Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

The Old "New Normal"

The Old "New Normal"
Oleh: Hatma S.
The Old "New Normal"

Saya rasa "The New Normal" akan biasa-biasa saja, kembali ke pola lama sebelum Pandemi terjadi di bangsa kita. Kenapa?

Pertama. Karena bangsa kita sangat mendewakan sisi emosional dalam beraktivitas dan mengambil keputusan. Tengok saja, untuk hal-hal penting, kita harus bertemu tatap muka dengan alasan supaya dapat "click" nya!

Mulai dari wawancara kerja, jual beli rumah, pengadilan, musyawarah pemilihan ketua organisasi, dll.

Disclaimer, hanya untuk mereka yang sudah terbiasa dengan Hi-Tech lifestyle atau sistem kerja yang sudah IT banget pola-pola ini menjadi tidak berlaku. Namun, jumlah mereka ini saya rasa sedikit saja.

Kedua. Budaya dan sistem yang menaungi mekanisme interaksi "muamalah" di bangsa kita belum memiliki kepastian. Sederhananya, ketika saya hendak membeli mobil, saya tak bisa begitu saja percaya dengan informasi yang diberikan si penjual di marketplace macam OL*. Saya kudu datang, lihat, sentuh dan tatap wajah si penjual supaya memastikan kredibilitas informasi yang ia beri. Kejujuran dan kredibilitas belum menjadi budaya yang merata.

Apalagi, sistem di negara kita masih sangat rumit dan mahal ketika terjadi fraud. Penipuan, atau apapun. Istilah orang kampung ketika terkena masalah seperti ini adalah : "Dapat ayam, hilang sapi".

Ketiga. Bangsa kita menyukai kesenangan, sekalipun di kesempitan. Istilahnya: experience is everything! Seperti tetangga saya. Dia rela memboncengkan anak istrinya ke mall yang membutuhkan sekitar 30 menit perjalanan hanya untuk membeli jepit rambut yang sebenarnya dijual oleh abang tukang mainan keliling perumahan.

Tak heran jika pariwisata sempat booming dan akan kembali booming. Dan, instagrammable spots menjadi something to look for. They need happiness in experience they buy.

Mobility di bangsa kita dipahami sebagai experience for leisure. Senang-senang dan bersama-sama. Bukan social distance.

Keempat, budaya dan agama (Islam tentunya) menjadi dua sumber nilai yang mendorong perilaku bangsa kita untuk "stay in the (old) normal". Praktik silaturahmi, bantu membantu ketika ada yang hajatan, menghadiri undangan,  ibadah bersama-sama, Siskamling, arisan, dll; akan semakin menguatkan the old normal itu.

Praktik ini pasti akan terbawa ke perilaku pasar. Orang masih akan bilang : "Gak papa gak jadi jual beli, minimal saya tambah saudara baru".

Kelima. Konsumen negeri kita yang makin cerdas dalam membelanjakan uangnya. Mereka makin mengerti mana barang yang sensitif dan yang bukan. Sensitif dalam arti meaningful buat mereka. Jika sampai salah beli atau cacat, akan sangat menusuk hati paling dalam. Untuk kategori produk macam ini, e-commerce tidak akan bisa mencegah mereka untuk tidak bertatap muka. 

Meskipun tiap individu memiliki kriteria tentang sensitivitas berbeda, namun, e-commerce tak akan bisa membajak penuh kehidupan mereka sampai meninggalkan pola-pola lama.

Jadi, melihat Pandemi sebaiknya dilihat dalam dua fase: the now normal dan the old new normal. 

The now normal adalah situasi temporary yang kudu disikapi secara temporary pula.

Sedangkan the old new normal adalah situasi sebagaimana sebelum pandemi, hanya saja tentu bangsa kita akan menemukan pembelajaran baru soal efektivitas dan efisiensi penggunaan IT dalam kehidupan.

Dan, kita akan menyongsong masa dimana penderita diare dan cacingan akan berkurang signifikan dengan budaya cuci tangan yang diperkenalkan di the now normal.

Berlangganan via Email