Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SOLUSI TERHADAP SIKAP KURANGNYA RASA HORMAT DAN KASIH SAYANG ANTARA MURID DAN GURU

Kebanyakan manusia terdiri dari pendidik, pelajar, maupun orang-orang yang telah melampaui masa tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa bidang pendidikan adalah bidang yang paling berpengaruh baik bagi individu maupun masyarakat. Namun, terdapat bahasa emosional yang hampir hilang dari sebagian orang yang berkecimpung dalam bidang ini. Seperti, adanya pelajar yang kurang baik dalam berinteraksi dengan guru-gurunya, kurangnya sopan santun dalam mengajukan pertanyaan, dan kurang berakhlak dalam proses belajar mengajar secara umum. Contohnya, sering datang terlambat, memberatkan guru dengan pertanyaan yang hanya ingin menyusahkannya saja, sibuk membaca buku lain ketika pelajaran tengah berlangsung dan guru mengetahuinya. Demikian pula seorang guru, ada sebagian guru yang memiliki sifat keras atau kasar hingga melampaui batas wajar, seorang guru yang tidak peduli pada murid-muridnya, berkomunikasi dengan siswanya dengan bahasa yang merendahkan, menyepelekan siswanya, dan pilih kasih.

SOLUSI TERHADAP SIKAP KURANGNYA RASA HORMAT DAN KASIH SAYANG ANTARA MURID DAN GURU


Sekiranya pendidikan berjalan dengan metode seperti itu, lalu apa yang akan diharapkan dari generasi mendatang yang terdidik dengan cara seperti itu?

Sebuah gambaran ideal sebuah pendidikan yaitu hendaklah para pelajar menghormati dan menghargai guru mereka. Sekiranya sang guru memiliki kekurangan, maka ambil kebaikan yang diajarkan. Jika guru ada kekeliruan dalam menjelaskan hendaknya kita mengingatkan dengan bahasa yang paling sopan, mendoakaan kebaikan padanya. Jika masih belum mampu melakukan hal itu, maka jangan mencelanya. Apabila ingin berdiskusi dengan guru berkaitan dengan tema tertentu, maka hendaknya lakukan dengan sopan santun tanpa meninggikan suara.

Bagi para guru harus benar-benar memperhatikan sisi emosional murid dan pengaruhnya. Hendaklah memposisikan siswa seperti anak sendiri. Jika guru ingin murid-murid mencintainya, maka guru juga harus mencintai mereka. Di antara tabiat seorang murid adalah mereka akan mencintai orang-orang yang mencintai mereka. Mereka akan condong kepada orang-orang yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan senang kepada orang-orang yang memperlakukan mereka dengan lemah-lembut dan membalasnya dengan wajah berseri-seri penuh kegembiraan. Jika seorang murid merasakan bahwa gurunya tidak menyukainya dan kebaikannya, maka dia tentu tidak akan mau menerimanya, walaupun guru itu memiliki kebaikan. Kebaikan mana yang akan menjadi sempurna tanpa adanya kecintaan?

Seorang pendidik yang cerdas dan ikhlas akan menyelami hati para muridnya melalui jalan yang paling dekat, memperbaiki kesalahan mereka dengan usaha yang paling ringan, menggiring mereka agar patuh dan mau melaksanakan apa yang telah diperintahkannya dengan cara yang paling mudah, menyambut mereka dengan wajah yang riang, berbicara dengan mereka secara lemah-lembut dan dengan wajah yang berseri-seri, serta menunjukkan rasa cinta kepada mereka yang dapat mengarahkan mereka untuk kembali mencintainya. Bila para murid sudah mencintainya, maka mereka akan mentaati printahnya dan memudahkan para pendidik untuk membimbing mereka ke arah kebaikan yang diinginkan serta mampu mengarahkan mereka untuk istiqomah. (Atsarusy Syaikh Muhammad Al-Basyir Al-Ibrohimi, III/161-162). Hal yang dapat menguatkan dan menumbuhkan rasa cinta antara guru dan murid-muridnya adalah sebagai berikut:
1. Memberikan perhatian terhadap kebaikan murid dan kondisinya. Ibnu Jam’ah berkata, “Hendaklah seorang guru memperhatikan kemaslahatan muridnya.” Ia juga berkata, “Hendaklah seorang guru brtanya tentang kondisi mereka dan kondisi orang-orang yang berhubungan dengan mereka.” (Tadzkirus Sami’ wal Mutakallim,
Contoh: “Apakabar anak-anak?” “Sudah sarapan semua kan?” “Bagaimana kabar orang tua di rumah?”

2. Bersabar terhadap perilaku muri-muridnya. Hal itu memiliki pengaruh untuk menumbuhkan rasa cinta para murid kepada gurunya. Sebab, mereka mengetahui bahwa hal itu muncul dari rasa cinta dan kasih sayang gurunya kepada mereka. Imam Nawawi berkata, “Hendaklah seorang guru memperlakukan muridnya seperti ia mencintai anaknya, bersabar atas perilakunya yang buruk, dan memaafkan perilaku buruk yang terkadang dilakukan oleh muridnya. Sebab setiap manusia pasti memiliki kekurangan.” (Nawawi, Al-Majmu’ Syahrul Muhadzdzab, 1/30)

3. Menghormati dan memperhatikan kondisi emosianal muridnya. Pendidik cerdas yang memiliki kewibawaan dan adab adalah seorang yang menghormati murid-muridnya dan menaruh perhatianterhadap kondisi emosional mereka, sehingga ia tidak menyakiti mereka baik dengan ucapan maupun isyarat. Tapi ia akan menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka selagi mereka berjalan sesuai dengan adab yang benar. Ibnu Abbas berkata, “Manusia yang paling mulia bagiku adalah teman dekatku yang senantiasa mendahului orang-orang untuk sampai ke tempatku. Demi Allah, sekiranya ada lalat yang hinggap padanya, maka aku merasa berat sekali.” Rasulullah saw. senantiasa menghormati para sahabat beliau dan senantiasa memberikan hak kepada mereka semua. Sehingga, para sahabat beliau menganggap bahwa tidak ada yang lebih mulia dari beliau. (Abu Nu’aim, Dala’ilun Nubuwwah, 555.)

4. Mengenal nama- nama muridnya. Sebab, hal itu akan menjadikan mereka merasa dihargai. Ibnu Jama’ah berkata, “Hendaklah (seorang guru) mengenal nama, nasab, tempat tinggal dan kondisi murid- muridnya.” (Tadzkirotus Sami’ wal Mutakallim, 100-101.)

5. Memanggil mereka denga julukan dan nama yang mereka sukai. Hal ini dapat menambah dalam menghormati dan menghargai mereka. Ibnu Jama’ah berkata. “Hendaklah seorang guru memanggil mereka, terutama murid-murid yang memiliki kelebihan dan keistimewaan dengan julukan atau nama yang paling ia sukai atau dengan panggilan yang mengandung unsur penghormatan. Dari Aisyah RA. bahwa Rasulullah saw. memberi kunyah kepada para sahabat sebagai bentuk penghormatankepada mereka. (Tadzkirotus Sami’ wal Mutakallim, 107)

6. Mengajak mereka berdiskusi dalam beberapa hal. Hal ini akan mampu menanamkan rasa percaya diri para murid yang dapat menumbuhkan ikatan batin dan kasih sayang antara mereka dan guru mereka.

7. Mengetahui tabiat dan kemampuan akal muridnya. Dengan demikian, guru akan mempu memperlakukan seorang murid sesuai dengan kemampuannya, dan memberikan terapi dengan obat yag sesuai dengannya.

8. Lapang dada terhadap murid-muridnya. Apabila seorang pendidik berlapang dada dan terbuka terhadap murid-muridnya, maka mereka akan mencintainya, mengetahui keikhlasan dan kecintaannya kepada mereka, meskipunia memberi hukuman atas segala kesalahan mereka.

Tidak selayaknya seorang guru menyembunyikan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada murid-muridnya dengan dalih bahwa mereka tidak memahami hal itu. Tidaklah demikian. Bahkan mereka dapat memahami dan membedakan hal itu, serta memperhatikannya dengan mata kepala mereka.
Ada seorang penyair yang mengatakan:
Mata akan berucap, sedangkan mulut akan diam membisu
Bahkan kamu melihatnya secara jelas dari dalam hati
Mata akan menampakkansegala yang ada dalam jiwa pemiliknya
Baik berupa permusuhan atau kasih sayang. (Al-Khoshoish, karya Ibnu Jani, 1/127)
Diantara bentuk menyembunyikan rasa cinta dalam hati adalah mendoakan kebaikan kepada murid-muridnya. Doa adalah rahasia yang sangat menakjubkan untuk kelanggengan rasa cinta kasih, dan terkadang pengaruhnya tidak diketahui oleh pandangan mata, namun diketahui oleh hati yang ada di dalam dada.

BY: Anisa Firli W

Berlangganan via Email