Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TANTANGAN BESAR MAHASISWA DALAM ERA GLOBALISASI

Menyandang sebuah gelar keserjanaan  dalam dunia akademika bagi mahasiswa tidaklah cukup untuk menghadapi era modernisasi dan globalisasi pada abad 21. Kemampuan soft skill dan hard skill sangat mempengaruhi elanvital dalam kontestasi perebutan kesempatan dalam mendapatkan pekerjaan dalam aspek kehidupan kesemuanya. Terutama bagi mahasiswa baru dalam memasuki pendidikan di perguruan tinggi ia harus mampu beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat kampus, dan ia juga digadang-gadang mampu mewakili segenap anak bangsa sebagai agen perubahan dan agen control social system pemerintahandan juga di masyarakat. Tidak hanya kewajiban kuliah (datang, duduk, dengar dan mencacat), akan tetapi mampu menjunjung Tri Darma Perguruan Tinggi: Pendidikan/Pengajaran, Research/Penelitian serta Pengabdian pada Masyarakat lah yang akan di tunggu-tunggu hasilnya.

Tantangan abad 21 bagi Mahasiswa

Peran penting yang disandang mahasiswa ialah, bagaimana ia mampu merepresentasikan diri secara personal di dalam masyarakat dengan memiliki wawasan ilmu secara mendalam hingga mampu diamalkannya serta menjadi manusia intelek, professional di jamannya. Akan tetapi mahasiswa perlu proses dalam membangun kehidupan kademisi yang bagus melalui latihan ikut dalam organisasi yang mewadahi dalam menimbah pengalaman dan pengetahuannya, yang bukan hanya diperoleh dari bangku kuliah, akan tetapi ikut peran aktif dalam sebuah organisasi extra maupun intra yang diwujudkan melalui aktivitas kehidupan ilmiah kampus yang di isi dengan perkuliahan, diskusi ilmiah, ataupun kajian ilmiah bahkan riset dan kerja social. Bebarapa catatan yang bisa kita kutip, mengapa kampus yang bernama university of harvard menjadi kampus the wahid?, apa jawabannya.

Kampus Harvard memiliki tiga kunci element penting bagi mahasiswa yang benar-benar menekuni bidang keilmuan social dan sains yang ia tinggali, pertama: adanya kelas yang nyaman mampu mendukung kegiatan pembelajaran alias perkuliahan, kedua: adanya library/perpustakaan kampus yang memadahi serta mendukung bahan kepustakaan dalam proses belajar mahasiswa dalam menyediakan koleksi sumber-sumber yang relevan, ketiga: tersedianya laboratorium yang representative dalam mendukung proses penelitian dalam bidang pengembangan kajian social sains, sehingga mahasiswa yang melakukan kajian keilmuan tiada tanggung-tanggung dalam menuangkan ide kreatifitas berliannya dari penelitian dan pengembangan tersebut.

Melihat kenyataannya perlu kita renungkan bersama lagi, bahwa standar pendidikan kita masih berproses pada pemenuhan dan penyiapan sarana serta hal-hal yang bersifat teknis, belum menyentu ranah subtansinya, sehingga hanya persoalan-persoalan luarnya yang digarap pada kajian epistimologis, sedangkan belum menyentu ranah ontologis dan aksiologi nya. Sehingga perlu kesadaran bersama terutama bagi mahasiswa baru yang benar-benar ingin memasuki dunia totalitas diperguruan tinggi, perlu upaya mempersiapkan diri secara matang, baik niat serta keinginan maupun kemauannya untuk berkanca dalam dunia civitas akademika bagi seorang intelektual muslim.

Keadaan menunjukan bahwa saat ini mahasiwa mengalami dieas orientasi keilmuan, maksud tujuan dari ia menuntut ilmu adalah bukan memanusiakan manusia, akan tetapi berorientasi pada aspek matrial/matrialisme demi mendapatkan pekerjaan, yang mapan, gaji yang besar saatmemasuki dunia kerja cita-cita yang didapatkannya, sehingga terkesan sekedar pragmatis yang hanya mengugurkan persoalan formalitas, selesai semuanya sudah lulus dapat ijazah seperti itu, akan tetapi mengikuti proses didikan yang ada wadanya, seperti aktif disalah satu organisasi sebagai upaya pengembelengan diri untuk menyiapkan pengetahuan melalui diskusi, interaksi, komunikasi yang dibangun guna memiliki pengalaman serta networking dalam upaya nya membelajarkan diri. Tidaklah muda bagi seorang mahasiswa dalam studi akademisnya yang dituntut untuk lulus tepat waktu serta mendapatkan nilai IPK camloud, perlu kerja keras dan cerdas.

Salah satu tempat pembentukan karakter pergerakan yang menjadi basic untuk mencetak suatu mindset bagi mahasiswa adalah dengan ikut peran aktif dalam suatu organisasi intra maupun ekstra kampus, yang diharapkan mereka mengetahui dan mendalami bagaimana proses-proses kegitan kampus berjalan. Salah satu tawaran bagi mahasiswa adalah ikutlah PMII yang berideologi NU (Ahlussunnah Wal Jama’ah) aswaja yang didirikan pada tanggal 17 April 1960 an, dengan prinsip: (Ukhuwah Islamiyah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Mabdi Khoiru Ummah, Al-Musawah serta Hidup Berdampingan dan Berdaulat Secara Penuh)yang mengutamakan nilai-nilai zikir, fikir dan amal sholeh sehingga terbentuk insan yang relegius, insan dinamis, insan sosial dan insan mandiri, inilah yang digadang-gadang menelurkan insan cendikia, professional dan intelektual muslim.

Mengapa perlu wadah bagi mahasiswa dalam menempah dirinya saat dibangku perkuliahan, Karena dengan ikut serta proses dalam berorganisasi mahasiswa mampu menunjukan kemampuannya dalam bidang leadership, manajerial (Planning, Organizing, Staffing, Leading/Directing, Controlling) baik secara kelompok maupun individu yang dibangun dari diri yang ikut terlibat dalam proses kegiatan yang ada di organisasi tersebut. Bukan hanya itu proses internalisasi dan intraksi bahkan sosialisasi menjadi wahana dalam budaya ilmiah yang dibangun dalam mewujudkan insan-insan cendikia yang humanis, tolaran dan berkepribadian yang memiliki karakter sesuai dangan landasan makna filosofis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).


Refrensi:
M. Arfan Mu’ammar. Studi Islam: Perspektif Insider/Outsider. Jogyakarta: IRCiSoD. 2013
Musthofa Rembongy. Pendidikan Transformative: Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Global. Yogyakarta: Teras. 2008
Nurani Soyomukti. Pendidikan Berperspektif Globalisasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2008
Website resmi: www.pmii.or.id)seabagai sumber utama

Berlangganan via Email