Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MEMUDARNYA BUDAYA SOPAN SANTUN SISWA TERHADAP GURU?

MEMUDARNYA BUDAYA SOPAN SANTUN SISWA TERHADAP GURU?

Hallo teman-teman, kali ini saya akan membahas tentang budaya sopan santun siswa terhadap guru yang sudah mulai pudar. Kira-kira apa penyebabnya? Dan bagaimana cara mengatasinya?  Yuk, simak penjelasannya. Beberapa tahun terakhir budaya sopan santun di Indonesia sangat menurun. Hal ini dilihat dari generasi muda atau seorang siswa yang cenderung kehilangan etika dan sopan santun, baik terhadap teman sebaya, orang tua, bahkan kepada guru saat mengajar di dalam kelas. Siswa tidak lagi menganggap guru sebagai panutan, seorang yang memberikan ilmu pengetahuan yang harus dihormati dan disegani.

Seperti kejadian yang baru terjadi akhir-akhir ini, kelakuan seorang siswa yang menaiki sepeda di dalam kelas saat guru tengah mengajar di dalam kelas. Dalam video yang sudah viral tersebut terdengar guru sudah memberi teguran kepada siswa, bukannya takut, siswa tersebut malah melawan dengan melontarkan kata-kata yang tidak sopan dan justru malah menertawakan teguran dari sang guru. Hal ini sangat miris terjadi dan tentunya ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa melakukan hal yang tidak terpuji tersebut.

Faktor Terjadinya Siswa Tidak Sopan Terhadap Guru
Problematika pudarnya budaya sopan santun siswa terhadap guru tentunya terjadi karena adanya beberapa faktor, baik dari faktor siswa, atau dari guru yang merupakan faktor internal dan ada juga dari faktor eksternal. Faktor eksternal yang mempengaruhinya yaitu:

1. Pengaruh perkembangan Teknologi Informasi, kebebasan mengakses informasi melalui media sosial dengan menggunakan laptop, tablet, bahkan dari handphone dapat mempengaruhi pikiran siswa dengan mudah dan cepat.

2. Moderenisasi kultur, kebebasan mengakses internet membuat siswa bisa melihat budaya dari negara lain, baik budaya berpakaian, pergaulan, dsb. Yang secara tidak langsung dapat mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa di filter (di saring) terlebih dahulu terhadap budaya atau kebiasaan yang di ambil. 

3. Pergaulan bebas, merupakan dampak dari modernisasi kultur yang tidak sesuai dengan adat istiadat atau kebiasaan di Indonesia. Hal ini akan menimbulkan sifat meniru budaya barat yang cenderung tidak ada ikatan adat istiadat yang telah berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

4. Kurangnya pembiasaan sopan santun di rumah, sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah atau dilingkungan keluarga. Sehingga sikap orang tua yang tidak mencerminkan norma akan dengan mudah dapat ditiru oleh anak.

Dampak Yang Ditimbulkan 
Adapun dampak yang akan terjadi apabila guru dan siswa tidak selektif untuk menyikapi faktor terjadinya siswa tidak sopan terhadap guru adalah sebagai berikut:
1. Siswa tidak hormat dan segan pada guru
2. Siswa tidak akan mau di nasehati
3. Siswa tidak akan mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh seorang guru
4. Siswa menganggap guru sebagai teman, bukan sebagai seorang panutan 
5. Siswa akan berani berkata kasar bahkan tidak segan- segan melakukan tindakan kekerasan kepada seorang guru.

Cara Mengatasi Siswa Yang Tidak Sopan Terhadap Guru
Pembudayaan sikap sopan santun dapat dilakukan di sekolah melalui program yang dibuat. Sekolah dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Penanaman agama. Peningkatan sikap sopan santun siswa di kelas di awali dengan upaya penanaman pendidikan keagamaan oleh guru. Dengan penanaman yang kuat, maka siswa akan lebih mudah menerima bimbingan dari guru. Guru agama dan guru BP dapat melakukan pembiasaan yang dikaitkan dalam penilaian secara afektif. 

2. Peran guru memberi contoh penerapan perilaku sopan santun di depan siswa. Siswa dapat menjadikan guru sebagai model, dengan ini siswa dapat mudah meniru sehingga guru mudah menanamkan sikap sopan santun pada siswa.

3. Menanamkan sikap sopan santun melalui pembiasan. Dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan dilingkungan sekolah. 

4. Guru dapat selalu mengintegrasikan perilaku sopan santun dalam setiap mata pelajaran yang ada di sekolah. Penerapan tentang karakter dapat diberikan guru melalui berbagai metode pembelajaran di kelas maupun dengan menyisipkan materi karakter di mata pelajaran yang diperoleh siswa.

Dari penjelasan diatas, maka perlu kesadaran dan filterisasi siswa untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dan menyerap budaya asing serta dengan kesadaran yang dapat membudayakan sopan santun baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk mengembalikan budaya sopan santun siswa yang dapat diterapkan di rumah maupun di sekolah. Maka diperlukan kerjasama yang baik antara kedua pihak agar sopan santun siswa terjaga dengan baik. Semuanya merupakan suatu ikatan yang utuh, dan apabila terputus maka akan menimbulkan masalah besar.  

Nah, itu tadi sedikit Penjelasan Tentang Pudarnya Budaya Sopan Santun Siswa Terhadap Guru. Terimakasih dan semoga bermanfaat.

By: Novi Umrotus Sa'adah