Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Upaya Meningkatkan Minat baca Pada sekolah SD?

Pendahuluan 
Membaca merupakan jendela dunia, karena dari kegiatan membaca manusia dapat mengetahui beberapa hal yang belum diketahui sevbelumnya. Selain itu, kegiatan membaca ini mempunyai pengaruh dalam  pengetahuan dan keterampilan seseorang. Semakin banyak membaca maka seseorang tersebut akan mendapatkan pengetahuan yang banyak serta semakin banyak membaca seseorang akan semakin banyak kemampuan yang didapatkan. Dalam artian, banyaknya pengetahuan dan kemampuan seseorang yangt telah didapatkan dari membaca maka akan membantu seseorang dalam melakuakan segala hal yang belum pernah diketahui dan dikuasainya. Akan tetapi, Indonesia merupakan negara yang minat bacanya sangat rendah dibandingkan negara lainnya. Sedangkan yang kita ketahui bahwa Pendidikan merupakan salah satu asset yang paling penting dalam suatu serta merupakan pondasi suatu bangsa atau negara.

Kegiatan membaca ini sangat penting dan diperlukan siswa dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan membaca memiliki banyak manfaat bagi siswa diantaranya dapat menambah pengetahuan dan kemampuan siswa, menambah pengetahuan kosakata yang dimiliki, serta dapat mengembangkan empat aspek keterampilan Bahasa. Akan tetapi, di era ini  banyak siswa yang tidak suka dengan kegiatan membaca. Rendahnya minat baca  ini yang menyebabkan rendahnya pengetahuan dan kemampuan siswa dalam memahami materi. Maka dari itu seorang guru harus mencari upaya yang dapat meningkatkan minat baca siswa, faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa dan strategi yang dapat mengembangkan minat baca siswa.

Meningkatkan Minat baca Pada sekolah SD


Pembahasan 
Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Budaya Literasi adalah suatu aktivitas literasi berfunsi sebagai kemampuan membaca, menulis, memandang, dan merancang beberapa hal yang mana disertai kemampuan berpikir kritis yang menyebabkan sesorang dapat berkomunikasi dengan efektif dan efesien sehingga menciptakan sebuah makna terhadap dunia (Kharizmi, 2015). Budaya literasi merupakan revisi dari kurikullum 2007 pada kurikulum 2013. Budaya literasi ini sangat dianjurkan untuk diterapkan disekolah guna meningkatkan dan memperbaiki mutu pendidikan.

minat baca merupakan kecenderungan  jiwa  yang  mendorong  seseorangberbuat  sesuatu  terhadap  membaca.  Minat  bacaditunjukkan  dengan  keinginan  yang  kuat  untuk melakukan    kegiatan    membaca.    Orang    yang demikian senantiasa haus terhadap bacaan. Minat membaca sangat berpengaruh terhadap keterampilan membaca. Berkaitan  dengan minat baca buku,terdapat dimensi minat baca yang  digunakan untuk mengetahui tinggi atau  rendahnya minat baca yang dikemukakan Kurniadi dalam Hardiansyah, yaitu: 1) Kunjungan perpustakaan, 2) Frekuensi membaca, 3) Waktu membaca, 4) Tujuan membaca dan 5) Kesenangan dan kebutuhan membaca Minat, kebiasaan, dan budaya baca merupakan  kata-kata  yang mengandung pengertian yang saling berhubungan. Minat seseorang terhadap sesuatu adalah kecenderungan hati yang tinggi, gairah, atau keinginan seseorang terhadap sesuatu Budaya adalah pikiran atau akal budi yang tercermin di dalam pola pikir, sikap, ucapan, dan tindakan seseorang didalam hidupnya.

Budaya diawali dari sesuatu yang sering atau biasa dilakukan sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau budaya. Budaya baca seseorang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakansebagian waktunya untuk membaca(Studi, Perpustakaan, & Padjadjaran, 2015).

(Sekolah & Negeri, 2018) Membaca adalah proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui bahasa tulis. Membaca pada dasarnya merupakan awal dari penguasaan ilmu. Semua ilmu yang ada di bumi ini tidak akan pernah bisa dipelajari jika tidak didahului dengan kemampuan untuk membaca. Dengan membaca diharapkan mata rantai dalam penguasaan sebuah ilmu tidak akan hilang. Mata rantai itu adalah mendengar, membaca dan melihat. Sebagai salah satu mata rantai dalam penguasaan ilmu, membaca untuk dijadikan sebagai kebiasaan atau bahkan budaya dalam kehidupan sehari-hari masih sulit dilakukan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Pertama, belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Role model anak di keluarga adalah orang tua dan anak-anak biasanya mengikuti kebiasaan orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengajarkan kebiasaan membaca menjadi penting untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Kedua, akses ke fasilitas pendidikan belum merata dan minimnya kualitas sarana pendidikan. Sudah menjadi fakta bahwa kita masih melihat banyak anak yang putus sekolah, sarana pendidikan yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar, dan panjangnya rantai birokrasi dalam dunia pendidikan. Hal inilah yang secara tidak langsung menghambat perkembangan kualitas literasi di Indonesia.  Terakhir adalah masih kurangnya produksi buku di Indonesia sebagai dampak dari belum berkembangnya penerbit di daerah, insentif bagi produsen buku dirasa belum adil, dan wajib pajak bagi penulis yang mendapatkan royalti rendah sehingga memadamkan motivasi mereka untuk melahirkan buku berkualitas(Witanto, Kristen, & Wacana, 2018).

Upaya meningkatkan minat belajar siswa (JURNAL PENA INDONESIA (JPI) Jurnal Bahasa Indonesia, Sastra, dan Pengajarannya, 2015) Upaya dalam meningkatkan minat baca masyarakat tidak dapat dibebankan pada keluarga saja, masyarakat saja, atau lembaga pendidikan saja. Aspek keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan mempunyai peran penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Ketiga aspek itu perlu dilakukan bersamaan. Guru dan pustakawan berperan penting dalam meningkatkan minat baca baca peserta didik maupun masyarakat.

Membangun Minat Baca


Agar dapat berperan meningkatkan minat baca, guru dan pustakawan harus mempunyai minat baca yang tinggi. Keteladanan perlu diberikan kepada masyarakat. Apabila guru dan pustakawan tidak memiliki minat baca yang tinggi, mustahil dapat menjalankan tugasnya dalam meningkatkan minat baca. Ada beberapa faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah; rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan serta informasi, keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam arti tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas dan beragam, keadaan lingkungan sosial yang kondusif, maksudnya adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca, rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual, dan berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani (No Title, n.d.).

(Kurikulum, Dasar, & Menengah, 2017) Upaya Pengembangan Budaya Literasi ini berdasarkan dibuat sesuai dengan Kurikulum dikembangkan sesuai landasan filosofis, yuridis, dan sosiologis yang sangat baik untuk mempersiapkan SDM bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Kurikulum yang dikembangkan Kemdikbud merupakan rancangan  tentang tujuan, isi, bahan pelajaran, serta cara pembelajarannya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum 2013 diharapkan akan dapat mengembangkan literasi bangsa melalui pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pengembangan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis yang didukung pula oleh Gerakan Literasi Sekolah. Upaya yang dilakukan dalam mengembangkan budaya literasi ini dengan cara melakukan Pengembangan Kompetensi Inti Sikap, Penyelarasan Kompetensi, Proses Pembelajaran Berpikir, Pengembangan Literasi melalui Kompetensi Dasar.

By: Khoiru Ummah

Berlangganan via Email