Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Menanamkan Pendidikan Karakter (Jujur) Pada Murid MI untuk Masa Depan Indonesia Gemilang

Tepat pada bulan Desember 2018 dunia pendidikan dikejutkan oleh merosotnya kejujuran dalam segi pendidikan di Indonesia dengan beredarnya pemalsuan ijazah.  Seperti yang dilansir di laman tirto.id yaitu dengan tercetaknya 873 ijazah, sedangkan jumlah lulus hanya 145 mahasiswa.  Tidak hanya ijazah saja, ada juga kampus abal-abal yang muncul menjadikan mahasiswanya wisuda dengan syarat membayar uang sogokkan. Miris sekali jika membaca berita seperti itu, mungkin ini adalah jawaban dari sebuah penelitian Harvard yang mengatakan bahwa pendidikan Indonesia jauh tertinggal selama 128 tahun dari negara maju.

Jujur

Selain pada tahun 2018 ada juga berita tentang pemalsuan ijazah yang diberitakan  detiknews.com pada tanggal 4 April 2019, bahwasanya ada komplotan dari Surabaya yang mengadakan pemalsuan dokumen diantaranya KTP, SIM, NPMW, dan ijazah.  “Sudah 20 ijazah yang telah saya buat, rata-rata dari kampus di Jawa Timur, di Surabaya juga ada. Universitas WR. Supratman Surabaya sama kesehatan ( Stikes Majapahit Mojokerto).” Kata boby (salah satu komplotan pemalsuan ijazah) di Polsek Sukomanunggal. Dari dua kejadian tersebut akan menimbulkan pemikiran yang menunjukan bahwa pendidikan di Indonesia yang berkarakter kejujuran telah mengalami pemrosotan.

Alasan yang terkuak dari pemalsuan ijazah yaitu orang-orang ingin mendapatkan kedudukan pekerjaan yang lebih tinggi dan mendapatkan tunjangan upahnya banyak nilai nominalnya. Maka cara untuk mendapatkannya dengan pemalsuan ijazah yang mana orang melakukannya tidak usaha terlebih dahulu melaikan ingin secara langsung mendapatkan apa yang dia inginkan (instan). Tidak memperdulikan bahwa perbuatan yang ia lakukan itu akan merugikan dirinya sendiri dan juga semua masyarakat Indonesia. Dia berpikir jarak pendeknya saja tidak memikirkan jarak panjangnya akibat dari ulahnya tadi. Padahal jarak panjangnya akan mengakibatkan Indonesia masa depannya terpuruk dan juga bisa mengakibatkan pemerosotan perekonomian dan pendidikan generasi Indonesia.

Rendahnya karakter kejujuran akan menjadikan kejadian seperti peristiwa diatas. Orang tidak akan memperdulikan bahwa apa yang ia lakukan itu akan menimbulkan rusaknya pendidikan di Indonesia. Yang ia pikirkan hanya uang yang didapatkannya saja. Mungkin kejadian itu semua dimulai dari penanaman karakter kejujuran dimasa kecilnya, sehingga terjadinya kejadian yang dapat merugikan pendidikan Indonesia. Orang yang masih melakukan pemalsuan ijazah berarti orang tersebut penanaman karakter kejujuran  pendidikan pada masa kecilnya terutama pendidikan tingkat MI tidak berhasil.

Pendidikan adalah suatu yang bisa membuat orang menjadikan tahu atas segala ilmu di dunia ini. Dalam pendidikan kita akan bisa mengatur dan membawa negara Indonesia ini menjadi negara yang lebih maju, selain itu pendidikan bisa menjadikan semua masyarakat Indonesia berpikir cerdas dalam segala hal. Sedangkan kejujuran adalah komponen rohani yang memantulkan berbagai sikap terpuji (honorable, respectable, creditable, maqaman mahmuda). Perilaku yang jujur adalah perilaku yang diikuti dengan sikap tanggung jawab atas apa yang dia perbuatnya. Dia siap menghadapi risiko dan seluruh akibatnya dengan penuh sukacita (Tasmara, 2001: 190).

Penanaman karakter kejujuran bisa ditanamkan dalam pendidikan sekolah terutama tingkat dasar. Dalam penanaman kejujuran bisa dibarengi dengan ilmu agama, disinilah pendidik berperan penting. Dalam berhasilnya penanaman kejujuran pada siswa disekolah, akan mejadikan pemikiran ke masa depan siswa akan lebih berpedoman pada kejujuran. Pada sekolah bernaungan madrasah biasanya penanaman kejujuran dibarengi dengan ilmu agama yang mendalam, sehingga siswa dapat menambah ilmu yang banyak dan bertingka laku dalam kehidupan sehari-hari dengan jujur. Dalam masa kecil sudah dibiasakan disekolah kejujuran maka dewasa kelak akan memegang teguh kejujuran yang mana sudah ada dalam hati dan pikirannya dari masa kecil.

Dalam era sekarang tidak banyak orang yang mempunyai sikap jujur dalam kesehariannya. Untuk itu penanaman kejujuran kepada siswa sangatlah penting apalagi siswa sekolah dasar yang pemikirannya masih belum dikotori hal yang lain. Maka dari itu pondasi kejujuran harus ditanam lebih mendalam pada pemikiran siswa MI. Dalam penanaman karakter kejujuran bisa dilakukan pada setiap pembelajaran disekolah. Selain itu bisa juga dilakukan melalui aktivitas sehari hari dilingkungan sekolah yang mana guru akan membimbing setiap tingka laku yang dilakukan siswa. Baik dengan cara lisan maupun tertulis (tata tertib dan laporan sikap), yang bisa menjadikan siswa bertindak jujur.
Selain sekolah, keluarga merupakan tempat yang baik dalam penanaman kejujuran. Karena anak akan banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Untuk itu peran keluarga sangat penting dalam penanaman kejujuran yang akan berguna untuk masa depan anak. Adanya penanaman kejujuran di sekolah akan dikuatkan di keluarga hingga melahirkan pemikiran anak yang begitu kuat dalam melakukan segala hal dimasa depannya nanti. Yang berperan penting dalam penanaman kejujuran di lingkungan keluarga adalah seorang ibu. Dimana ibu merupakan orang tua terdekat anak yang selalu menemaninya setiap waktu, hati seorang perempuan (ibu) akan bersabar menghadapi seorang anak yang selalu ingin dipuji dan dituruti segala sesuatu yang ia minta. Pengajaran dari seorang ibu pada anaknya akan terasa bermakna apabila seorang ibu mempunyai strategi yang menjadikan anaknya nyaman dan menyenangkan ketika diajarkan segala sesuatu. Ayah juga berperan penting, akan tetapi ayah hanya menemani anak tidak banyak seperti halnya oleh ibu. waktu ayah hanya dihabiskan.

Karakter JUJUR


Untuk ibu yang menjadi wanita karier yang tidak mempunyai waktu untuk anaknya dirumah, pada zaman sekarang bisa menitipkan anaknya pada sekolah MI yang full day school. Dalam sekolahan anak mendapatkan ilmu yang mana ilmu tersebut bisa membayar waktu ibu tidak sepenuhnya menemani anaknya saat dirumah. Meskipun anak sudah dititipkan kepada sekolahan yang  full day school, bukan berarti ibu dan ayah tidak sepenuhnya tidak memberikan pembelajaran dan terutama karakter kejujuran pada anak. Orang tua bisa menanamkan dan memperhatikan setiap tingkah laku yang dilakuan seorang anak ketika pada waktu liburan atau waktu senggang.

Ketika siswa dalam sekolah tingkat MI sudah dibekali ilmu agama dan dibiasakan menjadi seorang yang jujur, maka pada dunia dewasa nanti akan menjadi generasi penerus bangsa yang mampu mengendalikan egonya. Dilihat dari sisi pembelajaran penanaman kejujuran terlihat tidak begitu sulit, akan tetapi kalau dilihat dari sisi aktifitas kejujuran sangat sulit diterapkan. Apalagi dalam dunia sekarang banyak orang yang berkeliaran tidak adanya kejujuran, pasti anak yang melihat dan menjalankan aktifitas bersamanya akan mengikuti orang yang dia lihat kesehariannya. Ketika anak sudah dibiasakan kejujuran disekolahan dan dikeluarga, anak pasti tidak akan terpengaruh dalam lingkungan yang banyak orang tidak jujur. Bisa juga dilihat dari anak MI yang biasanya sering berbicara apa adanya tentang teman, gurunya, pertanyaan yang disampaikan gurunya ketika guru menanyakan kegiatannya dirumah. Hal tersebut bisa membuktikan bahwa kejujuran sedikit ditanam dalam diri seorang siswa. Selain itu ketika guru dan orang tua mengetahui anaknya tidak jujur sebaiknya anaknya dinasehati dan dibenarkan untuk menjadi seorang yang jujur. Sehingga anak terbiasa kalau tidak jujur akan malu dan meninggalkan kebohongan.

Ketika dalam pendidikan MI diajarkan tentang karakter kejujuran beserta penerapannya, maka ketika dewasa nanti siswa akan terbiasa melakukan sesuatu dengan kejujuran. Bahkan semisal ada orang mempengaruhinya untuk melakukan ketidakjujuran, pasti siswa akan menolaknya, karena siswa masih mempunyai keilmuan agama yang mengkokohkan diri melakukan kejujuran. Terkecuali siswa yang tidak pernah mendengarkan dan tidak pernah melakukan penerapan kejujuran pada aktifitasnya. Ilmu agama dan karakter kejujuran dapat diperoleh dalam pendidikan MI. Dalam pendidikan MI siswa akan dikuatkan dengan ilmu umum, sikap agama dan lain-lain untuk menyiapkan diri menjadi generasi muda penerus bangsa yang dinanti Indonesia.

Generasi muda yang menerapkan sikap kejujuran setiap aktifitasnya, bisa membawa Indonesia pada gerbang kesuksesan yang menjadikan Indonesia menuju masa yang gemilang. Masa tersebut bisa meningkatkan kemajuan Indonesia dan bisa juga menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang maju setelah menjadi negara yang berkembang seperti saat ini. Karena semua kesuksesan kunci utama adalah kejujuran, tindakan apapun yang dilakukan dengan kejujuran pasti akan berhasil dan sukses. Dan sebaliknya jika semua tindakan yang dilakukan dengan kebohongan pasti tidak akan pernah berhasil.

Sifat kejujuran juga sudah diterapkan oleh semua para nabi khususnya nabi akhiruz zaman yaitu nabi Muhammad SAW, nabi muhammad mempunyai 4 sifat yaitu jujur, amanah, tabliq dan fathanah. Kejujuran juga diterapkan oleh salah satu khulafaur rasidin yang mana beliau juga diberi gelar atas kejujurannya dengan gelar as-sidiq. Yang biasanya kita sebut dengan abu bakar as-sidiq. Abu bakar as-sidiq adalah salah satu sahabat dekat nabi muhammad dan yang terpenting adalah mempuyai sifat kejujuran. 

Untuk menghadapi permasalahan yang banyak dalam hal pemalsuan ijazah di era modern ini. Kita sebagai calon pendidik harus mengajarkan kejujuran pada generasi penerus bangsa yang dimana kesuksesan bangsa Indonesia berada di tangan dan punggungnya. Menyiapkan generasi penerus bangsa yang mempunyai karakter kejujuran sangat kuat akan menjadikan negara Indonesia ini akan lebih maju pada tingkat pendidikannya, sehingga tidak kalah dengan negara maju lain. Dan memberikan penentang  dari penelitian oleh Harvard, bahwa pendidikan Indonesia tidak akan tertinggal dari negara maju meskipun Indonesia belum tergolong negara maju.


By : Mazidatul Hikmah

Berlangganan via Email