Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENGAPA ALLAH ﷻ TIDAK MERAHASIAKAN MALAM NIFSU SYA'BAN?

MENGAPA ALLAH ﷻ TIDAK MERAHASIAKAN MALAM NIFSU SYA'BAN
TETAPI MERAHASIAKAN MALAM LAILATUL QADAR ?
NIFSU SYA'BAN

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Seringkali ada yang bertanya-tanya,
Mengapa Allah ﷻ Tidak Merahasiakan malam Nisfu Sya'ban,
tetapi merahasiakan Malam Lailatul Qadar?
Padahal keduanya sama-sama malam yang dipenuhi limpahan rahmat Allah ﷻ.

Malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan yang besar,
Nisfu Sya'ban termasuk waktu yang Mustajabah untuk berdoa karena perisitiwa2 besar
terjadi di malam penuh berkah tersebut.
Demikian pula dengan Malam Lailatul Qadar, memiliki keistimewaan yang sangat Agung.
Lailatul Qadar adalah malam yang diharapkan oleh setiap Muslim di seluruh penjuru Dunia.

Allah ﷻ Memperlihatkan Malam Nisfu Sya’ban kepada siapa pun.
Tidak ada yang dirahasiakan tentang terjadinya Malam Nisfu Sya’ban.
Waktu dan tanggalnya sudah jelas dan tidak berubah-ubah di setiap tahunnya,
yaitu malam tanggal 15 bulan Sya’ban.

Berbeda dengan Malam Lailatul Qadar Allah ﷻ sangat Merahasiakan
kapan Malam seribu bulan tersebut terjadi.
Bisa tanggal 21, 23, 25, 27 atau bahkan di sepanjang bulan Ramadhan terjadi Lailatul Qadar,
namun kapan persisnya benar-benar menjadi misteri.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Allah ﷻ tidak Merahasiakan Malam Nisfu Sya’ban
tapi Merahasiakan Lailatul Qadar ?
Padahal, keduanya sama-sama Malam yang dipenuhi Limpahan Rahmat.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani رحمه الله‎ menegaskan bahwa Lailatul Qadar dirahasiakan
karena Lailatul Qadar lebih dominan sisi Rahmat dan Ampunan di dalamnya.
Barangsiapa menghidupi Lailatul Qadar, ia diberi Kemuliaan dan Pahala yang tidak terhingga.

Oleh karena itu, Allah ﷻ Merahasiakannya agar Umat Islam tidak mengandalkan Lailatul Qadar
sebagai satu-satunya waktu untuk Beribadah secara serius.
Dengan dirahasiakannya Lailatul Qadar, semakin tampak siapa Hamba yang betul-betul
menjaga konsistensi Ibadahnya dan siapa yang hanya Beribadah secara musiman.

Hal ini berbeda dengan Malam Nisfu Sya’ban. Meski di dalamnya dipenuhi Limpahan Rahmat,
namun pada malam tersebut lebih dominan sisi “Penentuan Nasib” seorang Manusia.

Di malam Nisfu Sya’ban, Amal perbuatan Manusia selama 1 tahun dilaporkan di Hadapan-Nya.
Manusia diuji selama satu tahun, apakah ia semakin dekat Dengan-Nya atau
justru semakin diperbudak oleh Nafsunya?.

Di Malam tersebut Allah ﷻ Memberi Keputusan siapa yang layak mendapat Ridha-Nya dan
siapa yang Tertimpa Azab-Nya. Di malam tersebut tampak siapa yang beruntung dan celaka.
Oleh karena hal tersebut maka Malam Nisfu Sya’ban tidak dirahasiakan oleh Allah ﷻ.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani رحمه الله‎ mengatakan:

وقيل إن الحكمة في أن الله تعالى أظهر ليلة البراءة وأخفى ليلة القدر لأن ليلة القدر ليلة الرحمة
والغفران والعتق من النيران، أخفاها الله لئلا يتكلوا عليها

“Dikatakan, Hikmah Allah Memperlihatkan Malam Pembebasan (Nisfu Sya’ban) dan
 menyamarkan Lailatul Qadar adalah bahwa Lailatul Qadar merupakan Malam Kasih Sayang,
 Pengampunan dan Pemerdekaan dari Neraka.
 Allah ﷻ Menyamarkan Lailatul Qadar agar Manusia tidak mengandalkannya".

وأظهر ليلة البراءة لأنها ليلة الحكم والقضاء وليلة السخط والرضاء ليلة القبول
والرد والوصول والصد، ليلة السعادة والشقاء والكرامة والنقاء فواحد فيها يسعد
والآخر فيها يبعد، وواحد يجزى ويخزى وواحد يكرم وواحد يحرم، واحد يهجر وواحد يؤجر

“Dan Allah Memperlihatkan Malam Pembebasan (Nisfu Sya’ban) karena ia adalah
 Malam Penghakiman dan Pemutusan, Malam Kemurkaan dan Keridhaan,
 Malam Penerimaan dan Penolakan, Malam Penyampaian dan Penolakan,
 Malam Kebahagiaan dan Kecelakaan, Malam Kemuliaan dan Pembersihan.

Sebagian orang beruntung, sebagian yang lain dijauhkan dari Rahmat-Nya,
ada yang dibalas Pahala, ada pula yang dihinakan, ada yang di Muliakan,
ada pula yang dicegah dari Rahmat-Nya, salah seorang di diamkan, salah seorang diberi Pahala".

MALAM NISFU SYA'BAN
Hari : Rabu Malam Kamis (ba'da Maghrib), 08 April 2020.
Malam ke 15 bulan Sya'ban.

Semoga bermanfaat
Silahkab share

Sumber :
Kitab : Ghunyah al-Thalibin, hal. 283
Karya : Syekh Abdul Qadir Al-Jilani رحمه الله‎,

Berlangganan via Email