Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

APA SAJA MACAM-MACAM STRATEGI DALAM MENGATASI TINDAKAN BULLYING DI SEKOLAH DASAR?

Pendidikan merupakan salah satu infrastruktur vital dalam membangun peradaban dan kemajuan suatu bangsa. Dalam artian, maju atau tidaknya suatu bangsa ataupun negara sangat bergantung terhadap proses pendidikan yang berjalan didalamnya. Maka, dalam konteks ini perkembangan dan pembangunan dari sektor pendidikan menjadi nilai yang sangat penting, karena pondasi sebuah bangsa terletak pada sektor pendidikannya. Begitupun dengan Bangsa Indonesia, meskipun terbilang negara berkembang, Indonesia sangat menomersatukan pendidikan. Seperti bunyi penggalan kalimat pada alinea ke-empat Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi ”... mencerdaskan kehidupan bangsa” yang merupakan sebuah harapan leluhur bangsa Indonesia dalam memajukan pendidikan. Namun, sebuah harapan tidak mungkin terwujud begitu saja, banyak rintangan dan permasalahan yang harus dilalui. Salah satunya tindak bullying di lingkungan lembaga pendidikan atau sekolah.

APA SAJA MACAM-MACAM STRATEGI DALAM MENGATASI TINDAKAN BULLYING DI SEKOLAH DASAR?


Timbulnya tindak bullying terjadi karena berbagai macam hal, kepribadian seorang anak timbul dari setiap apa mereka lihat dan dengarkan, seperti yang kita ketahui di usia anak-anak, khususnya di usia Sekolah Dasar, umumnya belum bersifat mandiri, belum ada rasa tanggung jawab pribadi, serta belum bisa berpikir secara kritis sehingga anak usia Sekolah Dasar yang menjadi pelaku tindak bullying tidak memiliki dukungan dan rasa peduli yang diajarkan oleh orang dewasa. Sehingga mereka pelaku bullying menganggap apa yang ia lakukan sah-sah saja. Orangtua mungkin tidak tahu apa saja yang dilakukan anaknya ketika disekolah. Padahal yang dilakukan oleh anaknya merusak psikis korban yang notabennya teman sekolah pelaku. Bullying tidak memilih umur atau jenis kelamin korban. Seorang  korban  bullying umumnya merupakan anak yang lemah, pemalu, pendiam dan spesial (cacat, tertutup, pandai, cantik, atau  punya  diri  tubuh  tertentu),  yang membuat hal tersebut  menjadi  bahan ejekan 

Maka dari itu bullying harus dihindari dan diantisipasi karena bullying menimbulkan berbagai dampak, seperti korbannya berpikir untuk tidak berangkat ke sekolah karena di sekolahnya ia akan dibully oleh si pelaku. Dan kemungkinan terburuk, bullying juga mengakibatkan efek bullying yang berlangsung seumur hidup berupa kurangnya percaya diri pada diri korban dalam bergaul dengan lingkungannya, karena luka psikis yang masih membekas bertahun-tahun setelah tindak bullying yang menimpanya.  Bullying merupakan tsebuah tindakan berupa penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga para korbannya merasa trauma, tak tenang, tertekan, dan tak berdaya.  Saat ini, bullying sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Pelaku bullying disebut dengan bully. Bully sendiri tidak memandang gender atau usia target, namun saat ini sedang marak tindakan bullying di lingkungan anak-anak, terutama sekolah.

Perilaku tidak terpuji berupa bullying ini masih terjadi di beberapa sekolah. Contohnya di Sekolah Dasar Negeri Banyumanik VI Semarang, peneliti mendapat data yang cukup mencengangkan. Sebanyak 50,65% kuisioner siswa, menunjukkan bahwa mereka pernah menjadi korban bullying fisik maupun non-fisik. Bullying yang terjadi di kalangan siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri Banyumanik VI Semarang berlangsung di beberapa lokasi di area sekolah, baik yang dilakukan oleh teman sekelas maupun kakak kelas. 

Praktik bullying di sekolah seperti kasus diatas bisa kita sebut dengan school bullying. School bullying merupakan perilaku agresif serta negatif seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan berulang kali tanpa mempertimbangkan kerugian yang didapat korban, dimana seorang bully menyalahgunakan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya (korban) secara mental maupun fisik yang dilakukan di lingkungan sekolah.  Berikut beberapa faktor penyebab adanya bullying;
  1. Perbedaan kelas (senioritas), ekonomi, agama, gender, atnisitas/rasismea.
  2. Tradisi senioritas yang terjadi secara turun temurun.
  3. Keluarga yang tidak rukun.
  4. Situasi sekolah yang tidak harmonis dan diskriminatif.
  5. Karakter individu/kelompok yang memiliki rasa dendam atau iri hati, sehingga muncul adanya semangat ingin menguasai korban dengan kekuatan fisik. 


Berbagai macam faktor penyebab anak menjadi bully, diantaranya yaitu, karena mereka pernah menjadi korban bullying, ingin menunjukkan eksistensi diri, ingin diakui, pengaruh tayangan TV yang negatif, senioritas, menutupi kekurangan diri, mencari perhatian, balas dendam, iseng, sering mendapat perlakuan kasar di rumah dan dari teman-teman, ingin terkenal  dan ikut-ikutan.  Pada masanya, seorang remaja secara harfiah memiliki keinginan untuk tidak lagi tergantung pada keluarganya kemudian mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok sebayanya.  Selain itu, peran orang tua tentu sangat berpengaruh terhadap perilaku peserta didik khususnya seorang bully. Contohnya Orang tua yang biasa menggoda anaknya sering kali tidak sadar telah membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada orang tua untuk tidak menggodanya, orangtua malah semakin senang telah berhasil membuat anaknya kesal atau malu, seorang anak akan meniru perilaku semacam ini kepada teman sebayanya yang secara langsung mengakibatkan adanya bullying. 

Permasalahan apapun pasti memiliki dampak bagi pelaku ataupun korban begitu pula dampak bullying bagi siswa di sekolah. Oleh karena itu gejala-gejala dampak bullying perlu diketahui guru ketika di sekolah yang diantaranya yaitu, mengurung diri (school phobia), menangis, minta pindah sekolah, konsenterasi anak berkurang, prestasi belajar menurun, tidak mau bermain/bersosialisasi, suka membawa barang-barang tertentu (sesuai yang diminta “bully”), anak jadi penakut, marah-marah, gelisah, menangis, berbohong, melakukan perilaku bullying terhadap orang lain, memar, tidak bersemangat, menjadi pendiam, mudah sensitif, menjadi rendah diri, menyendiri, menjadi kasar dan dendam, ngompol, berkeringat dingin, tidak percaya diri, mudah cemas, cengeng(untuk yang masih kecil), mimpi burukdan mudah tersinggung.

Berbagai macam upaya guru dalam menangani tindak bullying, sebagai seorang guru hadapilah pelaku bullying dengan sabar dan jangan menyudutkannya dengan pertanyaan yang interogatif. Guru mengajak sang pelaku bullying untuk merasakan perasaan sang korban saat menerima perlakuan bullying, tumbuhkan empatinya. Angkatlah kelebihan atau bakat sang pelaku bullying dibidang yang positif yang kita ketahui, usahakanbuntuk mengalihkan energinya pada bidang yang positif. Kita mungkin bisa pelan-pelan mengajak sang pelaku bullying membantu korban bullying mengatasi kelemahan dan kekurangannya. Pelaku bullying seperti halnya anak-anak lain, memerlukan perhatian dan kepercayaan orang dewasa bahwa ia pun bisa menjadi seseorang yang bersikap, berperilaku dan bahkan berprestasi di bidang positif. 

By: Amira Fatin

Berlangganan via Email