Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mirisnya Dampak Penggunaan Plastik

Masalah polusi plastik sedang menjadi isu yang hangat di indonesia. Sudah menjadi fakta yang tidak dapat di pungkiri bahwa indonesia merupakan negara penyumbang terbesar ke 2 untuk sampah plastik di laut setelah negara tiongkok. Sampah plastik menyumbang sekitar 10% dari polusi plastik global. Bahkan 4 sungai di indonesia termasuk di antara 20 sungai yang paling tercemar di dunia dalam hal sampah plastik.
Mirisnya Dampak Penggunaan Plastik

Banyak plastik yang di gunakan seperti kantong plastik untuk membawa barang belanjaan atau kegunaan sehari-hari, seperti gelas, sedotan, dan peralatan makan. Pada saat yang sama plastik juga menjadi penyumbang terbesar ke 2 untuk sampah plastik. Hal tersebut merupakan bukti bahwa di indonesia kesadaran tentang daur ulang dan dampak lingkungan dari plastik masih sangat kurang.

Semakin maraknya kampanye penggunaan barang-barang non plastik seperti penggunaaan tas kain atau tas daur ulang untuk membawa barang belanjaan merupakan gerakan progresif yang telah dilakukan oleh bebrapa kalangan masyarakat. Sayangnya baru sedikit masyarakat indonesia yang sadar akan pentingnya mangeubah daya hidup menjadi lebih hijau.

Semua masyarakat juga sadar bahwa masalah plastik adalah hal yang kompleks. Industri plastik memberikan tawaran berupa barang-barang berbahan dasar plastik dengan harga yang lebih murah. Dan masyarakat pun memilih untuk membelinya tanpa melihat dampak yang terjadi jika terus menerus mengomsumsi barang-barang plastik.

Sebagai aktor yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan, pemerintah indosnesia seharusnya juga dapat bersikap lebih tegas terkait penggunaan plastik. Apalagi akhir-akhir ini indonesia menerima import sampah plastik dari negara-negara lain. Padahal lebih dari 40 negara dan kota di seluruh dunia telah menerapkan larangan kantor plastik. Bahkan seketariat program lingkungan PBB mengintruksikan pelarangan penggunaan kantong plastik secara global. Sampah plastik di kendalikan dengan adanya kebijakan plastik berbayar di pusat perbelanjaan contohnya indomare dan alfamart, cara itu di pandang akan sangat efektif dalam mengurangi dampak sampah plastik. Namun faktanya bebanding terbalik, kebijakan tersebut hanya berlaku di beberapa pusat perbelanjaan saja. Sehingga, kebijakan tersebut tidak di jalankan secara konsisten. Tidak adanya naungan hukum yang jelas dan tegas, serta sosialisasi yang kurang membuat kebijakan tersebut tidak berjalan dengan baik. Maka dari itu, pemerintah harus memberikan perhatian lebih dengan bersikap tegas terhadap masalah penggunaan kantong plastik.

Terlepas dari semua hal ini, dalam menanggapi masalah plastik yang semakin ke sini semakin urgen ini dikembalikan kepada diri sendiri. Mengutip Ucapan Prof. Antoni Ryan mengatakan bahwa bukan plastik yang menjadi masalah, tetapi bagaimana orang memilih untuk berurusan dengan plastik.

Dampak plastic terhadap lingkungan merupakan akibat negatif yang harus ditanggung alam karena keberadaan sampah plastik. Dampak ini ternyata sangat signifikan. Sebagaimana yang diketahui, plastik yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang.

Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara. Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut.

Untuk menanggulangi sampah plastik beberapa pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi. Terus gimana, dong?. Kita memang tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi yang paling memungkinkan adalah dengan memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), dan mendaur ulang (recycle). Terakhir, mungkin perlu regulasi dari pemerintah untuk meredam semakin meningkatnya penggunaan plastik. Wahyu Hidayatulloh

Berlangganan via Email