Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini?


Bagaimana Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini?


Secara alamiah perkembangan anak usia dini berbeda-beda, baik dalam bakat, minat, kreativitas, kematangan emosi, kepribadian, keadaan jasmani, dan sosialnya. Selain itu, setiap anak memiliki kemampuan tak terbatas dalam belajar yang telah ada dalam dirinya atau yang disebut dengan potensi anak usia dini tuk dapat berpikir kreatif dan produktif. Anak akan beraktivitas sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki dirinya, pengembangan kreativitas anak harus diberikan stimulasi dari mulai usia dini, sehingga anak akan terasa untuk berpikir kreatif, karena dengan berkreativitaslah memungkinkan manusia menjadi berkualitas dalam hidupnya. Kreativitas sangat penting untuk dikembangkan sejak anak usia dini, seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992: 46), bahwa:

Kreativitas yang memungkinkan manusia menigkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya. Untuk mencapai hal itu, perlulah sikap dan perilaku kreatif dipupuk sejak dini, agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengtahuan baru dan pencari kerja, tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta).

Uraian di atas mengandung makna bahwa kreativitas perlu dikembangkan sejak usia dini. Kreativitas merupakan kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa produk atau gagasan baru yang dapat diterapkan dalam memecahkan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.

Utami Munandar (1999: 47-50), juga mengungkapkan tentang pengertian kreativitas dengan beberapa rumusan yang merupakan kesimpulan para ahli antara lain: 
1. Kreativitas ialah kemampuan untuk membuat komposisi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada.
2. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) ialah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu  masalah, di mana penekannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
3. Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memerinci) suatu gagasan. 

Adapun faktor penghambat kreativitas, Menurut Renzulli dalam Munandar (2004: 223), mengemukakan tiga ciri pokok yang saling terkait merupakan kriteria atau persyaratan keberbakatan, yaitu: kemampuan umum, kreativitas, dan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi intrinsik. Maka jelaslah bahwa kreativitas dan motivasi merupakan faktor penentu keberbakatan disamping tingkat kecerdasan di atas rata-rata.  Seperti yang dikemukakan oleh Amabile dalam Munandar (2004: 233), bahwa lingkungan yang menghambat dapat merusak motivasi anak, betapapun kuatnya, dan dengan demikian dapat mematikan kreativitas. 

Adapun kendala atau rintangan yang dapar merusak dan bahkan dapat mematikan kreativitasnya. Cropley dalam Adhipura (2001: 44), mengemukakan beberapa karakteristik guru yang cenderung menghambat keterampilan berpikir kreatif dan kesediaan atau keberanian anak untuk mengungkapkan kreativitas mereka: 
1. Penekanan bahwa guru selalu benar 
2. Penekakan berlebihan pada hafalan 
3. Penekanan pada belajar secara mekanis teknik pemecahan masalah
4. Penekanan pada evaluasi eksternal
5. Penekanan secara ketat untuk menyelesaikan pekerjaan 
6. Perbedaan secara kaku antara bekerja dan bermain dengan menekankan makna dan manfaat dan bekerja, sedangkan bermain adalah sekedar untuk rekreasi.

Amabile dalam Munandar (2004: 223), ia mengemukakan ada empat cara yang dapat mematikan kreativitas anak, yaitu: Evaluasi. dalam memupuk kreativitas anak, guru hendaknya tidak memberikan evaluasi atau menunda pemberian evaluasi sewaktu anak sedang asyik berkreasi. Bahkan menduga akan dievaluasi pun dapat mengurangi kreativitas anak. 

Kedua, hadiah. Kebanyakan orang percaya bahwa memberi hadiah akan memperbaiki atau meningkatkan perilaku tersebut. ketiga, persaingan. Kompetisi atau persaingan lebih kompleks dari pada pemberian evaluasi atau hadiah, karena kompetisi meliputi keduanya. Keempat, lingkungan yang membatasi. Belajar dan kreativitas tidak dapat ditingkatkan dengan paksaan. Jika belajar dipaksakan dalam lingkungan yang amat membatasi, maka minat intrinsik anak dapat dirusak. 

Yang sangat perlu diperhatikan oleh para guru, terutama orang tua ialah tentang berbagai sikap orang tua yang tidak menunjang pengembangan kreativitas anak, seperti yang dikemukakan oleh Utami Munandar (2004: 95) yaitu:
1. Mengatakan kepada anak bahwa ia akan dihukum jika ia berbuat salah.
2. Tidak membolehkan anak menjadi marah terhadap orang tua.
3. Tidak membolehkan anak mempertanyakan keputusan orang tua.
4. Tidak membolehkan anak bermain dengan yang berbeda dari keluarga anak mempunyai pandangan dan nilai yang berbeda dari keluarga anak.
5. Anak tidak boleh berisik.
6. Orang tua ketat mengawasi kegiatan anak.
7. Orang tua memberi saran-saran spesifik tentang penyelesaian tugas. 
8. Orang tua kritis terhadap anak dan menolak gagasan anak.
9. Orang tua tidak sabar dengan anak.
10. Orang tua dan anak adu kekuasaan.
11. Orang tua menekan dan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas.

Dari pemaparan di atas, kiranya dapat dimengerti tentang faktor penghambat kreativitas anak usia dini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor potensi anak, guru, orang tua, serta lingkungan yang berhubungan dengan anak ini.

Adapun strategi dalam menghadapi penghambatan perkembangan kreativitas anak usia dini. Pada dasarnya setiap anak memiliki kecenderungan berbakat dalam kreativitas dan memiliki kemampuan mengungkapkan dirinya secara kreatif, meskipun masing-masing anak tersebut dalam bidang dan kadar berbeda-beda sesuai dengan potensi yang dimilikinya masing-masing. 

Sebagai mana dikemukakan oleh Devito dalam Supriadi (2001: 16), bahwa kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak dengan tingkat yang berbeda-beda, setiap anak lahir dengan potensi kreatif, dan potensi ini dapat dikembangkan dan dipupuk. 

Salah upaya dalam mengembangkan kreativitas anak usia dini adalah dengan memberikan stimulus yang baik dan tepat, yaitu pembelajaran dengan bermain atau belajar sambil bermain. Dimana setiap materi akan diberikan harus dikemas dalam bentuk permainan. Permainan merupakan kegiatan yang menyenangkan dilakukan oleh anak, dengan permainan anak dapat melakukan banyak hal, salah satunya ialah meningkatkan kognitif anak dan anak akan mendapatkan informasi atau pengetahuan yang belum diketahuinya, sehingga anak akan berpikir kreatif untuk memasuki lingkungan bermainnya agar diterima teman sepermainannya, anak akan juga menciptakan sesuatu karya yang unik dank has sesuai dengan pemikirannya.

Ahli lain, yaitu Torrance (2001) juga menekankan pentingnya dukungan dan dorongan dari lingkungan. Menurutnya, salah satu lingkungan yang pertama dan utama dapat mendukung atau menghambat berkembangnya kreativitas adalah lingkungan keluarga, terutama interaksi dalam keluarha tersebut. lima bentuk interaksi orang tua yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas, yakni: 
1. Menghormati pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim.
2. Menghormati gagasan-gagasan imajinatif.
3. Menunjukkan kepada anak bahwa gagasan yang dikemukakan itu bernilai.
4. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar atas prakarsanya sendiri dan memberikan reward kepadanya.
5. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan melakukan kegiatan-kegiatan tanpa suasana penilaian. 

Daftar Pustaka
Susanto, Ahmad. 2012. Perkembangan anak usia dini pengantar dalam berbagai aspeknya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Asrori. 2015. Perkembangan peserta didik pengembangan kompetensi pedagogis guru. Yogyakarta: Media Akadem.

By: SITI ROHMA

Berlangganan via Email