Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Tinggi Dipandang Tak Berarti

Saat ini, tidak dapat dipungkiri rata-rata masyarakat menganggap bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi merupakan hal yang tidak perlu. Banyak masyarakat yang memilih untuk bekerja setelah menyelesaikan pendidikan di pendidikan atas. Apabila pemikiran tersebut terus menerus ada dan berkembang di masyarakat, maka kehidupan mereka tidak akan berkembang, dan cenderung sempit. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk merubah masa depan menjadi lebih baik dan menciptakan pemikiran yang luas.
Pendidikan Tinggi Dipandang Tak Berarti

Seperti yang kita ketahui, perguruan tinggi ialah lembaga pendidikan yang merupakan kelanjutan pendidikan menengah atas yang diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keseniaan. Pada zaman sekarang pendidikan sangat penting untuk menunjang masa depan seorang anak agar lebih baik, tapi kenyataannya saat ini justru banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikannya. Saat ini setelah anak menyelesaikan pendidikannya dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SK) mereka akan memilih untuk bekerja, terutama anak-anak yang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal itu disebabkan karena keterbatasan ekonomi dan kesalahan asumsi di masyarakat. Masyarakat yang berada dalam golongan menengah ke bawah berasumsi bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menghabiskan biaya yang besar, padahal pada kenyataannya biaya kuliah setiap anak tergantung pada kondisi ekonominya, selain itu di perguruan tinggi juga disediakan beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu dan beasiswa bagi siswa berprestasi.

Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dianggap sebagai hal yang tidak berguna oleh masyarakat. Mereka berasumsi bahwa pendidikan tinggi bukan hal yang berpengaruh terhadap masa depan seorang anak, hal itu dikarenakan pola pikir mereka terlalu sempit, maklum saja masyarakat terdahulu banyak yang tidak mengenyam pendidikan. Sehingga, mereka tidak mengetahui bahwa sebenarnya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tiggi tergantung pada kondisi ekonomi mereka, dan bahkan ada juga yang gratis. Selain itu, mereka melihat beberapa realitas mengenai sarjana yang menganggur dan luntang lantung. Padahal pendidikan tinggi benar-benar merubah nasib seseorang, jika seseorang memiliki gelar, maka orang tersebut dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan.

Selain itu, masyarakat yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi pasti memiliki pola pemikiran yang lebih luas, sehingga mampu menciptakan perubahan yang besar dan bermanfaat bagi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri, di era revolusi industri 4.0 perkembangan teknologi semakin maju, banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh mesin, sehingga lapangan pekerjaan semakin sedikit. Oleh karena itu, skill manusia harus lebih ditingkatkan. Untuk meningkatkan skill tersebut, maka setiap individu membutuhkan pendidikan yang lebih baik, karena pola pemikiran dan kemampuan masyarakat yang berpendidikan tinggi jauh lebih maju daripada yang hanya menempuh pendidikan sampai pendidikan atas saja.

Pada realita kehidupan nyata, beberapa orang yang tidak megenyam pendidikan bisa sukses, akan tetapi hal itu hanya terjadi dengan perbandingan 1:1000, sedangkan masyarakat masih berasumsi bahwa yang terpenting bisa sekolah, meskipun tidak sampai menjadi sarjana, menyelesaikan pendidikan sampai pendidikan atas dirasa sudah cukup. Bahkan di desa saya, masyarakat berpendapat bahwa anak yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hanya akan menghabiskan harta orang tuanya, dan intinya mereka melanjutkan pendidikan untuk memperoleh pekerjaan, jadi tidak perlu bersekolah lagi, karena tidak akan berguna.

Selain itu, pemikiran masyarakat yang benar-benar menyepelekan anak yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah mereka menganggap bahwa anak perempuan tidak perlu memiliki gelar yang tinggi, mereka tidak perlu bersekolah, karena pada akhirnya mereka akan kembali ke dapur. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, mengapa masyarakat dapat berasumsi seperti itu? padahal untuk kembali ke dapur (menjadi ibu rumah tangga) juga dibutuhkan ilmu, apalagi untuk mendidik anak, jika perempuan memiliki pengetahuan yang lebih maka anak akan dapat terdidik dengan baik untuk dapat berpikir luas mengikuti pola perkembangan zaman.

Padahal sudah jelas kenyataan yang terjadi di masyarakat, perempuan yang berpendidikan tinggi jauh lebih sukses dan terjamin hidupnya, karena mereka memperoleh pekerjaan yang lebih baik dari perempuan yang tidak bekerja dan tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain itu, untuk seseorang yang bekerja setelah menyelesaikan pendidikan atas akan memperoleh pekerjaan yang menguras banyak tenaga dengan upah yang sedikit, berbeda dengan seseorang yang berpendidikan tinggi pasti akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan, dan pasti hidupnya akan terjamin. Namun, mengapa masyarakat masih berasumsi pendidikan tinggi tidak berarti?

Sudah seharusnya pola pemikiran masyarakat itu dirubah agar lebih terbuka dalam melihat realita yang ada dan mampu berpikir luas mengikuti perkembangan zaman. Sehinggamerekatidak akan hanya asal-asalan dalam berasumsi/berpendapat. Oleh karena itu, para mahasiswa yang mengenyam pendidika tinggi dapat mengubah pola pemikiran tersebut dengan membuktikan bahwa pendidikan tinggi sangat berarti. Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan ilmu yang dipelajari untuk mensejahterakan masyarakat, sehingga asumsi masyrakat akan dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Berlangganan via Email