Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Mengatasi Kegaduhan Anak Saat Pembelajaran di Kelas?

Bagaimana Mengatasi Kegaduhan Anak Saat Pembelajaran di Kelas?

Anak cenderung memiliki psikologi dalam sikap yang berbeda beda, namun hal ini wajib diketahui oleh seorang guru atau guru pada saat bertemu dan menjumpainya. Lalu karena apa penyebab anak tersebut menjadi gaduh? Dan bagaimana seorang guru menyikapi saat mengetahui perkembangan emosional pada diri anak ?

Guru merupakan seorang panutan dan telah menjadi orang tua yang ada disekolah, sikap yang ada pada seorang diri anak cenderung mengalami beberapa faktor diantaranya anak cenderung memgalami kegaduhan karena tekanan yang ada dirumah sangatlah berat untuknya sehingga dia tidak sanggup dan tidak memperoleh kasih sayang atau perhatian dari orang tua nya sehingga anak bersikap melampiaskan disekolah kepada teman temannya.

Faktor kedua yakni seorang anak membikin bikin atau disengaja membuat kegaduhan karena ingin melukai karena tidak suka dengan lingkungannya dan mulai bosan dengan penyampaian materi pembelajaran berlangsung. Faktor ketiga yakni faktor fisiologis yakni faktor yang mempengaruhi jasmani seorang siswa karena kurang nya sehatnya badan yang mana tubuh mengalami kurang nya kadar makanan yang menyebabkan letih, lelah ngantuk dan lain sebagainya. Faktor keempat ialah faktor psikologis faktor – faktor tersebut antara lain merupakan bagian dari faktor perhatian, kognitif, faktor afektif, faktor konotatif, dan faktor motivasi dan intelegensi.

Selain adanya faktor yang terjadi dengan demikian terdapat penyebab seorang anak mengalami kegaduhan dalam kelas ialah karena guru menjelaskan materi yang sangat dibenci oleh seorang siswa seperti hal mata pelajaran matematika, ipa, bahasa inggris dll. Kedua guru menyampaikan materi pembelajaran kurang menarik sehingga anak bosan saat mengikutinya. Ketiga guru selalu memberikan tugas atau pr kepada seorang siswa. Keempat seorang siswa tidak mampu untuk menyelesaikannya karena kemampuan dari seorang siswa sangat berbeda beda jika seorang siswa memiliki tingkat kemampuan diatas rata rata maka akan menyelesaikan nya dengan cepat waktu berbeda halnya jika seorang siswa mempunyai kemampuan jauh mungkin butuh waktu untuk dipahami akan susah mengerjakannya dengan tepat waktu. Hal hal tersebut wajib diketahui oleh seorang guru karena seorang guru lah yang menemuinya pada saat dikelas maupun kesehariannya. Guru bisa mengubah dan memberi tegasan kepada siswa untuk bukti perhatian nya bukan bukti kemarahan seorang guru, sehingga siswa mampu nyaman dan mau belajar demi mewujudkan tujuan pembelajaran. 

Cara seorang guru memberikan sebuah tegasan yang bisa merubah keadaan siswa bisa berbentuk sebuah perjanjian awal kegiatan belajar megajar dengan siswa agar siswa lebih mengenal hal yang tidak baik ataupun yang baik mengajak anak pada mengenal suara saat diruangan ataupun diluar ruangan, menghindari ketukan atau gedoran dari papan tulis, jauhi suara keras hal ini menambah keributan yang terjadi. Serta guru dapat merubah kondisi kelas menjadi kondusif melalui cara pemberian materi secara optimal dan menutut peran guru dalam melakukan remidial untuk evaluasi diri seorang siswa, menciptakan kelas yang efektif nyaman dan aman bagi siswa, melakukan kerja sama atau belajar kelompok untuk siswa agar proses pembelajaran menjadi aktif, pemberian reward atau hadiah kepada siswa agar siswa lebih semangat untuk mengikuti materi pembelajaran. 

Dan bagaimana seorang guru menyikapi saat mengetahui perkembangan emosional pada diri anak, Menurut Santrock Yussen perkembangan merupakan pola  perkembangan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi. Menurut E.B Hurlock perkembangan bersifat kualitatif dan kuantitatif, artinya proses perkembangan ada yang dapat diukur dan ada pula yang tidak dapat diukur . Menurut Drs. H. M Arifin , Ed. Pertumbuhan merupakan suatu penambahan dalam ukuran bentuk, berat atau ukuran dimensi serta bagian-bagiannya sehingga dapat dikatakan manusia mengalami pertumbuhan jika dalam dirinya terjadi penambahan fisik, misalnya bertambah tingginya tubuh individu, penambahan berat badan dan ukuran bentuk dari bagian-bagian tubuh individu (kuantitatif).

Pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh peserta didik sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor pembawaan (warisan), lingkungan dan faktor kematangan internal. Dalam proses perkembangan seseorang ada beberapa aliran yang menjelaskan tentang teori perkembangan antara lain. Pertama, aliran nativisme yang menjelaskan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa (Arthur Sckonenhauer: 1788-1860). Kedua, aliran empirisme yang menjelaskan bahwa perkembangan manusia itu hanya tergantung pada lingkungan dengan pengalaman pendidikanya (John locke). Ketiga, konvergensi aliran ini adalah gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Emosi adalah suatu aspek psikis yang berkaitan dengan perasaan dan merasakan. Misalnya merasa senang, sedih, kesal, jengkel, marah, tegang  dan lain-lain. Emosi pada diri seseorang berhubungan erat  dengan keadaan psikis tertentu yang distimulasi baik oleh faktor dari dalam atau internal maupun faktor luar eksternal.

Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbgai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.Pada umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena pada usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Anak kecil memiliki perilaku yang sangat memaksa. Mereka hanya mempunyai sedikit kendali dari dorongan hati mereka dan mudah putus asa. Pada saat anak mencapai usia tiga tahun mereka sudah menumbuhkan beberapa sikap toleransi untuk mengatasi hal tersebut. Mereka juga sudah dapat mengembangkan beberapa sikap pengendalian diri, mereka tidak bereaksi terhadap setiap dorongan hati. Perkembangan emosi berkaitan dengan pengendalian diri, apa yang disukai dan yang tidak disukai.

 Pada usia dua sampai empat tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan amarahnya atau temper tantrums (Elizabeth B. Hurlock, 1978). Anak yang berusia tiga dan empat tahun menyenangi kejutan-kejutan dan juga peristiwa roman. Mereka memerlukan keamanan dengan mengetahui bahwa ada suatu struktur dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang berusia tiga dan empat tahun juga sudah mulai menunjukkan selera humor. Pada usia lima sampai enam tahun anak mulai matang dan mulai menyadari akibat-akibat dari emosinya. Ekspresi emosi anak dapat berubah secara drastis dan cepat, contohnya baru saja anak menangis tetapi setelah beberapa menit kemudian anak bisa gembira lagi karena mendapatkan hiburan dari orang yang mengendalikan emosinya.

By:  Putri Nur Aini

Berlangganan via Email