Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Mengatasi Masalah Perkembangan Bahasa AUD & Permainan?


Bagaimana Mengatasi Masalah Perkembangan Bahasa  AUD & Permainan?


Anak merupakan manusia kecil yang memiliki potensi yang harus dikembangkan. Dalam dunia pendidikan dikatakan, bahwa pendidikan dan perkembangan anak perlu mendapatkan perhatian tidak hanya setelah anak lahir, tetapi pendidikan dan perkembangan itu sudah dimulai sejak anak masih dalam kandungan. (Delfita, 2012).

Karena itu, menurut Hasan (sitat dalam Delfita, 2012) pengertian pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Menurut Hartati (sitat dalam Delfita, 2012) menyatakan bahwa anak usia dini adalah sosok yang istimewa dimana anak mengalami suatu proses perkembangan yang pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. (Delfita, 2012).

Menurut Aisyah (sitat dalam Delfita, 2012) menyatakan anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-8 tahun yang tercakup dalam program pendidikan di taman penitipan anak, penitipan anak pada keluarga (family child care home), pendidikan pra sekolah swasta maupun negeri, Taman Kanak-kanak dan SD. (Delfita, 2012).

Dari aspek pendidikan anak usia  dini sangat diperlukan guna memberikan rangsangan terhadap aspek perkembangan anak, yang mencakup penanaman nilai-nilai dasar agama dan budi pekerti, pembentukan sikap disiplin dan kemandirian dan pengembangan kemampuan dasar berbahasa, motorik kasar, motorik halus, kognitif dan sosial). Salah satu bentuk kemampuan dasar yang harus dikembangkan pada anak usia dini adalah kemampuan berbahasa. (Sartika, Elly, & Harun, 2017).

Bahasa merupakan alat komunikasi yang di lakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk membentuk jaringan sosial dengan orang lain supaya orang lain lain mengerti bagaimana perasaan, pikiran dan keinginan kita. Pengembangan bahasa pada anak usia dini harus diperhatikan supaya anak bisa berinteraksi terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut Jalongo (sitat dalam Lestari et al) Perkembangan bahasa anak meliputi empat aspek yaitu aspek mendengarkan/menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek ini berkembang berkelanjutan dengan pengertian bahwa aspek membaca dan menulis terbentuk  dari kemampuan aspek menyimak dan berbicara lebih dahulu atau bahasa oral. (Lestari, Prima, & WS, 2016).

berdasarkan Permendiknas No.58 tahun 2009 tanggal 17 September 2009 tentang standar tingkat pencapaian perkembangan bahasa anak pada rentang usia 4-6 tahun meliputi: 1) menerima bahasa. Tingkat pencapaian perkembangan yang diharapkan adalah: menyimak perkataan orang lain, mengerti beberapa perintah secara bersamaan, memahami cerita yang dibacakan, mengenal perbendaharaan kata mengenai kata sifat, mengulang kalimat yang lebih kompleks, memahami aturan dalam suatu permainan; 2) mengungkapkan bahasa. Tingkat pencapaian perkembangan meliputi: mengulang kalimat sederhana, menjawab pertanyaan secara sederhana, menyebutkan kata-kata yang dikenal, menceritakan kembali cerita atau dongeng yang pernah didengar, berkomunikasi secara lisan serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung; dan 3) keaksaraan. Tingkat pencapaian perkembangan yang diharapkan meliputi: mengenal suara-suara atau benda yang ada disekitarnya, membuat coretan yang bermakna, meniru huruf, memahami hubungan bunyi dan bentuk huruf, membaca dan menulis nama sendiri. (Lestari, Prima, & WS, 2016).

Menurut Jalongo (sitat dalam Lestari et al) Kemampuan keaksaraan (membaca permulaan) anak merupakan bentuk demonstrasi kemampuan anak untuk memahami pesan oral dalam bentuk mendengar dan bentuk respon yang berkelanjutan. Keaksaraan untuk anak taman kanak-kanak menurut Kemendiknas (2010) meliputi kemampuan menyebutkan simbol-simbol yang dikenal, mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada disekitar, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi atau huruf, dan membaca nama diri sendiri. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan keaksaraan adalah kecakapan seorang anak dalam mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi, memaknai serta menarik kesimpulan sederhana mengenai maksud bacaan, dan kemampuan membaca pada anak yang dapat dikembangkan secara terprogram dan sedini mungkin melalui permainan sebagai sarana pembelajaran. (Lestari, Prima, & WS, 2016).

Permainan sebagai sarana pembelajaran bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak usia dini dengan metode problem solving. Metode pembelajaran problem solving berasal dari John Dewey, maksud metode ini adalah memberikan latihan kepada anak untuk berfikir. Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih anak menghadapi berbagai masalah baik itu masalah perorangan maupun kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. dengan metode problem solving anak mencoba berusaha belajar berfikir dengan menggunakan metode-metode lainnya dimulai dari metode mencari masalah, memecahkan masalah dan menarik kesimpulan. Hal ini sebenarnya bukan suatu pekerjaan yang mudah, tetapi anak harus dilatih supaya dapat berfikir kreatif. Metode problem solving dapat diberikan secara individu maupun kelompok yang bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas berfikir anak. (Utami, Utami, & Sarumpaet, 2017).

Pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) adalah interaksi antara stimulus dan respon yang merupakan hubungan dua arah, belajar dan lingkungannya. Hubungan dua arah itu terjadi antara siswa dan guru, antara pelajar dan pengajar (Utami, Utami, & Sarumpaet, 2017). Banyak permainan yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini dengan metode problem solving, beberapa diantaranya adalah permainan puzzle susun kata, bernyanyi atau sambung lagu dan menyusun gambar dengan penjelasan singkat didalamnya.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Lestari et al menunjukkan bahwa permainan menjepit kartu kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan bahasa pada anak usia dini. Permainan menjepit kartu kata bergambar dilakukan dengan cara menjepitkan kartu yang terdapat potongan kata yang telah ditunjukkan sebelumnya lalu disusun ulang oleh peserta didik dengan cara di jepitkan pada penjepit yang tirakat pada tali yang sudah disediakan. Dengan demikian, anak akan berusaha mengingat dan menyusun ulang kata-kata yang telah diberikan. (Lestari, Prima, & WS, 2016).

Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Sartika et al, yaitu meningkatkan kemajuan bahasa anak usia dini dengan kegiatan bernyanyi. Penelitian ini dilakukan dengan metode problem solving dengan cara mengingat sebuah lagu, peserta didik akan diberikan suatu lagu yang diputar lima hingga enam kali sehingga peserta didik bisa mengingat lirik lagu yang diberikan kemudian pengajar akan memutar lagu dengan durasi yang tidak penuh kemudian peserta didik disuruh untuk melanjutkan lirik lagu yang belum tuntas. Dengan demikian peserta didik dapat berfikir untuk mengingat kata-kata dalam lagu tersebut. Penelitian ini menunjukkan hasil yang positif yaitu meningkatnya perbendaharaan kata pada anak usia dini. (Sartika, Elly, & Harun, 2017).

Peningkatan bahasa pada anak usia dini dapat dilakukan dengan metode problem solving dengan sarana permainan yang bervariasi, metode pembelajaran akan efektif jika dilakukan dengan cara yang menyenangkan bagi peserta didik sehingga peserta didik bisa menyerap ilmu yang disampaikan namun juga tidak mudah bosan.

Daftar Pustaka
Delfita, R. (2012). Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Melalui Permainan Gambar Dalam Bak Pasir di Taman Kanak-Kanak Bina Anaprasa Mekar Sari Padang. Jurnal Pesona Paud Volume 1 No.1, 1-10.
Lestari, P. I., Prima, E., & WS, N. N. (2016). Meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini melalui permainan menjepit kartu kata bergambar pada anak kelompok B di TK Astiti Dharma. Jurnal Pendidikan Universitas Dhyana Pura Volume 1 No.1, 47-57.
Sartika, D. Y., Elly, R., & Harun, M. Y. (2017). Meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini melalui kegiatan bernyanyi di PAUD Madani Gampong Ateuk Jawo kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Guru Anak Usia Dini volume 2 No. 1, 40-49.
Utami, L. O., Utami, I. S., & Sarumpaet, N. (2017). Penerapan metode problem solving dalam mengembangkan kemampuan kognitif anak usia dini melalui kegiatan bermain. Tunas Siliwangi , 175-180.

By: Nurul aslikhah

Berlangganan via Email