Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Macam-Macam Masalah dan Cara Penyelesaiannya Dalam Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Dini.


Macam-Macam Masalah dan Cara Penyelesaiannya Dalam Perkembangan Bahasa


Setiap manusia pasti selalu mengalami permasalahan-permasalahan dalam setiap tahap kehidupannya. Tidak hanya orang dewasa, anak usia dini juga sering kali menjumpai suatu masalah. Namun masalah yang dihadapi anak tentunya berbeda dengan apa yang orang dewasa alami. Oleh karena itu, diperlukan adanya problem solving atau pemecahan masalah sebagai solusinya.

Aspek fundamental dalam perkembangan kognitif anak usia dini, salah satunya adalah problem solving. Pada dasarnya, problem solving adalah sebuah proses intelektual ketika anak menemukan suatu masalah lalu timbul pemecahan masalah tersebut berupa keputusan pemikiran atau perbuatan. Dan apabila suatu masalah tidak menjumpai titik temu seperti yang diharapkan, maka anak akan berpikir kembali dari awal untuk mendapatkan pemahaman dari masalah yang sedang dihadapi.

Karakteristik dari problem solving itu sendiri ada banyak, salah satunya adalah memori. Kemampuan Pemecahan Masalah (KMP) memerlukan adanya memori otak yang aktif. Dimana hal tersebut memungkinkan anak untuk memecahkan masalah dengan mengingat peristiwa atau kejadian yang pernah dialami. Selain itu, karakteristik problem solving bisa juga didapat dari kemampuan berkreasi, perhatian atau konsentrasi, serta kecepatan menelaah informasi.

Keterampilan memecahkan masalah merupakan bekal untuk anak mengatasi kesulitan atau hal-hal baru yang dihadapinya dalam beraktivitas sehari-hari, di sekolah, atau kelak di masyarakat. Anak menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang tua untuk menyelesaikan masalah atau kesulitan yang dihadapi. Anak juga terlatih untuk menjadi kreatif karena dibiasakan untuk menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang dapat dipikirkannya.

Untuk itu, sangat penting bagi orang tua maupun pendidik untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah yang dihadapi anak. Karena tidak hanya berguna untuk menyelesaikan masalah mereka sehari-hari, keterampilan problem solving juga bermanfaat saat anak harus mengeksplorasi dunianya, atau mengerjakan tugas-tugas di sekolah. Dan yang paling penting, problem solving dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak, sehingga pastinya akan berpengaruh pada prestasi belajarnya.

Keterampilan anak dalam memecahkan masalah, memiliki tahapan tersendiri sesuai dengan usianya. Untuk itu perlu kita ketahui bagaimana tahapan problem solving anak, supaya mampu mengasah kemampuan tersebut sehingga anak akan semakin terarah dan tahu kapan menggunakannya. Pada usia TK A (4-5 tahun), anak umumnya sudah dapat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan bermain variatif yang membutuhkan pemecahan masalah dalam memainkannya. Misalnya seperti menyusun puzzle, lompat tali, menyusun balok, atau bermain petak umpet. Setiap permainan tentunya memiliki aturannya tersendiri. Sehingga anak akan memikirkan bagaimana cara agar dia dapat bermain dan menyelesaikannya.

Dalam hal ini, satu-satunya peran orang tua atau pendidik hanyalah sebagai pendamping. Biarkan anak bereksplorasi dengan pemikirannya, sehingga kemampuan problem solving nya terasah. Kecuali jika anak benar-benar merasa kesulitan dan memerlukan bantuan, maka boleh membantu namun dengan syarat tidak mendominasi. Dalam artian, berikan petunjuk supaya anak dapat berusaha melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, kemampuan dalam memahami masalah juga akan bertambah. Begitu juga ketika sudah memasuki usia 5-6 tahun, rasa ingin tahu anak akan semakin menjadi-jadi. Hal itu yang menyebabkan anak mulai bermain dengan tujuan rasa ingin tahu terhadap akibat dari tindakannya. Seperti ketika memukul alat musik yang menghasilkan bunyi. Anak akan terus memperhatikan sebab-akibat dan mengulanginya kembali jika hal tersebut dirasa menyenangkan.

Maka dalam proses memahami sebab-akibat, memori anak secara tidak langsung akan terbentuk. Memori inilah yang nantinya akan membantu pemecahan masalah anak. Manusia mampu menyimpan ataupun mengingat informasi dari berbagai peristiwa yang dialami. Dan dalam kehidupan sehari-hari, anak dapat mengingat banyak hal. Oleh karena itu sebaiknya pada masa ini anak tidak diperlakukan secara otoriter. Biarkan mereka bereksperimen dan menemukan hal-hal baru dengan sendirinya. Aktivitas bermain anak tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Dalam bermain, mereka cenderung penasaran akan hal-hal baru. Lagi-lagi, peran orang tuan dan pendidik disini hanya sebatas pengamat dan pendamping.

Kemampuan problem solving atau memecahkan masalah sejalan dengan perkembangan kognitif seorang anak. Karena keterampilan problem solving ini akan terus berkembang hingga anak beranjak dewasa, dan akan membuatnya lebih baik dalam menyelesaikan konflik sosial, menyelesaikan soal-soal matematika, mengelola hidupnya sendiri.

Kemampuan problem solving atau memecahkan masalah sejalan dengan jalannya perkembangan kognitif seorang anak. Karena keterampilan problem solving ini akan terus berkembang hingga anak beranjak dewasa, dan akan membuatnya lebih baik dalam menyelesaikan konflik sosial, menyelesaikan soal-soal matematika, mengelola hidupnya sendiri. Maka dari itu selain itu, macam-macam karakteristik anak berbeda-beda. Tentunya masalah yang dihadapi oleh anak juga berbeda-beda. Ada anak yang tidak lancar berbicara karena mengalami gangguan dalam perkembangan Bahasa. Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak. Ada yang ringan sampai yang berat, mulai yang bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Yang pasti semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara maka semakin baik kemungkinan pemulihan.

Sebenarnya tidak hanya itu masalah yang dihadapi dalam perkembangan anak usia dini. Bahkan saya sering menjumpai bahasa yang dipakai berkomunikasi oleh anak adalah Bahasa yang tidak seharusnya digunakan atau dipakai oleh anak usia dini. Faktor yang menyebabkan ini terjadi adalah salah satunya dari kebiasaan orang tua dirumah menggunakan Bahasa yang tidak seharusnya digunakan atau dilontarkan oleh anak usia dini. Dampaknya bayak anak usia dini yang Bahasa nya sudah seperti orang dewasa dan hal ini tentunya mengakibatkan anak dewasa sebelum waktunya.

Cara mengatasinya ada banyak sekali salah satunya dengan cara memberi perhatian lebih dan membimbing serta mengarahkan. Saat bermain dengan mereka, bicaralah sesuai dengan tingkatan usianya. Berdiri atau duduklah sama tinggi agar mudah mengupayakan kontak mata saat bicara dengan mereka. Berikan komentar terhadap apa saja yang sedang mereka lakukan atau lihat. Gunakan kalimat sederhana saat berkomentar. Bicarakan tentang semua aktivitas yang sedang dilakukan bersama. Misalkan, saat membongkar belanjaan, maka cobalah sebutkan nama-nama benda yang baru saja dibeli. Atau saat mandi, cobalah tanyakan aktivitas yang hendak ia lakukan setelah mandi. Duduklah bersamanya saat ia menonton TV. Sambil mendampingi, komentari apa yang sedang anak nonton. Misalkan tentang tingkah polah tokoh yang menyebalkan, mengapa ia menyebalkan, apakah hal tersebut termasuk perbuatan baik atau buruk dan masih banyak lagi.

By: TINA YULIANTI

Berlangganan via Email