Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Karakter Untuk Membangun Peradaban Bangsa Indonesia


Masa belajar adalah sejak dalam buaian hingga sampai liang lahat. Pendidikan adalah hal yang sangat dianggap penting di dunia, karena dunia membutuhkan orang agar dapat bisa membangun negara yang maju. Selain itu, karakter pun sangat diutamakan karena orang-orang pada zaman sekarang ini tidak hanya melihat pada betapa tinggi pendidikan atau gelar yang telah ia raih atau gapai, melainkan juga  karakter  kepribadian dari setiap orang.

Pendidikan Karakter Untuk Membangun Peradaban Bangsa Indonesia


Mutu pendidikan akan tetap omong kosong. Bila hari ini, guru masih mengajar dengan cara- cara lama. Guru harus mampu mengubah kurikulum menjadi unit pelajaran yang mampu mengubah ruang-ruang kelas. Guru tidak butuh kurikulum yang mematikan kreativitas siswa. Pendidikan di Indonesia, boleh dibilang salah arah jika tidak ingin disebut gawat darurat. Mulai dari krisis identitas, krisis tindak kekerasan, hingga krisis kebangsaan menyelimuti langit pendidikan di Indonesia.

Pelajar harus sanggup menanggung segala kesulitan dan keprihatinan saat merantau mencari ilmu. hal ini agar disadari bahwa merantau mencari ilmu itu tidak akan pernah lepas dari kesulitan karena mencari ilmu memang sesuatu yang  agung dan lebih agung dari pada perang. suatu hasil disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan kesabaran. Sungguh sulit mutu pendidikan di Era Milenial, memang makin banyak banyak orang pintar dinegeri ini. Tapi nyatanya, pendidikan seakan makin dikebiri oleh banyak kepentingan. Pendidikan jadi polemik. Maka, mutu pendidikan pun menjadi taruhannya.

Pendidikan di Indonesia tidak hanya pada pendidikan akademik saja, namun juga harus lebih memprioritaskan pendidikan karakter. Agar meminimalisir kejahatan, kenakalan dan pergaulan bebas pada generasi muda saat ini. Tahapan pendidikan di sekolah masih banyak yang mementingkan aspek kognitifnya daripada psikomotoriknya, masih banyak guru-guru di tiap-tiap sekolah yang hanya mengajar murid saja sebagai formalitasnya dalam bekerja, tanpa mengajarkan bagaimana etika-etika baik yang harus diterapkannya.

Bila seseorang mampu bersabar dalam menghadapi kesulitan maka akan menemukan nikmat ilmu melebihi dari kenikmatan lain yang ada di dunia. Masa terbaik untuk belajar adalah saat waktu muda, saat menjelang Subuh, dan antara Maghrib sampai Isya`.yang terbaik adalah menghabiskan seluruh waktu untuk belajar.`Guru seolah berada “di atas“ dan siswa berada “di bawah”, guru bertindak sebagai subjek dan siswa sebagai  objek belajar. Guru merasa berkuasa untuk “membentuk” siswa. Ibaratnya, guru bertindak sebagai “ teko ” dan siswa sebagai  “gelas “ sehingga siswa berstatus hanya bisa menerima apapun yang dituangkan guru. Siswa tidak diajarkan untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya, siswa yang disuruh tanpa diajarkan untuk mengenal dirinya.

Belajar bukanlah proses untuk menjadikan siswa sebagai “Ahli“ pada mata pelajaran tertentu.  Siswa lebih membutuhkan “pengalaman”. Karena kompotensi guru menjadi syarat utama tercapainya kemampuan belajar yang baik. Guru yang berkompoten akan meniadakan problematika belajar akibat kurikulum. Kompetensi guru harus berpijak pada kemampuan guru dalam mengajarkan materi pelajaran  secara menarik, inovatif, dan kreatif yang mampu membangkitkan semangat siswa dalam belajar.

Di dalam buku tentang Kecerdasan Ganda ( Multiple Intelligencess ), Daniel Goleman menjelaskan kepada kita bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja, dalam hal ini maka pendidikan berkarakter diperlukan untuk membangun sebuah kehidupan yang sangat baik dan beradab bukan pula kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab. Maka terpikirlah oleh para cerdik dan  pandai tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education). Mengambil pelajaran bagi pelajar harus dilakukan setiap saat sampai memperoleh kemuliaan, dengan cara selalu menyediakan alat tulis untuk mencatat segala pengetahuan yang baru didapatkan. Ada ungkapan “ Hafalan akan sirna tetapi tulisan akan tetap tegak.
Banyak pilarberkarakter yang harus ditanamkan di diri anak-anak penerus bangsa ini, diantaranya adalah kejujuran, kejujuran merupakan hal yang paling pertama yang harus kita tanamkan pada diri kita maupun anak-anak penerus bangsa karena kejujuran adalah benteng dari semuanya, Demikian juga ada pilarberkarakter tentang suatu keadilan, karena seperti yang dapat kita lihat banyak sekali ketidakadilan khususnya di Negara ini. Selain itu harus ditanamkan juga pilarberkarakter seperti rasa hormat. Hormat pada siapapun orangnya. Contohnya adik kelas mempunyaui rasa hormat kepada kakak kelasnya, dan kakak kelasnya pun menyayangi adik-adik kelasnya, begitupun juga dengan teman seangkatan rasa saling menghargai harus ada dalam diri setiap murid-murid agar terciptanya dunia pendidikan yang tidak ramai akan perkelahian antara kelompok A dan kelompok B.
Sekarang mulai banyak sekolah-sekolah  di Indonesia mengajar dan mempelajari pendidikan karakter menjadi mata pelajaran khusus di sekolah tersebut. Mereka diajarkan Bagaimana cara anak berbicara terhadap orang tua, guru-guru ataupun lingkungan tempat sekitar. Pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF) Ratna Megawangi  menyampaikan karakter merupakan kunci kemajuan bangsa yang harus dibangun sejak anak usia dini agar mampu melahirkan generasi baik dan unggul. “karakter adalah yang menentukan nasib seluruh bangsa, karakter baik nasib sebuah bangsa pun juga akan menjadi baik,” kata Ketua Organisasi Istri Kabinet kerja (OASE) Ratna Megawangi pada Sosialisasi dan Harmonisasi. Ratna menjelaskan, egois dan negatif sangat berpengaruh besar terhadap karakter dan perkembangan anak, emosi negatif juga dapat merusak stuktur-struktur anak yang tumbuh pesat.

Harapannya generasi sekarang maupun yang akan datang memiliki strategi untuk pembelajaran yang berdaya internasional . oleh karena nya, diharapkan mampu memadukandua kekuatan karakter generasional yang bersifat komplementer, yaitu “ ekologisme “ personal dan sosio-kultural, dan “ egoisme “ keilmuan dan teknologi. Mutu pendidikan, masih menjadi soal di Indonesia. Adalah  fakta 75% sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. Bahkan kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat 40 dari 40 negara (The Learning Curve,2014). Belum lagi maraknya kekerasan yang terjadi di sekolah.

Mudah-mudahan dengan diberlakuannya pendidikan karakter di sekolah semua potensi kecerdasan anak-anak akan dilandasi oleh karakter-karakter yang dapat membawa  mereka menjadi orang-orang yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang adil dan bijaksana. Bebas dari korupsi, ketidakadilan dan lainnya. Dan makin menjadi bangsa yang berpegang teguh oleh prinsipnya dan kepada karakter yang kuat dan beradab. Walaupun mendidik karakter tidak semudah membalikkan telapak tangan, oleh karena itu, ajarkanlah kepada anak bangsa pendidika karakter sejak saat ini.

Daftar Pustaka
https://www. Kompasiana.com/nengristaindriani/552045b9813311612c9dfca0/artikel-tentang-pendidikan-karakter

By: Refilani Indah Kusumah

Berlangganan via Email