Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Menggali Potensi Mereka Yang Luar Biasa?

Bagaimana Menggali Potensi Mereka Yang Luar Biasa?

Menjadi seorang pendidik bukanlah merupakan suatu pekerjaan profesi yang mudah. Seorang pendidik atau lebih akrab disapa guru mengemban tanggung jawab mencerdasakan generasi penerus bangsa. Tentunya menjadi seorang pendidik pasti memiliki peserta didik di sekolah. Selain itu, guru merupakan orang tua kedua ketika di sekolah. Karakteristik peserta didik sangat beraneka ragam. Sampelnya dalam ruang lingkup kelas, yang dihandle oleh wali kelas. Ruang lingkup kelas ini, tentu terdapat beberapa peserta didik yang pandai, yang kurang pandai, yang hiperaktif, yang pendiam, yang penurut, yang bandel, dan lain sebagainya. Sifat dan karakteristik seperti itu merupakan hal yang wajar bahkan lumrah ketika ditemui didalam kelas. Namun, dalam usia tujuh tahun menginjak memasuki sekolah dasar, peserta didik tersebut harus mampu melakukan baca dan tulis. Akan tetapi, ketika penulis mengamati kegiatan belajar mengajar didalam kelas, penulis menemukan seorang peserta didik yang duduk di bangku kelas dua masih belum mampu melakukan baca dan tulis. Lantas hal demikian termasuk salah siapakah? Yuk simak ulasan pembahasan dibawah ini!

Mengapa Peserta Didik Tersebut Belum Mampu Baca dan Tulis?
Problem seperti diatas tidak bisa disalahkan sepihak bahwa anak tersebut bodoh. Penulis mengamati dalam ruang lingkup kelas tersebut, peserta didik berjenis kelamin perempuan tidak menjadi jaminan bahwa perempuan lebih pandai dibandingkan laki-laki. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya. Perlu kita sadari, bahwa Tuhan menganugerahi seseorang dengan kemampuan intelektual yang berbeda. Akan tetapi, kemampuan intelektual pada seseorang dapat meningkat apabila seseorang tersebut melakukan ikhtiar dengan cara belajar dengan sungguh-sungguh. Selain itu, kemampuan intelektual dapat diasah dengan menyeimbangkan kemampuan motorik pada otak kiri dan otak kanan. Namun, kebanyakan peserta didik hanya berdominan pada otak kiri. 

Penulis mengamati bahwa pada ruang lingkup kelas tersebut, peserta didik berjenis kelamin perempuan lebih rajin dibandingkan peserta didik laki-laki. Namun, penulis tertuju pada salah satu peserta didik berjenis kelamin perempuan yang sedang asyik dengan mainannya sendiri, sehingga tidak memperhatikan guru ketika berbicara. Ternyata, wali kelas dua tersebut memberitahu bahwa anak tersebut lemah dalam bidang baca dan tulis. Tak bisa dipungkiri, kini pemerintah meminta setiap sekolah umum tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan pada setiap kelas di sekolah umum terdapat peserta didik yang berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus seharusnya mendapat perhatian yang lebih ekstra dari wali kelasnya. Hal itu dikarenakan kemampuan intelektualnya belum setara dengan teman-temannya yang normal. Keuletan wali kelas dalam mengajarkan baca tulis terhadap anak berkebutuhan khusus merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Peran dan tanggung jawab wali kelas dalam mengajarkan baca tulis kepada peserta didik ABK sangat diperlukan. 

Apa Penyebab Masalah Tersebut?
Kemampuan intelektual yang dibawah rata-rata pada anak berkebutuhan khusus tidak menutup kemungkinan akan menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Tumbuh kembangnya akan mengalami keterlambatan dibandingkan dengan teman sebayanya. Misalnya, pada peserta didik kelas dua yang ABK tersebut akan mengalami keterlambatan dengan teman sebayanya. Keterlambatan tumbuh kembangnya seorang anak dapat dilihat sewaktu dia masih usia balita. Apabila umur setahun teman sebayanya sudah dapat berjalan, namun anak berkebutuhan khusus masih belum bisa berjalan. Selain itu, kelainan kejang-kejang (step) sewaktu balita juga dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan pada sang anak.  Biasanya pada anak berkebutuhan khusus akan sulit mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hal ini karena kemampuan intelektualnya belum terpenuhi seperti temannya yang normal. Anak berkebutuhan khusus akan terasa kesulitan dalam memahami mata pelajaran yang diajarkan. Mereka sering tidak nyambung dan tidak paham, sehingga mereka asyik dengan mainannya sendiri.

Seharusnya orang tua sang anak sebagai peran utama dalam mendidiknya. Dibutuhkan kesadaran orang tua bahwa anaknya memang berkebutuhan khusus. Kebanyakan orang tua tidak berlapang dada dengan kondisi tersebut. Sehingga, menyalahkan gurunya apabila sang anak tidak mampu baca dan tulis. Padahal, peran guru sebagai orang tua kedua di sekolah. Seharusnya yang dapat merasakan tumbuh kembang sang anak adalah orang tuanya sendiri. Orang tua sang anak akan menyadari bahwa tumbuh kembang anaknya terlambat jika dibandingkan dengan tumbuh kembang teman sebayanya. Seringkali kebanyakan orang tua tidak telaten dan tidak ulet dalam mengajari anaknya yang berkebutuhan khusus. Sehingga, seringkali orang tua pasrah dalam kondisi sang anak. Apalagi orang tua pada era millennial ini, yang lebih mementingkan eksis di media sosial dibandingkan mengajari anaknya dengan tidak telaten. Selain itu, orang tua sibuk bekerja dari pagi hari hingga sore hari. Sehingga sang anak tidak terawat dan kurangnya perhatian dari orang tua. Hal ini menyebabkan sang anak menjadi tidak terkontrol waktu bermainnya. Sang anak akan merasa lebih leluasa bermain ketika kurangnya perhatian dari orang tuanya.

Biasanya anak berkebutuhan khusus tidak hanya terlambat dalam kemampuan intelektualnya. Namun, dalam bidang kecerdasan linguistic dan kecerdasan motorik juga mengalami keterlambatan. Dalam bidang linguistic mereka yang berkebutuhan khusus akan mengalami pelat dalam berbicara. Pelat yaitu kata yang diambil dari basa Jawa, apabila berbicara tidak jelas dalam mengucapkan konsonan. Mereka tidak jelas dalam melafalkan vokal aiueo. Meskipun, mereka telah duduk di bangku sekolah dasar, tetapi kemampuan linguistic mereka masih belum setara dengan teman sebayanya. Selain itu, pada anak berkebutuhan khusus mereka tidak mampu berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Seringkali, mereka berbicara menggunakan bahasa Ibu yaitu bahasa keseharian mereka ketika berbicara di rumah (contohnya bahasa Jawa). 

Bagaimana Penyelesaian Masalah Tersebut?
Peran Ibu sebagai orang tua yang lebih dekat dengan anaknya. Hal ini dikarenakan dalam jiwa seorang Ibu dan anak memiliki naluri yang sama. Namun, faktor genetic pada Ibu tidak diwariskan kepada anaknya. Artinya kecerdasan yang dimiliki seorang Ibu tidak bisa diwariskan kepada anaknya. Oleh karena itu, seorang anak diwajibkan untuk belajar dengan rajin agar menjadi pandai. Pepatah mengatakan “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Peran orang tua ketika di rumah dan peran guru ketika di sekolah harus diimbangi dengan saksama. Sebagai orang tua harus memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan kepada sang anak. Keuletan dan kesabaran dalam membimbing belajar sang anak yang berkebutuhan khusus sangat diperlukan. Pendekatan pada anak berkebutuhan khusus ketika belajar sangat dianjurkan. Peran orang tua terutama Ibu harus meluangkan waktu untuk mendampingi sang buah hati dalam proses belajar di rumah.

Apabila di sekolah peran guru sangat diutamakan dalam mendidik peserta didiknya. Profesi guru tingkat sekolah dasar seharusnya dibekali dengan cara mengajar anak berkebutuhan khusus. Atas berlakunya peraturan dari pemerintah yang tidak boleh membedakan antara sekolah umum dengan sekolah luar biasa. Seharusnya guru yang mengajar di sekolah umum dibekali cara mendidik anak berkebutuhan khusus. Hal ini agar memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus. Sehingga peserta didik ABK akan mudah dalam mencerna materi pembelajaran. Cara mengajar anak yang normal dengan anak berkebutuhan khusus tentu tidaklah sama. Hal ini dikarenakan kemampuan intelektual mereka juga berbeda. Selain itu, guru perlu memahami karakteristik dan gaya belajar anak berkebutuhan khusus. Seringkali, anak berkebutuhan khusus apabila belajar sangat sulit dalam berkonsentrasi. Mereka akan gelisah dan enggan apabila belajar terlalu lama.

Apabila orang tua kewalahan dalam mendampingi belajar, serta guru di sekolah kurang efektif dalam memberikan bimbingan belajar. Seharusnya, guru mengarahkan orang tua agar mencari guru les privat.  Melakukan les privat kepada anak berkebutuhan khusus merupakan jalan pintas agar anak tersebut mendapat bimbingan belajar yang lebih eksklusif dari pengajarnya. Selain itu, les privat dapat menghindari sang anak manja kepada Ibunya ketika belajar di rumah. Meskipun, les privat memakan rupiah yang lumayan besar. Namun, tidak ada usaha yang mengkhianati hasilnya. Dalam les privat, sang anak akan mendapat perhatian lebih dari pengajarnya.

Biasanya, pengajar les privat ketika menghadapi anak yang belum mampu baca dan tulis dengan cara mengenalkan huruf abjad terlebih dahulu. Anak akan dibimbing mengenal dan menghafal abjad. Sehingga anak akan mampu membaca dan menulis abjad. Setelah itu, anak akan dikenalkan kata sederhana terlebih dahulu (seperti: budi, buku, baru, padi, sawi). Setelah proses tersebut telah dipahami oleh sang anak, biasanya pengajar akan mengajarkan konsonan yang berakhiran b, d, f, g, h, k, l, m, n, p, r, s, t (seperti: abab, abjad, alif, dialog, gajah, katak, halal, minum, makan, cakap, dapur, asas, alat). Setelah anak telah mengenal beberapa kata dan telah memahami vokal aiueo, pengajar privat akan melanjutkan ke tahap berakhiran “ng dan ny” (seperti: nyamuk, ngantuk, nyentrik, ngawi). Setelah itu, apabila anak benar-benar telah memahami dan mulai lancar membaca dan menulis. Selanjutnya, pengajar akan mengarahkan ke tahap membaca teks cerita pendek sederhana.

Tidak hanya itu, program dari sekolah juga dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus. Apabila sekolah telah siap menerima peserta didik ABK, seharusnya sekolah telah mencanangkan program khusus untuk kelas bawah (kelas I, kelas II, dan kelas III). Sekolah mencanangkan program bimbingan diluar jam sekolah untuk menggali kemampuan baca dan tulis peserta didik. Sekolah akan mengklasifikasikan peserta didik berdasarkan kelancaran kemampuan baca dan tulisnya. Hal ini akan mempermudah pendidik dalam membimbing baca dan tulis peserta didik. 

Demikian ulasan tentang artikel “mereka luar biasa”. Semoga bermanfaat dan terima kasih. 

By: Fira Zahrotul Ilma

Berlangganan via Email