Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Eksistensi bullying pada anak Sekolah Dasar di Era Milenial

Istilah bullying, diketahui sebagai suatu kegiatan perundungan atau penindasan yang melibatkan hal-hal bersifat negatif dengan mencelakai, menyakiti fisik maupun batin sesorang. Di zaman serba modern kini, hal yang berhubungan dengan bullying sangatlah mudah terjadi. bagi Para pelaku kejahatan tentunya akan lebih leluasa dalam memanfaatkan teknologi untuk melakukan hal ini termasuk pada anak usia sekolah dasar. Bahkan sering ditemui, kasus-kasus bulyying disekolah yang dilakukan oleh sesama pelajar. Tujuan dari tindakan para penindas, biasanya didasari oleh perasaan iri atau ketidaknyamanan pada diri mereka. Pemikiran seperti ini, memunculkan perasaan ingin menjadi lebih kuat dan tak ingin tersaingi dari pada yang lain.
Eksistensi bullying pada anak Sekolah Dasar di Era Milenial

Usia anak sekolah dasar, umumnya berkisar antara 7-10 tahun. Dan lebih dikenal dengan usia golden age atau middle childhood. Pada usia ini, anak-anak mulai menjalani kehidupan sosial bersama teman sebayanya. Mereka mulai mengembangkan kepribadian diri mereka seperti pembentukan konsep diri fisik, sosial, dan akademis untuk mendukung perkembangan harga diri, percaya diri dan efikasi diri. Maka dari itu, diusia ini rentan sekali terpengaruh oleh lingkungan sekitar dan orang-orangnya. Peran serta guru dan orang tua penting diperlukan dalam membimbing anak agar masalah bulyying dapat dihindari. Namun, seiring perkembangan zaman dengan akses internet dan gadget yang sangat berkembang pesat kebanyakan anak diusia ini sudah dipermudahkan dalam mendapat akses teknologi. Dan kasus bulyying pada anak menjadi meningkat dengan pesat. Tak jarang para pelaku juga terpengaruh dari apa yang mereka dapatkan dalam akses teknologi saat ini. 

Kasus bulyying terbagi menjadi 2 yaitu, kasus bullying ringan dan berat. Sebagai contoh darinya, ketika bulyying itu bersifat verbal seperti memaki-maki, mencaci maki dan menghina. Dalam artian, hanya menyakiti perasaan. Sedangkan kategori bullying berat, bilamana sampai terjadi kekerasan fisik dan mengakibatkan trauma psikis maupun cedera yang parah 

Dalam tingkat sekolah dasar, anak yang paling beresiko mendapat tindak bullying adalah anak yang tak bisa membaur dengan baik dilingkungannya atau biasa yang disebut anak kurang populer. Anak ini cenderung tak melawan maupun melaporkan kejadian penindasannya terhadap orang dewasa ataupun orang terdekatnya. Mereka lebih sering menyendiri dan memendam kesulitan psikologisnya. Hal ini berakibat pada kerusakan mental dan emosional yang mana akan berujung pada penurunan tingkat akademis dan kepercayaan diri. Tak hanya para korban saja yang mendapat pengaruh buruk dari bulyying tetapi, juga para penindas. Mungkin, para penindas tak mendapat luka secara fisik. tetapi, dalam segi mental dan emosionalnya terdapat gangguan yang mana mereka mendapat kepuasan atau kekuasaan atas tindakan penindasan mereka. Semakin keji tindakan mereka, tak ayal penindas juga semakin senang atau terhibur saat melihat kondisi korban yang tersakiti. Namun terkadang ada juga beberapa dari para penindas yang merasa bersalah, meskipun hanya sedikit, atas perbuatan mereka. Hal ini dapat menyentuh emosi mereka dan dapat menyadarkan mereka bahwa perilaku mereka selama ini salah.

Perundungan hingga saat ini menjadi masalah serius di jenjang sekolah dasar. Pasalnya, faktor-faktor penyebab dari bulyying bukan hanya dari lingkungan sekolah saja. Tetapi, terdapat beberapa faktor dari luar lingkungan sekolah seperti, rumah, lingkungan sosial, orang tua, juga keterkaitan dengan kemudahan dalam mengakses teknologi. Dalam contoh seperti tayangan kartun di televisi. Tak sedikit yang mengambarkan tentang bagaimana tindak perundungan dan penindasan dalam setiap adegan kartun yang anak-anak tonton kini. Dampingan orang tua sangat diperlukan untuk memberikan pengarahan dan pengertian dari maksut dalam setiap tontonan kartun yang mereka tonton.

Tak terkecuali dengan anak-anak yang memainkan game lewat gadget mereka. Beberapa game diperuntukkan bukan untuk usia-usia seumuran mereka dikarenakan terdapat adegan perkelahian yang patut dipertimbangkan akibatnya. Para orang tua diharapkan lebih menekankan lagi dalam memimbing anak-anak mereka untuk urusan mengenai dunia teknologi. Tentu saja, tidak melarang mereka secara berlebihan tetapi, membatasi waktu bagi mereka memainkan segala teknologi yang ada. Agar anak juga tak ketinggalan zaman.

Kembali pada lingkungan sekolah, sejatinya, usia-usia mereka adalah waktu dalam upaya pencarian jati diri. Namun, terkadang kata-kata yang mereka ucapkan atau segala tingkah laku mereka didapatkan dari orang sekitarnya. Contohnya, ketika guru sedang memarahi murid dengan makian atau ejekan. Hal ini perlu dipertimbangkan lagi mengenai kondisi mental dan perkembangan anak yang akan ditimbulkan kelak. Karena tak menuntt kemungkinan, sang murid akan meniru perkataan dan tingkah sang guru. Oleh karena itu, guru sebagai satu-satunya teladan disekolah juga harus memberikan pengertian juga contoh yang baik kepada murid-muridnya.Dalam menyelesaikan masalah bullying disekolah, tak melulu dengan cara teguran. Tetapi, melalui proses pendekatan pada anak dan komunkasi yang biak, siswa akan merasa aman dan dapat mengutarakan segala hal yang dia alami termasuk alasannya menjadi pembully. Dengan proses bimbingan psikologi atau konseling, para korban harus mendapat rasa perlindungan yang baik juga solusi yang tepat untuk mengatasi trauma fisik maupun psikis yang didapatkan.

Oleh karena itu kesadaran akan bullying harus lebih ditingkatkan. Yaitu dengan Mulai bertindak dan berbicaralah kepada anak-anak di sekitar. peduli dan bertemu dengan guru-guru serta para pengurus sekolah agar penindasan yang kerap terjadi akhirnya dapat dihentikan. Tanpa keberanian untuk berbicara kepada siapapun, perubahan tidak akan dapat diperoleh dalam dunia ini.

Berlangganan via Email