Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAGAIMANA MENGEMBANGKAN BAHASA ANAK DENGAN CERITA?

Cakupan standar perkembangan anak usia dini yang lainnya adalah tentang perkembangan aspek bahasa. Untuk mengembangkan aspek bahasa anak usia dini, para oarng tua maupun guru bisa menggunakan media cerita. Melalui cerita, anak-anak akan memperileh banyak perbendahaaran kata-kata baru serta bisa belajar bagaimana mereka menyusun kalimat dengan benar. Dengan begitu, hal tersebut akan semakin merangsang perkembangan bahasa anak semakin baik.

MENGEMBANGKAN BAHASA


Dengan cerita, guru dapat merangsang kemampuan berbicara dan memperkaya kosa kata anak, terutama bagi anak- anak batita yang sedang belajar berbicara. Kata-kata baru yang di dengar melalui dongeng akan memperkaya kosa kata dalam berbicara anak tersebut, sehingga secara tidak langsung kita telah mengajarkan perbendaharaan kata yang banyak kepada anak melalui cerita. Bagi anak-anak usia dini, cerita juga bisa melatih dan memperkaya kemampuan berbahasa dan memahami struktur kalimat yang lebih kompleks.

Selain itu membacakan cerita pada anak, insyaallah, juga akan membawa anak mengalami perasaan yang pistif, dalam arti ia bisa menikmati isi sebuah buku melalui pembacaan cerita yang di lakukan oleh orang tuanya atau pada guru. Perasaan positif yang akan mendorong anak untuk lebih cepat menguasai buku, ketertarikannya terhadap buku sabagai sarana utama membaca timbul secara dinamis.

Bagi perkembangan kognitif anak sendiri, pembacaan cerita pada anak merupakan sarana yang amat tepat untuk memperkaya kosakata bagi anak tanpa merasa terbebani. Anak yang memiliki kosakata lebih banyak akan mempunyai kemampuan menyelasaikan masalah dan mengembangkan wawasan berpikir yang lebih baik. Kosakata yang diterima oleh anak-anak terus bertambanh seiring dengan bertambahnya hal-hal baru yang ia ketahui (dengan melihat)ataupun mendengar.

Prof. Dr. H. Zakiah Darajat, M.A., misalnya, melalui tulisannya yang berjudul pendidikan anak dalam keluarga: Tinjuan Psikologi Islam, pernah menyebutkan bahwa setelah anak lahir, pertumbuhan jasmani anak berjalan cepat dengan perkembangan akidah, kecerdasan, akhlak, kejiwaan, rasa keindahandan kemasyarakatn anak (tujuh dimensi manusia) berjalan serentak dan seimbang. Si anak mulai mendapat bahan-bahan atau unsur-unsur pendidikan serta pembinaan yang berlangsung tanpa disadari oleh orang tuannya. Mata si anak melihat dan merekam apa saja yang tampak olehnya. Rekaman tersebut tinggal lama dalam ingatan sehingga asa pakar kejiwaan yang mengatakan bahwa manusia belajar lewat penglihatan itu sebanyak 83%. Kemudian, telinga juga berfungsi setekah ia lahir, dan menangkap apa yang sampai ke gendang telinganya. Dia mendengar bunyi, kata0kata yang di ucapkan oleh ibu, ayah, kakak, dan orang lain dalam keluarga, atau suara radio, telivisi,dan sebagainya. Lewat pendengaran itu, anak belajar sebanyak 11%. Betapa banyak kata yang dapat di tangakap dan diucapkan anak umur tertentu.

Pernah pakar kejiwaan dalam sebuah penelitiannya melaporkan mengenai pertambahan kosakata pada diri seorang anak. Dari penilitian itu ditemukan pada anak berumur satu tahun baru memiliki tiga kata. Namun setelah itu, perolehannya cukup dratis sekali, yaitu ketika menginjak usia dua tahun ia telah memiliki 272 kata,  usia tiga tahun 896 kata, usia empat tahun 1540 kata, usia lima tahun 2072 kata, dan usia enam tahun 2562 kata.

Kata-kata apa saja yang diperoleh oleh anak? Semuanya tergantung informasi yang diperoleh oleh anak. Dan, yang paling bnyak berperan adalah orang tuannya. Bila mereka orang yang beriman dan beramal sholih, sering berdoa dan berucap kalimat thayyibah, maka kata-kata itulah yang sering di dengar oleh anaknya dan akrab ke hati anak, lalu menjadi bagian dari kepribadiannya. Sedangkan sentuhan, pencicipan, dan penciuman, bersama-sama memberi pengaruh sebanyak 6%. Jadi, pengaruh terbesar lewat peglihatan dan pendengaran, yaitu 94%.

Kosakata (bahasa) yang dimiliki anak akan banyak sekali mempengaruhi dirinya. Ia bisa mempengaruhi cara berpikir anak dan selanjutnya menentukan meadn pengalamannya. Atau, dengan kata-kata lain, perilaku anak tersebut sebeenarnya banyak sekali dipengaruhi oleh kosakata atau dalam hal ini bahasa yang dimilikinya. Oleh  karena itu, tidak heran bila prof. Leo Weisberger, misalnya, pernah mengemukakan teori sprachiliche weltanschunglebre, yakni pandangan dunia kita sangat ditentukan oleh kebiasaan bahasa kita.
Tak dapat di pungkiri bahwa  bahasa anak sangat tergantung dari mereka mendengarkan pembicaraan oarang tua mereka atau orang-orang yang berada di sekitar lingkungan mereka. Contohnya, orang tua dan guru merangsang perkembangan bahasa anak saat mereka menggunakan kosakata yang kaya dan beragam dalam percakapan mereka dengan anak-anak. Bila mengenai kejadian dan masalah yang tidak terwakili secara nyata dalam lingkunagan (misalnya, percakapan yang tidak memiliki konteks). Seperti membicarakan tentang kejadian yang terjadi di waktu yang lain, membicarakan masa depan, atau sama-sama berpura-pura semuannya melebarkan dan memperluas kemampuan anak menggunakan bahasa dengan lebih luwes dan luas.

Selain itu respon oarang dewasa  yang meluas hingga pernyataan anak-anak dan mencontohkan bentuk-bentuk tata bahasa baru membangun keterampilan kalimat dan kosakata. Contohnya, seorang anak mungkin berkata “Anjing Makan”, dan seseorang yang dewasa bisa memperluas dengan “ya anjing itu makan biskuit”.  Memberikan contoh-contoh yang bisa memperluas pernyataan sang anak dan membantu perkembangan dan  keterampilan reseptifsif dan ekspresi baru. Sehingga anak-anak bisa mengerti apa yang di katakan oleh dirinya sendiri.

Karakteristik kemampuan bahasa pada anak usia dini dibedakan menurut rentang usia:
A. Anak usia 4 tahun
1. Mampu menunjukkan dirinya dengan kata ganti saya.
2. Kemampuan bahasa berkembang cepat.
3. Menguasai fonem dan sintaksis bahasa yang digunakan.
4. Menunjukkan pemahaman tentang sesuatu yang dilihat atau didengarnya.
5. Mampu mengungkapkan keinginannya dengan kalimat sederhana.
6. Mampu memahami gambar dan mengungkapkannya dengan kata.

B. Anak usia 5- 6 tahun
1. Dapat mengucapkan lebih dari 2500 kata.
2. Lingkup kosa kata yang dikuasai cukup luas.
3. Mampu menjadi pendengar yang baik.
4. Dapat diajak berinteraksi atau bercakap –cakap. Anak sudah bisa menanggapi pembicaraan.
5. Anak sudah bisa mengekspresikan dirinya, belajar menulis, membaca, dan bercerita.

Dari klasifikasi karakteristik sesuai umurnya tersebut, maka akan terlihat jelas kemampuan bahasa yang harus dimiliki anak pada usia tersebut. Setiap anak tumbuh dan berkembang secara berbeda. Ada kemungkinan perkembangan bahasa bisa lebih cepat dari rentang usia yang disebutkan atau bahkan lebih lambat dari rentang tersebut. berbagai faktor mampu mempengaruhi laju perkembangan bahasa anak, misalnya tingkat intelegensi bawaan dan paparan interaksi sosial.

Dan disinilah peranan orang tua maupun guru dapat memperkaya kata-kata dalam memori anak ini dengan berbagai macam cara. Salah satu-nya yaitu dengan cara membacakan cerita baginya. Orang tua maupun guru bisa membacakan cerita-cerita atau kisah-kisah para rasul para sahabat dan sebagainya atau juga bisa dengan dongeng tentang hewan-hewan atau animasi kartun dan sejenisnya untuk menambah kosakata baginya sekaligus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan di dalam diri anak tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Imam Musbikin. 2010.Buku Pintar Pendidikan Anak Usia Dini. Laksana.Banguntapan. Jogjakarta.

Berlangganan via Email