Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana PEMBELAJARAN KOMUNIKASI SATU ARAH DAPAT MEMATIKAN KREATIFITAS SISWA?

Penyelenggaraan sekolah telah menjadi kepentingan banyak pihak, bukan hanya orang tua dan masyarakat, tetapi juga negara. Sekolah dianggap sebagai instrumen penting dalam penyelenggaraan pendidikan untuk mewujudkan harapan manusia Indonesia yang tertuang dalam pasal 3 Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

PEMBELAJARAN KOMUNIKASI SATU ARAH DAPAT MEMATIKAN KREATIFITAS SISWA


Namun, masalah-masalah tentang pendidikan di Indonesia seperti tidak ada habisnya. Masalah-masalah pendidikan yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan yaitu mutu pendidikan, perubahan kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, sistem evaluasi, dan sertifikasi guru. Masalah-masalah itu tidak akan pernah habis untuk dikupas dan tidak pernah tuntas untuk dibahas. Salah satu masalah yang juga harus segera ditangani adalah pembelajaran di dalam kelas.

Permasalahan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas yaitu sekolah yang masih menggunakan metode pembelajaran yang lama, yaitu metode ceramah saja. Proses pembelajaran yang masih terpusat pada guru dan konsep yang diajarkan hanya disampaikan secara lisan. Guru belum melibatkan siswa secara aktif dan menyeluruh, yang hanya di dominasi oleh beberapa siswa saja.
 
Pembelajaran yang hanya menggunakan komunikasi satu arah menyebabkan berkurangnya kreatifitas siswa dalam membangun pengetahuan dalam dirinya. Banyak siswa yang merasa bingung dan sulit memahami materi yang telah disampaikan guru dan membuat siswa malas mencari informasi di luar pembelajaran maupun dari referensi lainnya. Hal ini juga mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan sehingga hasil belajar mereka masih di bawah batas standart ketuntasan minimal atau KKM yaitu 68. Dibuktikan dengan hasil tes yang dilakukan di UPT SDN Gentong Pasuruan kelas III A yang mendapat nilai sesuai KKM hanya 44,4%, sedangkan 55,5% mendapat nilai di bawah KKM. (Luluk Mufidah, dkk, 2017).

Tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aktifitas belajar siswa dan hasil belajar pada siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran berbasis proyek. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan menggunakan kerja proyek, menurut Thomas (dalam Wena 2008:114). Pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang inovatif  karena lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan secara kompleks.

Penerapan pembelajaran berbasis proyek menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dapat membuat siswa mendapatkan pembelajaran yang bermakna yaitu pembelajaran yang dikembangkan berdasar paham konstruktivisme. Siswa mendapatkan kesempatan untuk menggali informasi sendiri melalui membaca berbagai buku secara langsung, membuat presentasi untuk ditampilkan pada orang lain, mengkomunikasikan hasil akifitasnya kepada orang lain, bekerja secara berkelompok, memberikan pendapat untuk orang lain dan berbagai aktifitas lainnya.

Keuntungan menerapkan pembelajaran berbasis proyek yaitu:
1. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar
2. Meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah
3. Meningkatkan kolaborasi siswa dengan siswa yang lain
4. Meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber belajar

Langkah-langkah dalam menerapkan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) sebagaimana yang telah dikembangkan oleh  The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri dari:
1. Menentukan pertanyaan yang mendasar (start with the essential question)
2. Mendesain perencanaan proyek pembelajaran (design a plan for the project)
3. Menyusun jadwal pembelajaran proyek (create a schedule)
4. Memonitor siswa dan kemajuan proyek pembelajaran (monitor the students and the progress of the project)
5. Menguji hasil proyek pembelajaran (assess the outcome)
6. Mengevaluasi pengalaman siswa (evaluate the experience)

Menurut, (Rusman, 2010:254) pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa, karena di dalam pembelajaran tematik siswa akan memahami konsep-konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep lain yang telah dipahami sebelumnya baik secara holistik, bermakna, autentik, dan aktif. Jadi pembelajaran tematik penting untuk diajarkan di SD/MI. Menurut Oemar Hamalik (2006:30), sesuatu dapat dikatakan sebagai hasil belajar apabila seseorang telah belajar dan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. 

Peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah merupakan pendukung upaya perbaikan pengelolaan pendidikan. Peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilihat dari kualitas perilaku pembelajaran guru, perilaku belajar siswa, iklim pembelajaran, materi pembelajaran, media pembelajaran, dan sistem pembelajaran di sekolah (Depdiknas 2005). Kualitas perilaku pembelajaran guru dapat dilihat dari kinerjanya. Menurut Depdiknas (2005), indikator kualitas perilaku pembelajaran guru dapat dilihat dari kemampuannya dalam:
  1. Membangun persepsi dan sikap positif siswa terhadap belajar
  2. Penguasaan ilmu yang luas dan mendalam, memilih, menata, mengemas, dan menyajikan materi sesuai kebutuhan siswa
  3. Memahami keunikan setiap siswa dengan segala kelebihan dan kekurangannya
  4. Memahami lingkungan keluarga, sosial budaya, dan tempat kehidupan siswa
  5. Mengelola perencanaan pembelajaran yang mendidik berorientasi pada siswa untuk membentuk kompetensi siswa
  6. Mengembangkan kepribadian dan keprofesionalan secara berkelanjutan

Kualitas perilaku belajar siswa dapat dilihat dari kemampuan mereka:
1. Memiliki persepsi dan sikap positif terhadap belajar
2. Mengintegrasikan pengetahuan dengan ketrampilan
3. Memperluas dan memperdalam pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh
4. Menerapkan pengetahuan, kerampilan, dan sikapnya secara bermakna
5. Membangun kebiasaan berfikir, bersikap, dan bekerja produktif
Kualitas iklim belajar terdiri dari:
1. Suasana kelas yang kondusif untuk tumbuh dan kembangnya kegiatan pembelajaran
2. Keteladanan, prakarsa, dan kreativitas yang dilakukan guru sebagai model

Kualitas materi pembelajaran dapat dilihat dari:
1. Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai siswa
2. Keseimbangan kelusan dan kedalaman materi dengan jumlah waktu yang dirancang
3. Penyajian dilaksanakan secara sistematis dan kontekstual
4. Memberikan peluang siswa untuk belajar aktif dan maksimal

Kualitas media pembelajaran diciri-cirikan oleh kemampuan:
1. Mewujudkan pengalaman belajar bermakna bagi siswa
2. Memfasilitasi interaksi guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan guru dengan guru
3. Memperkaya pengalaman belajar siswa
4. Mengubah suasana belajar dari pasif menjadi aktif

Kualitas pembelajaran di sekolah ditandai dengan:
1. Sekolah mampu menonjolkan ciri khasnya yang memiliki keunggulan
2. Sekolah selalu responsif terhadap tantangan internal maupun eksternal
3. Memiliki perencanaan yang matang dan strategis dalam rencana operasional sekolah
4. Adanya semangat perubahan warga sekolah dalam berbagai aktivitas pengembangan
5. Adanya mekanisme pengendalian mutu dan penjaminan mutu sekolah

Jika perilaku pembelajaran guru, perilaku belajar siswa, iklim pembelajaran, materi pembelajaran, media pembelajaran, dan sistem pembelajaran di sekolah saling berjalan dan berinteraksi dengan baik, maka peningkatan kualitas pembelajaran yang diinginkan oleh sekolah dapat tercapai. 

Referensi 
  1. Depdiknas. 2005. Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dikti
  2. Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
  3. Mufidah Luluk, dkk “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek di Kelas III Sekolah Dasar” Edcomtech Vol. 2, No. 1, April 2017
  4. Rusman. 2010. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  5. The George Lucas Educational Foundation. 2005. Instructional Module Project Based Learning. Diambil pada tanggal 23 September 2019 dari http://edutopia.org/modules/PBLwhatpbl.php
  6. Wena, Made. 2010. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara

By: Shela Putri N.J

Berlangganan via Email