Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Implementasi Pembelajaran Fiqih Pada Anak Inklusi (ABK) Tuna Rungu

Pendidikan Inklusi (ABK)


Implementasi pembelajaran merupakan upaya/usaha yang kita lakukan dalam proses belajar dengan cara berkomunikasi dan interaksi antara pendidik dan peserta didik. Yang mana dari keduanya ada tukar balik informasi yang disampaikan. Lalu bagaimana jika peserta didik ini tuna rungu atau mengalami  gangguan pendengaran baik yang permanen maupunyang tidak permanen ? Hal pertama yang dilakukan seorang pendidik yakni sama seperti yang dilakukan oleh guru pada umumnya, yakni mempersiapkan rencana pembelajaran seperti apa? Beserta strategi dan metode yang cocok dengan murid muridnya.

Peserta didik yang tuna rungu ketika pelajaran berlangsung dan guru menerangkan materi ini harus ada interaksi / obrolan dengan siswa tersebut sesuai materi yang disampaikan. Jangan sampai siswa yang berkebutuhan khusus merasa tidak percaya diri. Oleh karena itu ajaklah anak tuna rungu tersebut interaksi sesering mungkin. Walaupun dia tidak bisa mendengar, tapi dia bisa diajarkan untuk mempraktikkan ucapan kita.

Untuk membiasakan dia interaksi ini dimulai dari ibu/orang terdekatnya, selain dia memperbanyak perbendaharaan kata, dia juga belajar bagaimana bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Sehingga anak jadi percaya dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Dalam pengajaran dengan siswa yang tuna rungu cara yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran yakni:
  1. Melakukan percakapan menggunakan bahasa sehari-hari seperti percakapan antara seorang ibu dengan anaknya. Percakapan tersebut harus dicapkan berulang-ulang, satu persatu dan pelan-pelan. Misalnya “sholat ada 5 waktu”.
  2. Menggunakan peraga yang bisa bisa dilihat siswa untuk membantu pemahaman siswa tentang maksud dari apa yang dibicarakan guru, untuk mencegah kesalah pahaman siswa tuna rungu dalam menangkap informasi. Misalnya siswa tersebut ditayangkan video tentang gerakan sholat.

Dalam penyampaian materi  kepada siswa tuna rungu, kita bisa menggunakan media sebgai alat peraga untuk mempermudah penyampaian materi kepada siswa tersebut. Dalam penggunaan media pun harus melihat siswa yang diajar, agar tepat sasaran seperti anak yang tuna netra pakai media audio, anak yang  tuna rungu medianya bentuk visual. Selain menggunakan media untuk siswa yang tuna rungu juga dibiasakan melakukan hal-hal yang positif, apalagi dalam hal perilakunya.

Untuk evaluasi pembelajaran untuk anak ABK ini juga sama dengan evalusi untuk anak yang normal yakni ada penilaian tes dan non tes, penilaian non tes ini biasanya guru melihat dari kesehariannya, sikapnya. Kalau non tes ini diambil dari nilai waktu dia ulangan, baik ulangan tulis maupun ujian lisan. Kalau ujian anak ABK ini diturunin tingkat kesulitannya sesuai yang sekiranya mereka bisa dan pernah melakukannya.Apapun yang diujikan kepada peserta didik semuanya sudah melalui tahap pengkajian sesuai dengan KD dan materi yang sudah disampaikan. Tetapi dalam pengajaran kepada anak inklusi ini jadi lebih berat jika tidak adanya kekompakan dan saling komunikasi tentang perkembangan anaknya antara guru sama orang, orang tua dengan anak, anak dengan guru yang mengasuh siswa tersebut .

Dari pengalaman saya waktu minggu lalu habis berkunjung ke sekolah MIT Ar-Roihan Lawang, disana sistem pengajarannya sangat baik, baik dalam hal perhatian yang cukup besar pada anak ABK. dimana satu sampai dua anak ABK ini di dampingi oleh satu guru, dan dia ada waktunya pembelajaran dikelas reguler bersama temannya yang anak reguler(normal) dan ada waktunya dia dipisah dalam pembelajarannya. Kata kepala sekolah" kenapa kita tidak memisahkan mereka dengan teman-temannya yang normal mbak? Karena kita mau mereka bisa berinteraksi dan tidak merasa malukalau sudah di luar ruangan yang sangat berbeda dengan dunia merekasehinggatidak merasa kaget dengan keadaan itu".

Para orang tua mereka jugaperlu dikuatkan hatinya agar tidak pesimis telah memiliki anak yang berkebutuhan khusus. Ketika mengajak anaknya keluar, mereka tidak perlu malu, karena merekalah yang tau tentang tumbuh kembang anaknya. Setiap perkembangan anaknya untuk bisa berbicara misalnya, itu butuh proses yang tidak mudah.
Salah satu menumbuhkan kepercayaan dalam diri anak dan orang tuanya adalah dengan mencari bakat terpendam yang mereka miliki. Di sekolah MIT Ar-Roihan terdapat kurang lebih 30 ekstrakurikuler untuk menumbuh kembangkan potensi mereka. Sudah banyak kejuaraan yang dirahinya,dan sering  diundang bersama aktris Indonesia. Itulah yang nantinya menanamkan kepercayaan bahwa dia sama dengan yang lain. Hanya saja Allah memberi mereka anggota ataupun fungsi tubuh yang begitu.

By : Arini Rahmatika


Berlangganan via Email