Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Problematika Perkembangan Bahasa Anak dan Upaya Penyelesaiannya?

Bahasa merupakan komponen utama manusia dalam komunikasi. Tanpa adanya bahasa, manusia tidak memiliki standar untuk memahami satu sama lain, baik sebagai individu maupun dengan lingkungan sebagai makhluk sosial. Keanekaragaman bahasa di dunia dapat menjadi bumerang dan peluang dalam berkomunikasi. Bumerang, karena tanpa adanya kemampuan bahasa yang memadahi, lingkungan kita menjadi terbatas dan terbagi-bagi. Sedangkan peluang, karena apabila kita memiliki kemampuan yang lebih dalam hal berbahasa, hal tersebut akan dapat menjadi bekal kita untuk memperoleh banyak ilmu pengetahuan. Terdapat asumsi di masyarakat bahwa penggunaan bahasa di dunia anak sebaiknya ditanamkan sejak kecil. Bahasa dapat menjadi salah satu stimulus yang baik untuk perkembangan anak. Kemampuan berbahasa atau penggunaan bahasa ini tidak hanya dalam komunikasi verbal maupun tertulis, namun juga berkaitan dengan kemampuan untuk memahami apa yang dikomunikasikan orang lain secara lisan maupun tulisan.

Pada anak usia dini, pemerolehan bahasa berkaitan dengan penguasaan bahasa yang dilakukan anak secara natural pada waktu belajar bahasa ibu. Pemerolehan bahasa akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia anak. Perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh usia anak, kondisi lingkungan, kecerdasan anak, status sosial ekonomi keluarga, dan kondisi fisik anak. Anak-anak menghadapi masalah dan hambatan dalam kehidupan sehari-harinya, misalnya masalah berebut mainan dengan teman sebaya, kesulitan memahami aturan bermain dan lain-lain. Walaupun masalah yang mereka hadapi tidak sama dengan masalah yang dihadapi orang dewasa, anak tetap harus memiliki kemampuan problem solving yang bisa membantu mereka mengatasi masalah tersebut dengan baik, sehingga kemampuan tersebut akan terus berkembang, salah satunya dalam kemampuan kognitif. Metode pembelajaran problem solving merupakan salah satu metode pembelajaran yang mencerminkan atau dilandasi oleh filsafat konstrukstivisme. Dalam pendidikan anak usia dini, metode problem solving bisa dilakukan dengan cara bermain seperti bermain maze, labirin, bermain peran, bermain balok dll.

Pada usia satu tahun, anak mulai bisa mengujarkan satu kata. Pada usia ini anak mulai mengujarkan kata-kata yang diketahuinya dari lingkungan sekitar. Kata yang diujarkan anak pada usia ini terkadang tidak jelas dan hanya mengujarkan suku kata terakhir yang diketahuinya dari sebuah kata. Oleh karena itu, orangtua harus lebih memperhatikan apa yang diucapkan oleh anak mereka. Ucapan tersebut bisa saja bermakna lebih dari satu kata. Misalnya saja ketika anak mengatakan cu. Bisa saja anak mengatakan kalau dia ingin minta susu atau dia menunjukan pada orang tuanya di sana ada susu. Tugas orang tua untuk mendengarkan dan memahami apa yang diucapkan oleh anak.  Seorang anak bisa dikatakan telah menguasai kata pertamanya jika mereka dapat mengujarkan kata-kata yang telah diketahui secara luas dan kata-kata itu berhubungan dengan suatu objek atau kejadian di lingkungannya.

Pada usia 2 tahun, anak sudah mampu mengucapkan ujaran dua kata, merespon pembicaraan lawan bicara, dan masuk dalam percakapan singkat. Selain itu, pada usia ini umumnya anak sudah mampu mengucapkan sesuatu dalam bentuk kalimat tunggal maupun majemuk. Pada usia 3 tahun, anak mulai  bisa melakukan percakapan lama dan bergiliran dengan lawan bicara. Pada usia ini anak juga mulai belajar mengucapkan kalimat deklaratif, imperatif, dan interogatif. Misalkan, bila anak mengucapkan satu dua kata dengan salah, ulangi kata tersebut, namun jangan memintannya untuk mengucapkan kembali kata yang salah, benarkan kata yang mereka ucapkan. Ajak mereka mengucapkannya kembali dengan merangsang dengan merangkainya 2-3 kata yang lain.
Anak usia 3-6 tahun telah memperoleh kosakata, yaitu kosakata dasar (kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, kata ganti, kata yang berhubungan dengan kekerabatan, dan kata depan), kosakata turunan (imbuhan prefiks, imbuhan sufiks, imbuhan infiks, dan imbuhan konfiks), dan kosakata ulang. Dalam rentang usia 3-4 anak juga mampu menguasai ataupun mengujarkan beberapa jenis kalimat, di antaranya adalah kalimat deklaratif/berita, kalimat imperatif/perintah, kalimat interogatif/tanya, dan kadang-kadang kalimat eksklamatif/seru.

Berkaitan dengan problematika tentang bahasa anak, permainan juga dapat merangsang perkembangan bahasa anak. Bermain bersama adalah cara mengoptimalkan perkembangan bahasa anak. Terdapat cara atau permainan, baik itu digital atau konvensional yang dapat membantu perkembangan bahasa balita atau prasekolah berkisar usia 0 sampai 6 tahun, sebelum atau menjelah di bangku sekolah. Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangannya. Saat bermain dengan mereka, bicaralah sesuai dengan tingkat usianya. Berdiri atau duduk sama tinggi agar mudah mengupayakan kontak mata saat berbicara dengan mereka. Berikan komentar terhadap apa saja yang sedang mereka lakukan atau lihat. Sebaiknya gunakan kalimat sederhana saat berkomentar. Bicarakan tentang semua aktivitas yang sedang dilakukan bersama. Misalkan, saat membongkar belanjaan, maka cobalah sebutkan nama-nama benda baru saja dibeli. Atau saat mandi, coba tanyakan aktivitas yang hendak lakukan saat mandi. Duduklah bersamanya saat menonton TV. Sambil mendampingi, komentari apa yang sedang anak tonton. Misalkan tentang tingkah polah tokoh yang menyebalkan, tanyakan mengapa ia menyebalkan. Apakah hal tersebut termasuk perbuatan baik atau buruk dan masih banyak lagi. 

Perkembangan Bahasa Anak


Untuk membangun konsentrasi serta kemampuan mendengarnya, maka cobalah bermain identifikasi suara. Peganglah satu atau dua kata benda yang ada di sekitar kita dan buat suara dengan barang-barang tersebut. Misalkan, cobalah meniup botol kosong, ketukkan sendok pada sebuah cangkir, kerincingkan kunci, meremas-remas kertas, atau goyangkan paperclips dalam sebuat toples, hal tersebut akan membunyikan suara yang merangsang anak untuk menebak apa yang kita lakukan. Biarkan anak bermain dengan benda-benda tersebut agar dapat mengenali bunyi yang dihasilkan dari setiap benda yang digerakkan atau bergerak. Setelah anak menguasai bunyi masing-masing benda, atau permainan suara-suara benda tersebut terlihat  terlalu mudah ditebak olehnya. Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan, misalkan menyusun balok, menyusun puzzle, menggelindingkan bola, dan masih banyak lagi.

Mengajarkan anak tentang pemecahan masalah (problem solving) perlu dilakukan sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, yang mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik. Selain bermanfaat untuk anak, pembelajaran problem solving pada anak juga memiliki pengaruh besar pada orang tua. Antara lain, orang tua tidak terus menerus merasa khawatir bila anaknya tidak sedang berada di dekatnya. Karena anak sudah terlatih untuk membiasakan dirinya menyelesaikan masalah, bisa berkembang sebagai anak mandiri dan tidak cengeng. Ini akan sangat bermanfaat dalam pembentukan karakternya yang positif.

By: DITA ALYA INDRIANA

Berlangganan via Email