Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK SEBAGAI PENUNJANG KUALITAS PENDIDIKAN ANAK

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK SEBAGAI PENUNJANG KUALITAS PENDIDIKAN ANAK

1. Kebutuhan Dasar Manusia
Pendidikan menjadi suatu hal penting bagi seluruh manusia, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dan manusia dewasa. Pada lingkup masyarakat seorang manusia akan dipandang memiliki derajat tinggi apabila dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan benar. Di seluruh dunia setiap orang memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Sesuai dengan Pasal 60 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Hak asasi manusia merupakan hak yang melekat pada diri setiap manusia semenjak dia lahir yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu keberadaan Hak Asasi Manusia sangatlah fundamental, tidak bisa tidak untuk tidak dipenuhi. Banyak bentuk yang menjadi Hak Asasi Manusia, salah satunya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan.

2. Hak Untuk Mendapat Pendidikan
Hak mendapatkan pendidikan menjadi hak asasi bagi setiap individu sehingga setiap individu berhak memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya yang dilakukan melalui pengajaran, pelatihan, dan penelitian. Hal tersebut bertujuan untuk menjadikan siswa menjadi pribadi yang taqwa, berakhlaq mulia, berpengetahuan, terampil, dan kreatif.

Berdasarkan UU. No 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, akhlak mulia, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kemudian, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pendidikan merupakan suatu proses dalam perubahan sikap dan tingkah laku yang terjadi pada individu maupun kelompok dalam upaya mengembangkan pribadi dalam kedewasaan dengan usaha pembelajaran serta pelatihan. Berdasarkan pernyataan diatas memiliki penjelasan, bahwasanya pendidikan memiliki sasaran dalam pengembangan potensi anak didik dengan melaksanakan kewajiban dan juga haknya, serta dengan meningkatkan sikap kerohanian, keimanan, dan ketakwaan pada peserta didik maka kelak dapat memperoleh dan mengamalkan ilmu mereka dengan baik dan benar.

3. Nilai Yang Mendukung Pendidikan
Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, nilai-nilai yang harus muncul pada generasi muda dan setiap individu di Indonesia adalah sikap agamis, toleransi, jujur, kerja keras, mandiri, kreatif, disiplin, demokratis,  memiliki rasa ingin tahu,  semangat  kebangsaan yang patriotisme, cinta tanah air,  menghargai orang lain, komunikatif,  cinta  damai,  gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial,  dan  bertanggung  jawab. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa di Indonesia untuk menanamkan karakter atau akhlak yang baik pada anak, telah berdasarkan penjelasan dalam kalam Allah SWT. 

4. Pentingnya Akhlak Dalam Pendidikan
Akhlak merupakan hal terpenting dan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia dalam segala aspek, salah satunya adalah dalam lingkup pendidikan. Sedangkan pendidikan akhlak pada anak-anak harus dilakukan sedini mungkin. Sehingga ketika dewasa anak tersebut mempunyai akhlak yang mulia. Orang tua terutama ibu mempunyai peran paling penting dalam mendidik anaknya, karena ia merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. 

Menurut bahasa, arti dari akhlak berasal dari kata dalam bahasa arab “khalaqa-yakhluqu-khalaaqon” dengan memiliki arti “budi pekerti”. Kata khalaqa juga memiliki keterkaitan dengan khaliq (sang pencipta) dan makhluq. Berdasarkan hal tersebut, maka akhlak merupakan suatu media yang menimbulkan hubungan makhluk hidup dengan sang khaliq yaitu Allah, serta makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak merupakan perilaku, budi pekerti, serta perbuatan. Dapat dipahami bahwa akhlak merupakan kelakuan yang baik maupun yang buruk yang dimiliki oleh seorang manusia. Sedangkan akhlakul karimah adalah budi pekerti atau kelakuan yang terpuji atau baik.

Akhlak menjadi patokan atau dasar dalam mencapai tujuan pendidikan islam, jika dalam pendidikan tidak didasari dengan akhlak atau budi pekerti yang baik, maka tidak dapat dikatakan sebagai suatu pendidikan. Dengan begitu tujuan akhir dari pendidikan yang berlandaskan akhlak adalah agar kelak ilmu yang di dapatkan sejak mengampu pendidikan akan berguna bagi manusia lainnya serta dapat mengamalkan ilmu nya dengan ikhlas dan diharapkan mendapat ridho dari Allah SWT. 
Penanaman pendidikan akhlak yang diberikan oleh orang tua pada anaknya sejak dini sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk memperbaiki perilaku buruk pada manusia.


5. Faktor-Faktor Pembentuk Akhlak
Akhlak menjadi cerminan manusia dan tolak ukur manusia dalam kehidupan. Untuk menjadi manusia yang memiliki akhlak yang baik kita wajib mengetahui faktor terpenting dalam mendidik seorang anak. Faktor-faktor yang membentuk akhlak anak berfungsi untuk menentukan apakah perilaku seseorang tersebut baik atau buruk. Faktor faktor itu pun dapat mempengaruhi seseorang melaksanakan tingkah laku baik ataupun buruk.

Faktor-faktor dalam pembentukan akhlak adalah instink, keturunan, lingkungan, kebiasaan, kehendak dan pendidikan.

  1. Insting : Insting dapat dikatan juga sebagai naluri yang merupakan pola dalam berperilaku yang tidak bisa dipelajari karena insting ada sejak manusia lahir. Dapat juga diartikan dengan segala sesuatu yang diperbuat manusia merupakan kehendak yang digerakkan naluri.
  2. Naluri adalah sifat pembawaan asli yang ada pada dalam diri manusia. Instink manusia yang mendorong berbuat tingkah laku antara lain: a)  Nutritive Instinct (Naluri Biakan), b) Seksual Instinct (Naluri Berjodoh), c) Paternal Instinct (Naluri Keibu Bapakan), d) Combative Instinct (Naluri Berjuang), dan e)  Naluri Ber Tuhan, f) Instink Keinginan, g) Instink senang bergaul, h)  Instink takut, i) Instink meniru.
  3. Keturunan: Perpindahan sifat dari orang tua ke anak atau dari pokok ke cabang. Banyak orang yang menyebutkan pengertian keturunan diantaranya: Turunan ialah suatu kekuatan yang membuat anak sesuai dengan gambaran orangtuannya. Sifat keturunan yang berasal dari orang tua yang dibawa sejak lahir terdapat dua macam yaitu sifat jasmani dan sifat rohani.
  4. Lingkungan: Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup. Dari kata “segala sesuatu” dapat dikatakan bahwa makna lingkungan didalamnya luas, baik lingkungan fisik seperti rumah, orang tua, sekolah, teman mainnya, maupun lingkungan psikolog seperti aspirasi, impian, konflik dll. 
  5. Lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang. Seorang anak mempunyai akhlak yang baik jika hidup di lingkungan yang baik dan seorang anak akan mempunyai akhlak tidak baik jika hidup di lingkungan yang tidak baik.
  6. Faktor lingkungan sangat menentukan pematangan terhadap perilaku dan sikap seseorang, adapun kategori pembentukan akhlak dalam lingkungan terbagi atas: a) Lingkungan di sekolah, b) Lingkungan rumah tangga, c) Lingkungan organisasi, d) Lingkungan dalam pekerjaan, e) Lingkungan pergaulan yang bersifat umum dan bebas, f) Lingkungan kehidupan ekonomi.

Kebiasaan: Kebiasaan merupakan hal terpenting dalam akhlak manusia. Kebiasaan merupakan perilaku seseorang secara berulang-ulang sehingga dalam melakukannya tidak terasa sulit. Penyebab yang membentuk adat kebiasaan diantaranya, sejarah kebiasaan yang timbul karena adat berasal dari nenek moyang yang diteruskan secara turun temurun, kemungkinan juga bisa saja karena sekitar tempat tinggalnya yang memberi dampak dalam hidup sehari-hari. 
1. Kehendak: Kehendak adalah faktor penggerak seseorang agar dapat berperilaku dengan benar. Dengan demikian seseorang akan mengerjakan hal yang berat dan hebat sekalipun karena kekuatan kehendaknya.
2. Kehendak dapat mendorong seseorang menjadi manusia yang berakhlak. Dengan kehendaklah manusia terdorong melakukan usaha dan bekerja, tanpa kehendak semua pengetahuan, keyakinan, gagasan, tak mempunyai arti apa-apa.
3. Kehendak juga dapat membuat seseorang menentukan baik buruknya perbuatan, oleh karena itu dapat muncul nilai baik dan nilai buruk. Sehingga setiap perbuatan baik dan buruk seseorang pasti atas kehendaknya sendiri.
4. Pendidikan: Pendidikan harus ditempuh oleh setiap manusia, pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Selain faktor-faktor lainnya, pendidikan merupakan salah satu faktor dalam pembentukan akhlak. Dalam pendidikan anak dapat menyalurkan serta mengembangkan minat dan bakatnya agar bermanfaat untuk dirinya dan masyarakat.

Dalam melaksanakan pendidikan, etika-etika yang baik menjadi akhlak si anak. Faktor pendidikan yang dapat mempengaruhi mental sebaiknya tidak hanya dilakukan oleh pihak guru dan murid, melainkan lingkungan sekolah, pergaulan-pergulannya, etika keseharian yang dapat memberikan contoh melalui alat indranya seperti gambar-gambar, video, buku, dan lain sebagainya. 
Sistem akhlak dapat disampaikan dan diajarkan dengan melalui dua pendekatan:
Rangsangan jawaban (stimulus response) sebagai proses pengkondisian atau proses secara otomatis, dengan cara sebagai berikut: melalui mencontoh, melalui latihan, melalui tanya jawab. Kognitif, dengan penyampaian pengetahuan (teori) secara teoritis, dengan cara sebagai berikut: melalui ceramah, melalui diskusi, melalui dakwah, dan lain sebagainya.
6. Urgensi Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak dikatakan sangat penting karena dengan terdidiknya akhlak sejak dini membuat anak dapat memahami perbedaan antara yang benar dan salah. Dengan begitu anak mengetahui batasan-batasan dalam bertindak dan mengontrol perbuatan baik buruknya dalam kehidupan sehari-hari. 
Pendidikan nasional memiliki fungsi dalam pengembangan kemampuan serta pembentukan watak yang bernilai tinggi untuk kecerdasan kehidupan bangsa dengan tujuan agar anak berkembang jadi insan beriman, berilmu dan bertakwa pada Tuhan YME, mempunyai akhlak baik, mandiri, mengembangkan imajinasi dan bertanggung jawab sebagai warga negara Indonesia.

Kesimpulannya bahwa urgensi Ilmu Akhlak antara lain:
1. Dalam berbagai kesulitan dalam kehidupan, ilmu akhlak dapat menerangi manusia dalam menyelesaikan kesukaran sehubung dengan masalah perbuatan atau tingkah laku yang sering menghampiri.
2. Memberikan penjelasan mengenai sebab dianjurkannya berbuat baik dan manfaat-manfaat melakukan perbuatan baik.
3. Membatasi dan mengontrol perbuatan atau keinginan-keinginan melakukan sesuatu dengan melakukan hal-hal yang lebih positif
4. Dengan belajar ilmu akhlak, membuat seseorang lebih bisa mengatakan perilaku orang lain benar atau salah sehingga tidak langsung mencontoh atau mempertimbangkan perilaku orang lain. (Ahmad Amin : 7-8).
5. Pentingnya akhlak dalam pendidikan dapat memengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia karena dengan meningkatnya akhlak tiap pelajar, dapat  membuat pelajar lebih memiliki tata krama baik terutama di lingkungan sekolah. Dalam lingkungan keluarga, pelajar dapat bertingkah laku baik dengan anggota keluarga, maupun dengan masyarakat, diharapkan pelajar memiliki etika antar dalam masyarakat. Jadi didiklah anak-anak kita dengan akhlak yang baik agar tercipta generasi yang baik untuk masa depan sebagai penunjang kualitas pada pendidikan.

By: Al Fani Masita

Berlangganan via Email