Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana PROBLEMATIKA PENERAPAN KURIKULUM 2013 DI MI MIFTAHUL ULUM?

Kurikulum Menjadi salah satu dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan, baik dalam negri, maupun luar negri. Karena tanpa adanya kurikulum mustahil pendidikan akan berjalan dengan baik, efektif, dan efeisien. kurikulum merupakan jantungnya pendidikan karena di dalam kurikulum terdapat rancangan pengaturan mulai dari tujuan, isi, bahan pengajaran dan cara yang akan digunakan pendidik agar dapat mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum di dalam UU No.20 Tahun 2003. Dengan adanya kurikulum yang dirancang dan disempurnakan di masa yang akan datang, maka akan dapat menambah kualitas pendidikan nasional di rana dunia dan juga dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia.

PROBLEMATIKA PENERAPAN KURIKULUM


Zaman akan terus berubah dan berkembang, begitu pula dengan dunia pendidikan. Agar tidak menjadi terbelakang di rana dunia, Indonesia terhitung setelah merdeka telah mengganti kurikulum sebanyak 11 kali perubahan. Kurikulum Indonesia terakhir berubah dari kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 (K13). Pergantian kurikulum pasti akan melalui beberapa tahap dan pertimbangan agar lebih efektif dalam pembelajaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pergantian kurikulum misalnya evaluasi secara menyeluruh kurikulum lama, analisis terhadap perkembangan zaman, penyusunan perangkat kurikulum, dan sosialisasi secara optimal.

Awal impelementasi kurikulum 2013 menuai banyak kontroversi. Banyak sekali perubahan yang terjadi dari kurikulum KTSP ke kurikulum 2013. Penyiapan kurikulum 2013 yang dianggap kurang maksimal karena tidak memperhatikan kesiapan pendidik dan peserta didik. padahal, kurikulum ini mencakup beberapa perubahan baik dari subtansi, implementasi, hingga evaluasi.  Adanya beberapa metode pembelajaran yang berubah membuat pendidik dan peserta didik bergeming. Seperti yang terjadi di salah satu madrasa di pinggiran kota gresik ini.

Salah satu madarasa ibtidaiyah di pinggiran kota gresik ini mungkin bisa menjadi contoh dari beberapa madrasa ibtidaiyah lainya. Di madrasa ini belum sepenuhnya bisa menerapkan kurikulum 2013, madrasa masih dalam transisi dari kurikuum KTSP ke kurikulum 2013. para pendidik sangatlah kebingungan untuk menerapkan kurikulum 2013, pendidik masih bingung metode apa yang harus di terapkan kepada peserta didik selama proses belajar mengajar, karena pendidik harus mampu memahamkan peserta didik lima mata pelajaran menjadi satu sebagaimana pelajaran tematik.

Sosialisasi yang dilakukan oleh pihak pemerintah belum dapat memahamkan pendidik bagaimana cara menilai menurut ketentuan kurikulum 2013. Berdasarkan keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan Nomor 66 Thaun 2013 tentang standar penilaian menyebutkan penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup : penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis fortofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian madrasah atau sekolah.

Para peserta didik juga belum bisa menerima materi yang ada di kurikulum 2013 dengan sempurna. Dalam penerapan kurikulum 2013 ini peserta didik dituntut untuk bisa lebih aktif. Berbeda dengan kurikulum KTSP, kurikulum 2013 peserta lebih banyak berbicara dengan cara diskusi kemudian dipresesntasikan. Sedangkan pendidik hanya mengarahkan dan memberi penguatan materi. Pembelajaran ini mengajarkan peserta didik untuk lebih bisa berkarya sesuai dengan minat, bakat, perkembangan dan psikologis yang mereka miliki.

 Bahkan sarana super canggih yang menjadi salah satu media dalam implementasi kurikulum 2013 ini pun belum masuk di madrasah. Meski sarana prasana kurang memadai para pendidik tetap berusaha  menjadikan kelas aktif dan produktif untuk mencapai tujuan kurikulum 2013. Adapun tujuan kurikulum ialah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manuasia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menumbuhan jiwa nasionalisme serta bertanggung jawab. Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermertabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan fungsi dari kurikulum 2013.

Penerapan Kurikulum


Kepala sekolah berusaha melakukan tugasnya dengan maksimal. Dengan melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan secara bertahap (satu persatu), agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan mudah. kepala sekolah juga mengistruksikan kepada para pendidik untuk kembali duduk di bangku kuliah, karena mayoritas pendidik di madrasa ini sudah senior dan bukan dari jurusan PGMI. Mungkin karena PGMI juga masih tergolong jurusan baru, dan belum ada dimasa pendidik duduk di bangku kuliah. Karena  seorang pendidik diwajibkan untuk menguasai materi yang akan di sampaikan kepada peserta didik baik didalam kelas maupun diluar kelas. Pendidik juga harus memahami dan dapat mengimplementasikan macam-macam pendekatan pembelajaran baik yang berpusat pada peserta didik maupun yang berpusat pada pendidik. Pendidik juga dituntut untuk mampu memahami dan menguasai strategi pembelajaran seperti bagaimana menarik perhatian peserta didik, memberi petunjuk cara mempelajari materi dengan mudah, membrikan stimulus, kesimpulan dan lain sebagainya.

Penerapan kurikulum 2013 ini bukan hanya melibatkan pendidik dan peserta didik. Akan tetapi peran orang tua juga ikut serta berperan dalam kurikulum ini. Dalam implementasi kurikulum dibutuhkan kerja sama yang erat antara pendidik, peserta didik, dan orang tua murid. Orang tua mendampingi peserta didik dirumah dan akan mendapatkan laporan hasil belajar yang berbentuk rapor dan sebagainya dari pendidik. Bentuk penilaian dan hasil belajar peserta didik kurikulum 2013 berbeda dengan kurikulum yang sebelumnya. Sehingga orang tua murid masih merasa bingung dengan sistem yang baru. Pendidik mempunyai prinsip sebagai fasilitator dan mediator bagi peserta didik, sedangankan orang tua turut serta andil dalam mengawasi peserta didik selama mereka berada jauh dari jangkauan pendidik. Meski para orang tua masih merasa bingung dengan kurikulum 2013, akan tetapi mereka pasrahkan kepada pihak lembaga dan para pendidik untuk mendidik putra putrinya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Agar kelak putra putinya dapat mengharumkan nama bangsa dan agama.

Masyarakat sekitar sangatlah membantu dalam mewujudkan tujuan kurikulum 2013 ini. Seperti kerja sama antar wali murid untuk menciptakan suasana yang kondusif ketika sholat jamaah berlangsung, saling tolong menolong, saling tegur sapa ketika bertemu, tidak mengambil hak orang lain, menghormati yang lebih tua, mengasihi yang lebih muda, dan lain sebagainya. Lingkungan disekitar juga sangat mendukung berjalannya kurikulum ini, seperti melihat ekosistem tambak secara langsung, melihat rantai makanan, membedakan palawija dan lain sebagainya.

Daftar Pustaka
  1. Fadhilatur Rohmi, Rizki Ananda. “Analisis Kemampuan Guru Sekolah Dasar Dalam Implementasi Pembelajaran Tematik Di SD.” 2018 2 (t.t.): 11–21.
  2. M. Idris S. Si, Marno M. Pd. Strategi, Metode dan Teknik Mengajar. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, t.t.
  3. Muhammad Fadhillah M. Pd.I. Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, t.t.
  4. Rusmawan, Apri Damai Sagita Trisandi. “Kendala Guru Sekolah Dasar Dalam Implementasi Kurikulum 2018,” Oktober 2015.



By: Nailatul adibah

Berlangganan via Email