Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan hasil yang tidak subyektif, diperlukan adanya patokan untuk menentukan dan ,mengukur apakah seseorang telah memenuhi syarat untuk digolongkan sebagai siswa yang berhasil, lulus, naik kelas atau tidak. Ada tiga acuan yang dipergunakan dalam penilaian, yaitu penilaian dengan acuan patokan (Criterion Referenced Interpretation), penilaian dengan acuan norma atau kelompok (Norm referenced Interpretation), dan penilaian dengan acuan gabungan.
Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Pengertian Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian Acuan Patokan adalah penilaian  yang menggunakan kriteria atau standart tertentu dengan tujuan instruksional. Pengukuran atau penilaian keberhasilan belajar siswa atas penafsiran tingkah laku (performance) yang didasarkan kriteria atau standar khusus, maksutnya penilaian keberhasilan penguasaan yang ada didasarkan pada tingkat yang sudah dibuat terlebih dahulu. Misalnya, untuk membuktikan bahwa kamu tuntas belajar maka kamu harus mengikuti ujian akhir semester dan dapatkan nilai minimal 70. (Bermawi Munthe, 2009 :1001).

Dari beberapa macam arti patokan dalam PAP seperti batas lulus (cut score) atau skor terendah yang diperoleh. Ada juga yang mendefinisikan keterampilan atau pengetauhan khusus yang diukur dan dipakai untuk mencapai tujuan samapai batas mana siswa mampu menguasai dan menjawab tes dengan benar.

Penilaian Acuan Patokan bertujuan untuk menilai peserta didik dengan cara menyeleksi secara pasti status individual, dengan batas-batasan yang telah ditentukan sebelumnya. Penilaian semacam ini, juga bisa dilihat dari tingkat kesulitan soal, jadi peserta didik mampu mengira-ngira skor berapa yang harus dicapai, dengan presentase yang telah ditetapkan. Ada beberapa jenis-jenis Penilain Acuan Patokan sebagai berikut :
  1. Entry-behaviors test, yaitu tes yang diadakan sebelum program pengajaran dilaksanakan, bertujuan untuk mengetahui sampai batas mana penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki peserta didik yang dapat dijadikan dasar untuk menerima program pengajaran yang akan diberikan.
  2. Pre-test, yaitu tes yang diberikan sebelum pengajaran dimulai yang bertujuan untuk mengetahui sampai dimana penguasaan dan pengetahuan peserta didik terhadap bahan pengajaran yang akan dipelajari.
  3. Post-test, yaitu tes yang diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran yang bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pencapaian siswa terhadap bahan pengajaran setelah mengalami suatu kegiatan belajar.
  4. Embedded-test, yaitu tes yang dilaksanakan disela-sela atau pada waktu-waktu tertentu selama proses pengajaran berlangsung, yang bertujuan untuk mengetes peserta didik secara langsung sesudah suatu pengajaran, sebelum post-test dan untuk mengetahui kemajuan siswa sebelum remedial dan post-test.
Ada beberapa ciri-ciri yang terdapat dalam Penilaian Acuan Patokan  (PAP):
  1. Terdapat kemampuan kognitif minimal yang harus dimiliki oleh peserta didik
  2. Adanya kemampuan psikomotorik dan sikap mental minimal sebagai prasyarat
  3. Meletakkan perbedaan latar belakang peserta didik sebagai unsur individual
  4. Sebagai alat diagnosis kesulitan siswa
  5. Dapat difungsikan sebagai embrio tes baku
  6. Tidak komparatif terhadap kelompok, sehingga dapat melemahkan semangat kompetisi
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa PAP (Penilaian Acuan Patokan) adalah pengukuran tingkah laku (performance) yang didasarkan kriteria atau standar khusus tertentu yang telah disepakati lembaga, institusi, atau universitas.

Kriteria Penyusunan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Dengan menggunakan acuan kriteria, berasumsi bahwa hampir semua orang bisa belajar apa saja, namun waktunya yang berbeda. Konsekuensi dari Penilaian Acuan Patokan (PAN) yaitu adanya program remidi (mengulang/memperbaiki), program pengayaan, dan program percepatan. Penafsiran hasil tes selalu dibandingkan dengan standar atau kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya (Djemari, 2004). Ada hal hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP):
  1. Penilaian hasil tes peserta didik menggunakan acuan kriterium. Maksudnya nilai yang guru berikan kepada peserta didik harus didasarkan pada standar mutlak. Jadi guru harus membandingkan skor mentah hasil ujian masing- masing peserta didik dengan skor maksimal ideal yang mungkin dapat dicapai oleh peserta didik.
  2. Penentuan nilai yang menggunakan PAP ini, tinggi rendahnya nilai masing-masing peserta didik mutlak berasal dari tinggi rendahnya skor yang dapat dicapai oleh peserta didik yang bersangkutan.
  3. Dalam penerapannya, guru menuntukan nilai seorang peserta didik dengan jalan membandingkan skor mentah hasil tes dengan skor maksimal idealnya.
  4. Rumus yang dapat digunakan yaitu : Skor mentah/ skor maksimum ideal x 100. Setelah itu nilai- nilai peserta didik di terjemahkan menjadi nilai huruf yang telah disepakati di setiap sekolah. Seperti :
Nilai 85 ke atas = A

Nilai 75-84 = B

Nilai 65-74 =C

Nilai 55-64 = D

Ciri-ciri Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Dalam Penilaian Acuan Patokan terdapat bebrapa ciri-ciri diantaranya, sebagai berikut:
  1. Kelulusan peserta didik  tidak dilihat dari peringkat, melainkan kelulusan peserta didik ditentukan oleh suatu patokan atau persyaratan tertentu.
  2. Penilaian Acuan Patokan merupakan penilaian yang berbasis kompetensi.
  3. Peserta didik dinilai dengan menggunakan kriteria atau patokan yang telah ditentukan.
  4. Sering dihubungkan dengan penguasaan materi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan tes awal (pre-test) dan tes akhir (post test).
  5. Sering digunakan guru untuk mengetahui materi yang sudah dipahami dan belum dipahami oleh peserta didik.
Jadi ciri-ciri Penilaian Acuan Patokan yaitu terdapat kemampuan kognitif minimal yang harus dimiliki peserta didik, adanya kemampuan psikomotorik dan sikap mental minimal sebagai prasyarat, menjadi alat diagnosis kesulitas siswa, dan mengukur lulus tidaknya berdasarkan patokan tertentu yang telah disepakati.

Model Penerapan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian Acuan Patokan (PAP) merupakan pengukuran yang menggunakan acuan berbeda.
  1. Dalam pengukuran PAP, peserta didik  dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu, dengan tujuan pembelajaran bukan penampilan peserta didik yang lain.
  2. Keberhasilan dalan prosedur penilaian ini bergantung pada penguasaan materi  atas kriteria yang dijabarkan dalam pertanya.
  3. Dengan Penilaian Acuan Patokan, setiap peserta didik dapat diketahhui materi yang sudah dan belum dikuasai.
  4. Dan dengan penialaian ini dapat mengembangkan alat ukur berhasil atau tidak proses pembelajaran dengan mengadakan pre-test dan pos-test.
  5. Dalam Penilaian Acuan Patokan berasumsi bahwa semua orang dapat belajar apa saja dengan waktu yang berbeda-beda. Sehingga guru dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
  6. Konsekuensi yang didapatkan peserta didik jika nilai kurang baik adalah harus mengikuti remidi.
Contoh: Untuk mendapatkan nilai A peserta didik harus mendapatkan skor yang telah ditentukan batasannya.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menetapkan kritreria. Misalnya:

Tabel 1
Kriteria Rentang Nilai PAP

Rentang Nilai
Nilai
1
2
90-100
80-89
70-79
60-69
50-59
40-49
30-39
20-29
10-19
0-9
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Langkah dua yaitu mengonversi skor mentah ke nilai.
Untuk skor
50 dikonversikan menjadi nilai 6
45 dikonversikan menjadi nilai 5
40 dikonversikan menjadi nilai 5
35 dikonversikan menjadi nilai 4
30 dikonversikan menjadi nilai 4
Jadi model penerapan PAP (Penilaian Acuan Patokan dapat dilakukan dengan cara mendata skor mentah terlebih dahulu, lalu menetapkan kriteria rentang nilai, kemudian mengonversi skor mentah ke rentang nilai yang telah disepakati.

Kelebihan Dan Kekurangan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

a. Kelebihan Penilaian Acuan Patokan
  1. Dapat membantu guru merancang program remidi.
  2. Tidak membutuhkan perhitungan statistic yang rumit.
  3. Dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.
  4. Nilainya bersifat tetap selama standar yang digunakan sama.
  5. Hasil penilaian dapat digunakan untuk umpan balik atau untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau belum.
  6. Banyak digunakan untuk kelas dengan materi pembelajaran berupa konsep.
  7. Mudah menilai karena ada patokan.
  8. Dengan PAP guru dapat mengetahui perkembangan peningkatan kualitas pembelajaran setiap peserta didik.
b. Kekurangan Penilaian Acuan Patokan
  1. Peserta didik betapa kurang pintarnya  akan mendapatkan nilai tinggi jika butir- butir soal yang diberikan berbobot rendah.
  2. Peserta didik betapa pintarnya akan mendapat nilai rendah, jika butir-butir soal yang diberikan terlalu sulit.
  3. Tidak cocok digunakan untuk penilaian  tes sumatif. Jika penilaian tes sumatif menggunakan PAP maka akan banyak peserta didik yang dinyatakan tidak lulus.
  4. Tidak cocok digunakan untuk penilaian dalam rangka mengisi rapot .
  5. Tidak cocok digunakan dalam rangka mengisi ijazah atau penentuan kelulusan karena penilaian ini tidak mempertimbangkan kemampuan kelompok atau rata-rata kelas.

Berlangganan via Email