Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Covid 19 dan Pembatasan Ibadah

Peralihan dari tahun 2019 ke tahun baru 2020, kita semua disambut dengan seekor makhluk Allah yang sangat kecil bahkan lebih kecil daripada bakteri, dia bernama virus. Virus ini bernama coronavirus disease 2019 atau biasa disebut dengan COVID 19. Virus ini bermula pada bulan Desember 2019 yang lalu, maka dari itu nama virus ini terdapat angka 19 dibelakangnya. Virus ini berasal dari sebuah pasar hewan yang terletak di Wuhan, China.
Covid 19 dan Pembatasan Ibadah

Hingga saat ini banyak sekali negara negara yang sudah terdampak akan makhluk kecil ini. Bahkan hapir seluruh dunia menutup akses keluar masuk negaranya untuk melindungi rakyatnya. Semakin hari jumlah angka jiwa yang tedampak sangatlah banyak. Di Benua Eropa seluruh negaranya berbondong –bongdong mengumandangkan adzan yang sejatinya tidak pernah dilakukan. Di Amerika, pihak pemerintahannya sampai bingung hendak mengkuburkan jenazahnya dimana.

Manusia pada hakikatnya adalah seorang makhluk beragama. Berbeda dengan biatang dan tumbuhan ereka murni hanyalah sebagai makhluk jasmani, sedangkan manusia sejak dilahirkan mereka sudah memiliki tuhan. Tetapi manusia diciptakan tidak hanya unsur unsur ketuhanan atau yang iasa disebut ruh, manusia juga terdiri tas jasmani. Jadi, jika salah satu dari dua hal tersebut ada yang terkurangi, maka dapat dipastikan bahwa manusia tersebut mengalami gangguan atau sakit.

Berbagai cara tiap tiap negara melindungi rakyatnya telah dilakukan. Sebagai mana yang dilakukan negara kita Indonesia, salah satunya pembatasan dalam beribadah. Negara Indonesia memiliki hampir 5 macam agama. Dalam islam kita diajarkan akan toleransi, jadi pada situasi seperti ini kita saling menjaga, saling mendukung, saling membantu tanpa pandang bulu.

Dampak dari makhluk Allah yang kecil ini sangatlah merugikan dalam hal beragama, dimana beribadah diperintahkan untuk dikerjakan dari rumah. Untuk agama selain islam di Indonesia mungin hanya dirugikan dalam acara sembahyang mereka yang hanya dilakukan mungkin seminggu sekali. Namun, pembatasan beragama bagi umat islam sangat menyedihkan. Karean Allah telah menjanjikan barang siapa meramaikan rumah Allah (masjid) maka dia akan dijauhkan dari adzab. Bahkan ajang silaturrahimpun terputus karena adanya makhluk Allah yang sangat kecil ini.

Peraturan Menteri Agama dalam SE No.6 TAHUN 2020, dimana dalam surat edaran tersebut memerintahkan untuk sholat tarawih dan sholat id dari rumah, bahkan untuk membayarkan zakat saja harus melalui cara yang berbelit. Ketika peraturan itu diterapkan pada semua daerah, maka kita akan kehilangan indahnya cahaya ramadhan, semangat yang selalu kta bangun ketika hendak melaksanakan tarawih dan semangat kita untuk bersenang senang saat membangunkan lewat sound musholla seketika lenyap saat keluarnya SE tersebut. Bahkan saat lebaran pun kita dilarang untuk berjabat tangan. Padahal kita telah mengetahui bahwa menjalin silaturrahim adalah memanjangkan umur, meluruhkan dosa, bahkan bisa melancarkan jalannya rezeki.

Ketika lebih difahami lagi dari pembatasan berjama’ah di masjid atau musholla sangatlah banyak sekali kemudhorotan yang didapatkan. Tatkala ada sebuah daerah yang tidak ada hal hal yang perlu ditakutkan, tetapi justru tidak melaksanakan sholat jum’at, bukankah sudah dijelaskan bahwa sholat jumat hukumnya fardhu ‘ain, bahkan anda juga dapat menilai sendiri. Rasulullah memanglah pernah menerangkan dalam sebuah hadis, bahwasannya ketika ada wabah yang berbahaya (tha’un), boleh mengerjakan ibadah dari rumah. Tetapi akankah anda sadari bahwa virus ini bukanlah sebuah Tha’un, karena jumlah yang meninggal tidak sampai puluhan ribu, jika dihitung dalam suatu negara. Wabah tha’un yang ada pada zaman Rasulullah dahulu lebih berbahaya daripada saat ini.

Tidak ada satupun manusia yang hidup di bumi ini yang bebas dari penyakit. Jangankan manusia yang hidupnya di penuhi dengan dsa ini, Rasul dan Nabi pun yang tergolong kekasih Allah juga pernah merasakan sakit. Dalam situasi seperti ini, didukung dengan adanya ultimatum yang dikeluarkan pemerintah, dan sebgai rakyat yang patuh terhadap pemerintah. Hanya perbanyak berdoa dan berdzikir karena satu satunya senjata umat islam adalah berdoa. Hizb juga bisa dibaca karena itu merupakan pagarnya orang islam. Semua kegiatan beragama di laksanakan secara online, hal itu mengurangi rasa nikmat dari berdoa itu sendiri. 

Dalam lingkup dunia, berbagai negara juga membuat kebijaan beribadah dari rumah. Seperti yang terjadi di Vatikan, atau kota yang terkenal akan agama katholiknya. Memilih untuk tidak menyampaikan berkat tradisional minggunya menghadap jendela seperti biasanya, tetapi pemberkatannya dilakukan melalui media internet. Di Eropa para Rabi menyarankan tidak mencium mezuzah atau ayat ayat taurat yang digulung kemudian diletakkan dipintu. (ali murtadho 2020)

Dari seekor makhluk Allah yang kecil ini, kita semua disadarkan akan kelalaian kita selama ini akan adanya Allah. Kita sibuk mengejar duniawi yang hanya sementara tanpa memikirkan kehidupan kelak di akhirat yang kekal. Dulunya seorang tukang sapu dan pel di masjidil haram dan masjidin nabawi hanya dianggap sebelah mata dan remeh, tetapi saat ini manusia yang menganggap dirinya kaya dann mensombongkan diri akan kekayaannyya kalah dengan tukang sapu dan tukang pel yang mereka hina hingga saat ini mereka masih mampu berjamaah dalam kedua tempat suci tersebut. Mungkin ini teuran akan sifat manusia yang selalu sombong dan serakah. Dimana orang yang dianggap hina justru sekarang oleh Allah diangkat derajatnya lebih mulia.

Kesimpulan dari adanya si kecil nan unik ini, dia menyadarankan kita akan kesombongan kita terhadap tuhan, tentang ibadah kita yang sangat jauh dari kata sempurna, dan juga mengajarkan untuk hidup bersih, sehat, dan selalu bersyukur.

Semoga kita selalu diberi kesehatan oleh Allah, dan semoga si kecil ini saat Ramadhan telah kembali ke asalnya, dan kita semua mampu menjalankan aktivitas yang biasa kita lakukan saat Ramadhan dan saat Lebaran. by Umrotul Khoiroh Ummah

Berlangganan via Email