Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAGAIMANA OPTIMALISASI PEMBENTUKAN KARAKTER DAN KEDISIPLINAN SISWA SEKOLAH DASAR AGAR TIDAK PUTUS SEKOLAH?

Karakter merupakan kualitas moral dan mental yang dimiliki seseorang yang terbentuk oleh pengaruh dari faktor bawaan dan lingkungan. Sebuah karakter berpotensi pada manusia sebelum ia dilahirkan, meskipun potensi-potensi tersebut diharuskan untuk dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Sedangkan menurut Mansur Muslich karakter memiliki arti cara berfikir dan perilaku dimiliki seseorang dapat menjadi ciri khas dari setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, dalam hal keluarga, masyarakat maupun negara.

OPTIMALISASI PEMBENTUKAN KARAKTER


Tujuan dari pembentukan karakter mendorong lahirnya anak-anak tumbuh berkembang dengan baik dengan kapasitas komitmen yang dimilikinya untuk melakukan berbagai macam hal yang baik dan benar serta memiliki tujuan hidup yang terarah. Pengetahuan yang dimiliki seseorang belum tentu dapat bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya, apabila tidak terlatih atau menjadi suatu kebiasaan untuk melakukan hal kebaikan tersebut. Karakter dapat mengakibatkan emosional dan kebiasaan diri.  Sehingga diperlukan tiga komponen karakter yang baik, yakni :
1. Pengetahuan moral (moral knowing)
Sebuah dimensi-dimensi pada moral knowing yang dapat mengisi ranah kognitif merupakan suatu kesadaran moral, pengetahuan yang meliputi nilai-nilai moral, penentuan dari sudut pandang, logika suatu moral, dan pengenalan diri.

2. Perasaan atau penguatan emosi (moral feeling)
Moral feeling merupakan penguatan sebuah aspek emosi pada siswa agar menjadi manusia yang berkarakter. Penguatan ini ada kaitannya dengan bentuk-bentuk sikap yang dirasakan oleh siswa, yakni kesadaran untuk menemukan jati dirinya, rasa percaya diri, peka terhadap derita yang dirasakan orang lain, cinta dalam suatu kebenaran, dapat mengendalikan diri, dan kerendahan hati yang dimiliki.

3. Perbuatan bermoral (moral action)
Moral action merupakan suatu tindakan moral hasil dari dua komponen karakter lain. Agar dapat memahami supaya seseorang melakukan perbuatan baik harus dilihat dengan tiga aspek lain dari karakter , meliputi : memiliki kompetensi, keinginan, serta kebiasaan. Daryanto dan Suyatri mengemukakan bahwa seorang guru berperan tidak hanya sekedar sebagai pendidik akademis, namun juga sebagai pendidik karakter, moral, dan budaya bagi semua siswa. Kerjasama antara guru dan orangtua adalah kunci utama untuk mewujudkan kesuksesan dalam membentuk karakter disiplin siswa. Tanpa adanya kerjasama antara guru dan orangtua, karakter disiplin pada diri siswa tidak dapat dibentuk. Ada empat hal dasar-dasar disiplin yang dapat diarahkan orangtua kepada anak, meliputi : orangtua memiliki pribadi yang konkret, anak memiliki pribadi yang konkret, situasi yang lugas di dalam kehidupan keluarga, dan suatu arah tindakan untuk anak supaya memiliki dasar-dasar disiplin diri serta mengembangkannya.

Tetapi kenyataanya di lapangan terjadi banyak permasalahan-permasalahan mengenai kerjasama antara guru dan orangtua. Orangtua banyak yang lebih mementingkan karir dibandigkan memberi sebuah perhatian pada pendidikan anak.  Upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementrian Pendidikan  Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk tiap-tiap jalur, jenjang, dan berbagai jenis stuan pendidikan.

Dalam hal ini waktu pembelajaran siswa di sekolah perlu dioptimalkan supaya peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, serta dalam hal pembentukan karakter.  Pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada tercapainya pembentukan karakter serta memiliki akhlak yang baik siswa secara utuh, terpadu, dan seimbang, yang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan.  Proses pembelajaran yang baik dapat diciptakan oleh sekolah yang tertib. Untuk menciptakan kedisiplinan pada siswa bertujuan supaya siswa sanggup memerintahkan diri sendiri. Semua siswa dilatih agar dapat menguasai kemampuan, serta melatih siswa supaya bisa mengatur dirinya sendiri. Supaya siswa mengerti kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. 

Untuk menanamkan kedisiplinan pada siswa adalah tugas utama seorang guru. Menanamkan kediiplinan siswa, ia harus memulai dari dalam diri kita sendiri terlebih dahulu. Setelah itu kita dapat mendisiplinkan orang lain, sehingga dapat sebuah ketenangan, ketentraman, dan keharmonisan. Darmodiharjo mengemukakan bahwa seorang guru tidak dapat mengajar secara efektif apabila ia sendiri tidak bisa mengetahui perihal yang menjadi keinginan siswa, dan seorang guru tidak dapat hidup dengan norma pancasila jika ia tidak yakin dan menghayati. Pada dasarnya setiap orangtua menghendaki supaya anak-anaknya dapat belajar di sekolah sampai pada perguruan tinggi. Dalam hal ini, upaya untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus dengan adanya berbagai usaha pencegahan sejak dini. Baik dilakukan oleh orangtua maupun masyarakat. Sehingga anak yang putus sekolah dapat dibatasi sekecil mungkin.

Untuk mengatasi hal tersebut harus dengan adanya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak. Dengan ini, tokoh masyarakat diharapkan untuk bisa menyadarkan orangtua anak tentang pentingnya pendidikan demi menjamin masa depan anaknya serta dapat meneruskan cita-cita orangtuanya. Siswa putus sekolah dapat disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi yang buruk. Chirtes mengemukakan bahwa ada empat faktor terjadinya putus sekolah, yakni : faktor keluarga, faktor berkaitan dengan sekolah, lingkungan sosial, dan faktor pribadi yang dimiliki siswa.

Faktor lain yang juga harus diperhatikan yakni : rendahnya kualitas pendidikan, ketidaksetaraan distribusi sumber daya sekolah, dan hambatan geografis yang bertempat tinggal di pedesaan. Putus sekolah dapat mengurangi kesempatan seseorang untuk mencapai sebuah kesuksesan pribadi di bidang aktivitas yang mereka inginkan. Suatu kegagalan dalam integrasi sosial dapat menyebabkan kebodohan pada anak, tenaga kerja murah, kemiskinan, dan kriminalitas. Di daerah-daerah yang tertinggal banyak orangtua yang berasal dari latar belakang pendidikan rendah. Oleh sebab itu, orangtua harus memberikan partisipasinya untuk mengatasi putus sekolah pada anak. 

Walaupun berasal dari keluarga yang tidak mampu, kemungkinan besar dapat berubah jika percaya bahwa sebuah pendidikan itu sangat berharga, kemudian jika mereka ingin melihat anak-anak mereka mengejar suatu pendidikan yang lebih baik dari mereka. Cara untuk mencegah terjadinya putus sekolah yaitu dengan membangun kemitraan sekolah, keluarga, dan masyarakat.untuk memaksimalkan sehubungan siswa di sekolah membutuhkan kerjasama serta kolaborasi antar sekolah, keluarga dan masyarakat, seperti yang dikemukakan oleh Goss dan Andren. Masalah putus sekolah tidak hanya tanggung jawab sekolah. Tetapi, juga merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.kemitraan masyarakat dan komunitas dapat memberikan pelayanan misalnya mengawal, memperhatikan dan membantu keluarga serta siswa yang berpotensi putus sekolah.

By: Fadliah Arifah Chafsoh

Berlangganan via Email