Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Mengatasi Dilematika Calon Guru yang Introvert

Guru, sudah pasti menjadi seseorang yang multitalent. Dituntut untuk bisa terampil mengelola kelas, berwibawa, cerdas, sabar namun tegas, memahami peserta didik yang beragam sifatnya, rapi, kreatif, komunikatif, bersahabat, dan disiplin. Apalagi seorang guru harusnya bisa berbaur dengan guru yang lainnya. Tapi, kalau guru itu seorang introvert, apa bisa dia berbaur dengan guru yang lainnya ? menjadi pusat perhatian siswanya ? bahkan guru itu lha yang mengatur ritme dan tempo harmonisasi kelasnya.


Cara Mengatasi Guru Introvert

Kita pasti pernah mendengar istilah introvert dan ekstrovert. Introvert adalah sebuah kepribadian seseorang yang cenderung kurang bisa bersosialisasi, dianggap seseorang yang pendiam dan cuek, bahkan tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas. Sedangkan ekstrovert adalah kepribadian seseorang yang cenderung mudah bergaul, banyak bicara, suka keramaian, dan bebas mengekspresikan dirinya. 

Introvert bisa terjadi pada seseorang, karena sifat bawaan dari orang tuanya, trauma masa kecil yang kelam, kebiasaan, dan faktor lingkungan. Introvert bukan lha sebuah penyakit psikologis sebenarnya, tapi seseorang yang introvert akan cenderung peka terhadap bahasa tubuh dan mimik wajah orang lain, dia akan lebih mudah melihat teman yang benar-benar tulus padanya atau sekedar membutuhkan lalu pergi. Begitu juga dengan muridnya, guru yang introvert akan lebih memahami karakteristik siswanya, bahkan menjadi pendengar yang baik untuk mendengarkan curhatan siswanya. Ini menjadi poin menguntungkan bagi guru dan siswa. Guru mengetahui seluk beluk dan permasalahan siswanya karena terbuka kepada guru sehingga permasalahan bisa segera teratasi, sedangkan siswa, merasa nyaman dan aman karena menemukan guru yang bisa menjadi tempat curhat dan solusi.

Guru introvert juga akan lebih pro kepada siswanya yang pendiam, guru introvert tidak akan membeda-bedakan siswa yang pendiam maupun aktif, karena guru introvert paham kalau murid pendiam mempunyai penanganan tersendiri tanpa ada diskriminasi. Guru introvert juga lebih memperhatikan tumbuh kembang siswa yang pendiam dan tidak akan membiarkan siswanya terus-terusan menjadi siswa yang pendiam, guru introvert tidak mau apabila siswa pendiam itu akan mengalami hal yang sama dengan apa yang guru introvert rasakan, guru introvert akan lebih mengasah kepercayaan diri dan keberanian anak pendiam.

Tapi, disisi lain. Kesabaran guru introvert dalam mengajar, terkadang membuat siswa menjadi semena-mena dalam memperlakukan gurunya, guru introvert yang tidak bisa bersifat tegas, akan kesulitan dalam mengondisikan kelasnya. Apalagi guru introvert juga mempunyai volume suara yang kecil dalam mengajar, sehingga membuat siswanya kadang tidak paham terhadap penjelasan guru atau mungkin acuh tak acuh terhadap pelajaran karena tak adanya hasrat untuk belajar.

Ditambah lagi sifat guru yang introvert, akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam pertemanan dengan guru yang lainnya. Guru lain akan merasa sungkan dan jarang berbicara dengan guru introvert, sedangkan guru introvert, ingin sekali menjalin komunikasi tapi sulit untuk memulai pembicaraan, kalaupun memulai pembicaraan akan terkesan kikuk dan canggung. Padahal kerja sama yang antar guru bisa menimbulkan sinergi yang bagus untuk siswa dan sekolah.

Menjalin hubungan baik dengan orang tua siswa juga demikian, apalagi jika wali murid itu adalah tetangga guru introvert sendiri. Sudah pasti mengetahui keseharian dan sifat guru itu. Bisa saja wali murid tidak percaya kalau guru introvert itu bisa mengajar anaknya, wali murid akan cenderung meremehkan dan kurang komunikasi dalam mengetahui perkembangan belajar anaknya di sekolah.

Suasana pekerjaan seperti itu, membuat guru gampang terkena tekanan psikologis sehingga membuat dia tak bergairah dalam mengajar, tidak nyaman dengan suasana sekolah, dan berimbas pada profesionalitas mengajarnya. Bahkan bisa jadi, guru keluar dari sekolah dan tidak melanjutkan profesinya.

Kalau sudah begini, apakah seorang introvert tidak jodoh menjadi guru ? apakah mimpi menjadi guru harus terkubur dalam-dalam karena kepribadiannya ? apakah tidak ada pelatihan untuk orang introvert yang ingin menjadi guru ?.

Orang yang introvert, mungkin dulunya saat dia masih sekolah selama 12 tahun lamanya ( SD-SMP-SMA ), tidak ada penanganan serius dari pihak guru maupun orang tua. Guru membiarkan jika siswanya mempunyai masalah, guru lebih mengedepankan tuntutan untuk menyelesaikan pembelajaran sesuai waktu yang ditentukan daripada mengurusi masalah siswanya, lalu dimanakah peran guru BK ?.

Guru BK pun seringkali acuh tak acuh terhadap anak yang introvert, dikira sifat pemalu dan pendiam itu sesuatu yang wajar dan tidak perlu penanganan khusus, justru anak-anak yang nakal itu yang menjadi prioritas utama guru BK. Memang ada segelintir guru BK yang benar-benar tulus ingin membantu semua kesulitan siswanya, tapi sulit ditemukan di jaman sekarang. Anak yang introvert pun kadang tidak berani mencurahkan keluh kesahnya kepada guru BK.

Orang tua pun kadang tidak mengetahui kalau anaknya mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, orang tua mungkin sibuk sehingga tidak sempat memperhatikan anaknya, atau mungkin memang orang tua tidak mau tau dengan urusan anaknya yang penting anaknya rajin ke sekolah, bisa juga orang tua merasa anaknya tidak mengalami introvert saat di rumah karena anak merasa nyaman dan menjadi diri sendiri ketika di rumah, tapi berbeda ketika di sekolah, anak cenderung tidak bebas mengekspresikan dirinya sehingga membuat dia susah bergaul. Kepribadian anak yang sulit bergaul juga akan mempengaruhi prestasi belajar mereka, bahkan mungkin akan menghindari kerja kelompok dan tidak nyaman ketika diharuskan untuk membentuk kelompok.
Anak yang introvert sejatinya perlu penanganan khusus sejak dini, agar dia tidak terbawa saat dewasa nanti. Kesulitan yang dia hadapi akan semakin komplit. Sulit dalam menjalin relasi kerja, sulit berkembang menjadi agen perubahan ketika di kampus, bahkan bisa menjadi mahasiswa yang pasif dan menyendiri, sulit mengembangkan bisnisnya apabila dia menjadi wirausaha, dan mungkin bisa jadi akan sulit menemukan pasangan yang tulus mencintainya. Orang yang introvert juga tidak mau apabila kepribadiannya ini menurun ke anaknya dan merasakan kesulitan yang dialami orang tuanya.

Anak yang introvert terkadang sering dipandang aneh, karena tidak seperti anak-anak lainnya yang mudah bergaul dan menjalin komunikasi. Bahkan anak introvert bisa menjadi sasaran bully-ing. Oleh karena itu, orang-rang perlu mendukung orang introvert untuk mengasah kepercayaan diri dan keberaniannya, agar kelak saat dia menjadi seorang guru, dia akan siap dan matang dalam mengajarkan ilmunya, perlu juga latihan dan kebiasaan untuk tampil di depan umum dan prepare yang matang saat mengajar, ketika terbiasa, semua kan mejadi mudah, dan tidak menuntut kemungkinan guru introvert bisa lebih baik dari guru ekstrovert dalam mengajar apabila mau berusaha dan berdoa.

By : Nafi’atul Ulum

Berlangganan via Email