Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KURANG KREATIFNYA GURU DALAM MENGAJAR, SEHINGGA MENURUNKAN SEMANGAT BELAJAR PESERTA DIDIK

A. Pendahuluan 
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terpadat dalam urutan ke 4 di dunia setelah negara Amerika Serikat. Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia kaya akan SDM Sumber Daya Manusia (Sumber Daya Manusia). Kaya akan sumber daya manusia merupakan suatu kebanggaan serta tantangan bagi kita semua.

Pembelajaran Kreatif
Karena saat negara memiliki memiliki jumlah SDM (Sumber Daya Manusia) yang banyak maka, kita harus mampu meningkatkan kualitas mereka. Jika kita mampu meningkatkan kualitas maka suatu saat negara kita akan berubah menjadi lebih baik dan negara maju. Sebaliknya apabila kita memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) dengan jumlah yang banyak namun kita tidak mampu meningkatkan kualitas mereka, maka akan berdampak negatif bagi negaranya sendiri.

Salah satu contoh dampak negatif dari kurangnya kualiats SDM (Sumber Daya Manusia) pada negara ini yaitu, apabila suatu negara memiliki jumlah SDM (Sumber Daya Manusia) yamg padat. Namun dengan kualitas yang buruk, maka akan menyebabkan banyaknya pengangguran. Karena mereka telah kalah bersaing dengan orang lain, lalu dampat buruk tersebut menyebar hingga ke pembangunan suatu negara. (Rahman, 2009:5). Dari hal tersebut antara jumlah dengan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di Indonesia ini harus seimban, sama-sama baiknya agar negara kita merasakan dampak positifnya. Berikut ini beberapa dampat positifnya yaitu lancarnya pembangunan suatu negara, terhindar dari pengangguran, negara semakin maju, dll.

Dalam peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) merupakan suatu tantangan bagi seorang pendidik. Sebagai pendidik harus sekreatif mungkin dalam menyampaikan ilmu kepada peserta didiknya. Agar ilmu yang disampaikan mampu di terima oleh peserta didiknya dengan baik. Namun saat ini masih dapat kita jumpai seorang pendidik yang kurang kreatif dalam proses pembelajarannya, sehingga bisa berdampak buruk untuk peserta didiknya.

B. Hakikat guru
Seseorang yang rela membagikan ilmunya kepada seseorang yang akan di ajari secara sabar dan telaten itulah yang disebut guru. Tidak hanya membagikan ilmu, menjadi seorang guru mampu mempertanggung jawabkan apa yang ia berikan pada peserta didiknya. Saat menjadi guru harus mampu menjadi contoh yang baik di hadapan peserta didiknya, agar kelak para peserta didiknya senantiasa melakukan hal-hal yang baik. Jika guru memberikan contoh yang buruk untuk peserta didiknya maka mereka pastinya akan meniru lalu dampak negatif yang kita rasakan adalah lunturnya budi pekerti anak-anak kita.

Menjadi seorang guru pun tidak bisa sembarangan orang, hanya orang-orang yang berahlian khusus saja yang bisa melakukannya. Meskipun orang tersebut pandai berbicara belum bisa disebut sebagai guru, karena menjadi seorang guru harus mampu menguasai seluk beluk mengenai pendidikan dan pembelajaran yang baik.(Heriyansyah, 2018:120-121).

C. Hakikat kreatif
Kreativ jika kita jabarkan sendiri memiliki makna lain, karena kreatif berasal dari bahasa inggris create artinya mecipta, sedangkan creative sendiri memiliki makna daya cipta. Menurut Malaka (Supardi, 2012:255) menyatakan bahwa “Dalam berkreatifitas itu sesungguhnya manusia tidak menciptakan yang baru namun, mereka hanya menggabungkan apa saja yang sudah ada di sekitar kita sehingga terlihat baru dimata kita.”

Sedangkan menurut ilmuan Treffinger (2003) menyatakan bahwa kreatifitas merupakan dimiliki oleh setiap individu tanpa harus memandang seberapa tinggi tingkat kekreativanmu. Dalam mengatur kekreativan kita itu tidak perlu memiliki otak yang cerdas karena semua orang memiliki kreativitasannya masing-masing menurut Yushou (2007).   
        
D. Dampak negatif guru tidak kreatif
Menjadi seorang pendidik harus memiliki wawasan yang luas agar saat mengajar peserta didiknya tidak menggunakan metode itu-itu saja. Namun kini masih ditemukan adanya seorang pendidik tidak ingin belajar lebih dalam lagi tentang tata cara mengajar dengan kreativ (Rohman, 2009:5). Berikut ini data guru SD yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan sebesar 391.507 (34%) yang meliputi sebanyak 378.740 lulusan SMA dan sebanyak 12.767 lulusan D1 (Murwati, 2013:13).

Kurang dalamnya pengetahuan mengenai cara mengaja membuat mereka mengetahui cara mengajar menggunakan metode ceramah saja, dari hal tersebut menyebabkan peserta didik cepat merasa bosan. Jika peserta didik sudah bosan maka mereka tidak lagi fokus pada mata pelajaran yang dijelaskan, lalu secara tidak langsung mampu menurunkan semangat belajar peserta didik. Oleh sebab itu seorang pengajar harus sering-sering mencari wawasan mengenai cara belajar sekreativ mungkin. Agar peseta didiknya tidak merasa bosan saat proses pembelajaran berlangsung.

E. Solusi 
Untuk mengangani guru-guru yang kurang kreatif menurut saya dengan cara mengikutkannya workshop mengenai pendidikan. Karena pada saat mengikuti kegiatan workshop maka wawasan mereka akan terbuka mengenai tata cara mengajar dengan baik dan kreatif. Selain mengikuti workshop, para guru-guru juga bisa mengikuti sertifikasi guru. Sebelumnya saya akan menjelaskan mengenai sertifikasi guru adalah suatu proses pemberian sertifikat kepada guru yang lolos standar kualifikasi serta standar kompetensi. Sehingga guru yang mendapatkan sertifikat tersebut bisa di anggap sebagai guru profesional dalam mendidik peserta didiknya (Murwati, 2013:14-15). Sertifikasi guru ini juga terdapat dasar hukumnya, menurut Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional tahun 2007 yaitu
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional :
a) Pasal 42 ayat (1), Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani, dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b) Pasal 43 ayat (2), sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen :
a) Pasal 8, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b) Pasal 11 ayat (1), sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan, ayat (2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah, ayat (3) Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel, ayat (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah.

F. Penutup 
Dari data di atas dapat saya simpulkan bahwa menjadi guru tidaklah mudah, menjadi guru harus memahami mengenai cara pengajaran yang baik dan benar. Jika tidak bisa memahami  hal tersebut dikhawatirkan saat kita menyampaikan ilmu sulit diterima oleh peserta didik kita.
Serta yang paling utama untuk menjadi guru yaitu mendapat sertifikasi guru. Dengan mendapatkan sertifikat tersebut maka kita bisa dianggap sebagai guru profesional. Jika kita sudah di anggap sebagai guru profesional kita bisa mendidik penerus bangsa kita dengan baik sehingga meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di Indoneisa.

DAFTAR PUSTAKA
Ranggabawono, I., Suparmoko. 2008. Ekonomi 2 SMA Kelas XI. Yudhistira. Jakarta.
Heryansyah. 2018. Guru adalah Manajer Sesungguhnya di Sekolah. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 1(1):120-121.
Murwati, H. 2013. Pengaruh Sertifikasi Profesi Guru Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Guru di SMKN Se-Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi (BISE) 1(1):14-15. 
Rohman, A. 2009. Masalah Pembelajaran dan Upaya Pencarian Solusi Melalui Klinik. Jurnal Majalah Ilmiah Pembelajaran 1(1): 5.
Supardi, U. S. 2012. Peran Berpikir Kreatif dalam Proses Pembelajaran Matematika. Jurnal Formatif  2(3):255.

By: Khofifa Merdawati

Berlangganan via Email