Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PERINGATAN NUZULUL QURAN: MENDAMAIKAN TEKS NUZULUL QURAN DAN LAILATUL QADR

PERINGATAN NUZULUL QURAN:
MENDAMAIKAN TEKS NUZULUL QURAN DAN LAILATUL QADR

Nur Faizin Muhith

Allah Swt berfirman: Inna anzalnahu fi lailatil qadr, sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) di waktu Lailatul Qadr (QS. al-Qadr: 1). Rasulallah Saw dalam haditsnya menyatakan: Iltamisuha fil `asyril awakhir fil witri, carilah ia (Lailatul Qadr) di sepuluh akhir ganjil (HR. Bukhari Muslim). Dari surat al-Quran yang sering dibaca dan hadits yang sudah mewacana ini, muncul pertanyaan seperti berikut ini: 

“Kalau Lailatul Qadr di sepuluh akhir Ramadhan, mengapa kita memperingatinya di malam 17 Ramadhan? Padahal turunnya al-Quran itu ketika Lailatul Qadar?”

Pertanyaan kontradiktif ini juga kadang berbalik menjadi: 

“Kalau kita memperingati Nuzulul Quran tanggal 17 Ramadhan, mengapa kita mencari Lailatul Qadr di sepuluh akhir Ramadhan? Padahal Lailatul Qadar adalah waktu turunnya al-Quran?”  

Tulisan ini mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan yang muncul dari paradoksal sikap keberamagaan di atas. Mencari Lailatul Qadr di sepuluh akhir Ramadhan dan memperingati Nuzulul Quran di malam 17 Ramadhan, padahal al-Quran turun ketika Lailatul Qadr. Masyarakat kita juga sebagian umat Islam ada yang memperingati Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadhan, namun sebagian lain ada yang memperingatinya pada malam-malam ganjil sepuluh akhir Ramadhan, malam 21 bahkan sampai malam 29. 

Terlebih dahulu agar kita tidak saling menyalahkan praktik peringatan Nuzulul Quran di atas, mari kita perhatikan dalil atau argumentasi masing-masing sebagaimana beriku ini:

Pertama, dalil peringatan Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadhan QS. al-Anfal: 41 
إِنْ كُنْتُمْ آَمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ
Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan (QS. al-Anfal: 41)

Hari Furqan adalah hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada 17 Ramadhan. Sejarah pewahyuan mencatat wahyu pertama (5 ayat QS. al-Alaq) turun pada 17 Ramadhan. Riwayat-riwayat hadits tentang pewahyuan juga menguatkan fakta sejarah itu. 

Kedua, dalil Nuzulul Quran pada malam ganjil dari sepuluh akhir bulan Ramadhan QS. al-Qadr: 1-5 dan QS. ad-Dukhan: 3-5
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. al-Qadr: 1-3)
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi speringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (QS. ad-Dukhan: 3-4)

Jelas sekali di awal QS. al-Qadr itu dijelaskan bahwa al-Quran diturunkan di waktu Lailatul Qadr (Malam Qadar), yaitu malam yang diberkahi dan kepastian pembagian segala urusan yang penuh hikmah. Nah, Lailatul Qadr itu menurut hadits Rasulallah Saw terjadi di malam ganjil sepuluh akhir. Rasulallah Saw mengatakan: “Carilah ia (Lailatul Qadr) di malam ganjil sepuluh akhir” (HR. Bukhari Muslim). Berdasarkan ayat dan hadits seperti ini, maka Nuzulul Quran diperingati pada malam-malam ganjil sepuluh akhir Ramadhan. 

Dari sinilah kemudian muncul prediksi-prediksi Lailatul Qadr berdasarkan awal dimulainya puasa yang populer dari Imam Ghazali dan Abul Hasan Asy-Syadzili. Jika puasa dimulai pada hari Jumat maka Lailatul Qadr pada malam 17, malam 27, atau malam 29. Jika mulai hari Sabtu maka malam 21 atau 23. Jika mulai hari Minggu maka malam 27 atau 29. Jika mulai hari Senin maka malam 21 atau 29. Jika mulai hari Selasa 25 atau 27. Jika mulai Rabu maka malam 19 atau 27. Jika mulai Kamis maka malam 25 atau malam-malam ganjil sepuluh akhir. Prediksi-prediksi ini penulis rangkum dari I`anatuth Thalibin, Hasyiyah al-Baijuri, Manaqib Asy-Syadzili. Yang menarik, prediksi semacam itu tentu tidak akan tunggal dalam menentukan waktu Lailatul Qadr, masih ada ulama lain yang membuat prediksi, seperti yang dinyatakan sendiri oleh al-Qulyubi setelah mengutip dan menadzamkan prediksi tersebut. Yang jelas kebanyakan prediksi Lailatul Qadar itu berada di malam-malam ganjil sepuluh akhir Ramadhan, bahkan Imam al-Mawardi menyatakan dalam al-Hawi al-Kabir: “tidak ada khilaf lagi di antara ulama bahwa Lailatul Qadr berada di sepuluh akhir Ramadhan.”

Kembali lagi pada pertanyaan di awal tulisan ini: “kalau begitu Nuzulul Quran dan Lailatul Qadr itu kapan?” 

Untuk menjawabnya penulis mencoba mendamaikan teks-teks Nuzulul Quran dan Lailatul Qadr yang telah dijelaskan di atas. Dari pembacaan yang terbatas, penulis setidaknya menemukan dua pendapat yang dapat dipakai untuk mendamaikan agar tidak terjadi kontradiksi dan agar kita tidak saling menyalahkan:

Selengkapnya baca:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1604413269736203&id=100005026351985

Berlangganan via Email