilah ia mengandung dua makna yaitu, hijrah makani dan hijrah maknawi. Hijrah makani artinya hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik dari negeri kafir menuju negeri Islam yang menyelamatkan. Adapun hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik terpuji dan luhur, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keIslaman. Makna terakhir oleh Ibnu Qayyim bahkan dinyatakan sebagai al-hijrah al-haqiqiyyah. Alasannya hijrah fisik adalah refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri. Dua makna hijrah tersebut sekaligus terangkum dalam hijrah Rasulullah SAW dan para sahabatnya ke Madinah.

Pesan besar dalam isi tahun baru hijriah sebagai momentum bagi masyarakat Indonesia menuju perubahan individu yang memiliki daya saing dan kualitas IPM maupun SDM sebagai negara berkembang menuju negara maju dan berperadaban yang tidak hanya terletak pada nilai spiritual bahkan yang lebih penting tingkat nilai-nilai keIslaman yang termanifestasi pada kehidupan sholeh sosial dimasyarakat. Nilai ajaran tahun baru hijrah sebagaimana dikatakan “al-qodhi abu ya’la rahimahullah dan ibnu ‘abbas pertama pada bulan tersebut diharamkan pembunuhan pada masa rasulullah (apa masih terjadi sebuah pembunuhan tiap hari di masyarakat kita yang haram darahnya?), kedua larangan untuk melaksanakan perbuatan haram (maksiat dan dosa) banyakkah masiat maupun perbuatan dosa yang dilakukan dengan terang-terangan saat ini?, padahal dalam bulan ini disebut bulan syahrullah (bulan Allah), Apakah kedua makna nilai terimplementasikan pada kehidupan kita semua, jawablah sendiri!.

Pesolaan bangsa terakumulasi dari individu yang memainkan peranan penting menuju suatu perubahan tindakan nyata sebagai indikator keberhasilan sebuah agama dalam membentuk manusia se-utuhnya insan al kamil (paripurna), bahwa nilai-nilai keIslaman bisa diperhatikan dari kemantaban aqidah, ibadah, akhlak (karakter) yang tercermin dari tindakan teladan, sikap (etitude), perbuatan bahkan toleransi keberagamaan dari berbagai suku aliran dikehidupan selalu rukun, damai, aman dan sentosa yang dicita-citakan bangsa dengan slogan “binika tunggal ika”.

Suksesnya suatu hijrah dapat kita pahami bersama bahwa tidak hanya dari sisi spiritualitas rohania saja, tetapi jasmania bahwa bangsa indonesia yang mayoritas Islam masih menduduki angka kemiskinan tertinggi, kualitas pendidikan terendah bahkan tingkat kuantitas riset jauh dari negara tetangga serta harapan lulusan dari lembaga pendidikan belum sesuai tujuan pendidikan nasional, yang lebih menghuncang dunia ialah bahwa negara kita Islam terbesar penganutnya, akan tetapi bentuk korupsi yang sangat memperihatikan sebagaimana hasil survey beberapa tahun oleh salah satu jurnal (Berkeley-based Global Economy Journal) pada 2010 tentang "How Islamic are Islamic Countires? atau seberapa jauh negara Islam itu Islami? ternyata Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia berada di peringkat bawah bersama negara-negara Muslim lainnya. Sementara Selandia Baru sebagai negara non Muslim ditempat pertama disusul Luxembourg dan negara-negara non Muslim lainnya. Ini menunjukkan ternyata negara non Muslim dinyatakan lebih "Islami" dibanding negara Muslim.

Mayoritas penduduk muslim tiada akan menjamin bahwa nilai-nilai keIslaman akan termanifestasi didalam kehidupan dalam menuju hijrah yang “sesungguhnya” perlu adanya penyadaran dan kesadaran dalam pelakonan dikehidupan, agar segalanya berjalan sesuai maksud dan tujuan diciptakannya manusia sebagai khalifah dimuka bumi sebagai uswatun hasannah. Aspek yang sangat orgen yang perlu dihadirkan ialah integritas, kejujuran, ketekunan, disiplin, komitmen dan peran tindakan yang selalu aktif, kratif, afektif, inovatif, produktif, solutif, imajinatif, dan konstributif inilah yang sesungguhnya di dambahkan dan di inginkan bangsa Indonesia saat ini sehingga Islam yang hadir di bumi Indonesia (Nusantara) ini tiada dipertanyakan keberadaannya yang menjadikan ajaran Islam yang begitu sayaratnya dengan nilai-nilai luhur tersebut tidak tampak secara terang benderang di bangsa kita ini yang mendapat predikat penduduk Islam terbesar di dunia. Instropeksi dan evaluasi besarlah jawaban bagi masyarakat, pemerintah Indonesia dan juga masyarakat muslim semua mengapa nilai-nilai Islam tidak menjadi ruh kehidupan mereka sehingga dapat membumi dan mencari makna sesungguhnya hijrah secara kaffah menuju peradaban emas di era abad 21 ini menuju tahun baru hijriah 1437 H.

By : Taseman

Berlangganan via Email