Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Mengatasi Kebiasaan Buruk Siswa dalam Belajar?

Mengatasi Kebiasaan Buruk Siswa dalam Belajar

Proses belajar mengajar tidak selamanya dapat berjalan dengan baik. Tentu sering terjadi masalah dalam proses belajar mengajar. Masalah yang timbul datang dari berbagai sumber. Masalah merupakan hal yang lumrah, sehingga perlu dilakukan pengamatan secara terus menerus untuk mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa. Agar proses pembelajaran lebih terarah, dan guru bisa memahami berbagai masalah yang terjadi pada siswa dalam bentuk aktivitas pembelajaran, maka lebih baiknya guru mempunyai bekal pemahaman terkait masalah-masalah pembelajaran. 

Salah satu masalah yang dijumpai oleh guru adalah kebiasaan buruk siswa dalam belajar, sehingga menyebabkan siswa tidak mampu mencapai prestasi yang optimal. Itulah yang menyebabkan kualitas pendidikan masih rendah. Sebagai seorang guru dalam proses belajar dan mengajar, tentu mengupayakan agar semua siswa berhasil dalam pendidikan. Karena sekolah merupakan harapan bagi orang tua akan keberhasilan anak.

Namun terkadang antara guru dan orang tua tidak sejalan. Kurangnya dukungan dari orang tua membuat guru kesulitan dalam menghadapi siswa. Siswa hanya belajar ketika disekolah. Dan ketika dirumah waktunya dihabiskan dengan kegiatan yang kurang mendukung terhadap belajar. Pendidikan seharusnya melibatkan kerja sama antara guru dan orang tua. Agar pendidikan bisa diterapkan di sekolah bersama dengan guru, serta diterapkan di rumah bersama dengan orang tua. Selain itu, ada beberapa penyebab yang membuat siswa memiliki kebiasaan belajar yang buruk diantaranya yaitu:
1. Belajar ketika hanya ada PR saja
2. Belajar ketika menjelang ujian
3. Belajar ketika hanya didampingi oleh orang tua
4. Belajar sistem kebut semalam
5. Belajar tanpa adanya target dan tujuan
6. Belajar sambil tiduran, menonton tv, dan bermain handphone
7. Waktu luang dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat
8. Tidak mempunyai jadwab belajar yang konsisten
9. Malas belajar
10. Tidak mempunyai catatan belajar, sehingga bingung apa yang akan dipelajari
Namun semua tergantung dari kepribadian masing-masing siswa. Karena semua siswa memiliki kebiasaan dan perilaku yang berbeda antara satu dengan yang lain. Ada siswa yang memiliki kesadaran dan motivasi yang tinggi untuk sukses dalam belajar, dan ada pula sebaliknya. Siswa dengan motivasi yang rendah cenderung mempunyai kebiasaan belajar yang buruk. 
Berikut adalah cri-ciri belajar yang baik.
1. Adanya tempat yang digunakan dalam proses belajar
2. Mempunyai tujuan dalam belajar
3. Kondisi fisik yang sehat dan mendukung
4. Membaca setiap materi dengan hati-hati dan teliti
5. Adanya selang istirahat dalm belajar
6. Membuat rangkuman inti 
Cara yang dilakukan agar siswa mempunyai kebiasaan yang baik dalam proses belajar adalah modifikasi perilaku. Cara ini dilakukan agar setiap siswa mampu melakukan hal positif dan terjadi secara terus menerus sehingga mampu meninggalkan hal yang negatif. Cara ini mencakup pada mengatasi keberhasilan belajar siswa seta menciptakan kerja sama antara guru dan orang tua. Hal yang perlu diperhatikan dalam modifikasi perilaku yaitu.

1. Hubungan antara kebiasaan belajar dengan hasil belajar yang diperoleh
Siswa dengan perilaku dan kebiasaan belajar yang baik akan lebih besar peluang berprestasi di sekolah. Sedangkan siswa dengan perilaku dan kebiasaan belajar yang buruk kurang mampu berprestasi di sekolah. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku serta kebiasaan belajar sebagai tolak ukur bagi keberhasilan pendidikan.

2. Kemampuan berfikir dengan hasil belajar
Siswa yang mempunyai IQ tinggi berpeluang memperoleh prestasi hasil belajar yang memuaskan. Sedangkan siswa yang mempunyai IQ dibawah rata-rata maka memperoleh prestasi belajar yang rendah. 

3. Respon guru terhadap siswa
Guru harus melalukan pendekatan terhadap siswa. Tidak hanya sebagai pendidik, namun guru juga mampu menjadi teman yang baik bagi para siswa. Bersikap adil terhadap semua siswa tanpa terkecuali, tanpa membeda-bedakan antara siswa yang berprestasi ataupun tidak. Guru harus mampu memahami masing-masing kepribadian dari siswanya, dan memberikan dorongan agar siswa semangat dalam belajar.

4. Respon orang tua terhadap anak
Orang tua bertanggung jawab besar terhadap keberhasilan proses belajar dan masa depan anak. Tanggung jawab orang tua di rumah dapat diwujudkan dengan membimbing anak dalam proses belajar sesuai dengan materi yang sudah disampaikan di sekolah. Menemani anak dan membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah. Orang tua merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku dan proses belajar pada anak. Sebab itulah orang tua dapat dengan mudah mengetahui penyebab keberhasilan dan kegagalan anak dalam belajar.

Penerapan cara modifikasi perilaku bagi siswa diantaranya sebagai berikut.
A. Rutin 
Kegiatan belajar harus dilakukan secara rutin, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, dan juga di rumah. Selama waktu memungkinkan untuk melakukan proses belajar, sebagai orang tua dan guru harus selalu memberikan dorongan agar siswa mau melakukan kegiatan belajar secara rutin, dengan begitu, akan menjadi kebiasaan yang akan dilakukan terus menerus oleh siswa.

B. Spontan
Melatih siswa agar bersikap baik kepada siapa saja. Belajar tidak hanya berpacu pada buku dan akademis saja, namun dengan berbuat baik terhadap manusia di sekitar juga merupakan proses pembelajaran bagi siswa. Seperti contoh siswa memberi salam ketika masuk ruangan, membantu teman yang kesusahan, membuang sampah pada tempatnya, dan langsung bertanya apabila tidak mengetahui materi yang disampaikan oleh guru ketika berada di dalam kelas. Dengan hal-hal spontan diatas, akan membuat perilaku siswa menjadi lebih baik.

C. Teladan dan Terprogram
Kegiatan teladan dan terprogram akan menunjukkan kepada siswa bahwa waktu begitu berharga. Dengan hal ini siswa mempunyai arah dan tujuan dalam proses belajar. Siswa menjadi lebih disiplin mengerjakan PR sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Belajar setiap hari sesuai jadwal sekolah esok harinya, tidak terlambat datang ke sekolah sehingga tidak ketinggalan pelajaran yang disampaikan oleh guru, serta dapat belajar dengan tenang dan tidak mendapat hukuman.

Cara-cara diatas dapat diterapkan oleh guru dan orang tua kepada siswa agar siswa mempunyai kebiasaan belajar yang baik, dan meningkatkan semangat belajar kepada para siswa. Karena dengan kebiasaan belajar yang baik akan meningkatkan kualitas belajar dan dapat mencapai hasil yang optimal serta mensukseskan kualitas pendidikan.


By: Nabila Retno Pratiwi

Berlangganan via Email