Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tekanan Itu Menggeliatkan

Tekanan Itu Menggeliatkan
Oleh: Hatma S.
Tekanan Itu Menggeliatkan

"Mas Hatma, jika saya tak bisa segera memutar dana segar yang tersisa ini, Juni saya sudah harus berhenti mempekerjakan pegawai dan menyekolahkan aset-aset saya." Tak kalah antusias, pelaku usaha kecil lain pun menelpon saya dan bilang: "Kang, aset saya sudah habis. Butuh bantuan untuk survive."

Padahal masa pandemi COVID-19 ini belum tahu kapan akan usai. Pelonggaran PSBB oleh Menhub sepertinya memberi angin segar. Tapi, sebagian pakar mengkhawatirkan akan terjadinya gelombang kedua serangan virus ini akibat kebijakan yang seperti saling tidak sinkron ini.

"Pak, jangan menunggu lagi, bantu kami susun program respon atas pandemi ini bagi UMKM binaan kami". Telpon berdering terus menerus. Dan harus diselesaikan dengan interkoneksi antara pelaku UMKM terdampak dengan lembaga dan komunitas penyedia program respon pandemi.

"Alhamdulillah mas, omset malah naik gegara pandemi. Saya butuh pasokan lebih banyak!" Eh, ternyata tidak semua cerita sedih akibat pandemi. Ada saja orang-orang yang ternyata menikmati masa "pageblug" ini. Ini memberi angin yang jauh lebih segar daripada kebijakan pemerintah yang terus simpang siur ini.

Lantas, saya buka Tool Box saya. Beberapa rapat "Zoom" diselenggarakan. Program respon pandemi segera disusun bersama. Supaya masyarakat, khususnya pelaku usaha bisa "menggeliat" ditengah "tekanan" akibat pandemi ini. Anda pun bisa melakukan hal serupa. Begini jurus rahasianya.

Tool terbaik untuk membantu sektor swasta, khususnya UMKM ada dua. Pertama, Business Model Canvas (BMC) yang Osterwalder kenalkan di 2005 itu. Di tool satu ini, sebelumnya saya ajak para pihak untuk berdiskusi menemukan fakta lapangan bahwa terjadi perubahan di pasar. Pasar yang baru ini, yang saya beri istilah "The Now Normal" memiliki dua macam perubahan besar. Pertama adalah perubahan rencana anggaran belanja (RAB) individu & masyarakat. Kedua, perubahan pola / perilaku belanja mereka. 

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, perubahan RAB tiap individu ini membuat munculnya produk-produk tertentu yang memiliki permintaan pasar (market demand) yang tinggi. Yang cukup bagus adalah analisa yang diproduksi oleh Firmenich FAST survey: Indonesians in Times of COVID-19 w3 Mar20. Individu merubah prioritas belanja mereka. Misal, dari belanja Soft Drink ke belanja Yogurt. 

Berarti, pelaku usaha harus merubah minimal 4 dari 9 kotak di BMC itu. Customer segment jelas berubah. Misal, kedai yang biasa buka di Thamrin 10 yang menyasar pekerja kantoran elit Jakarta harus merubah ke keluarga-keluarga yang terkurung di perumahan-perumahan di tepian kota. 

Value Proposition, nilai yang ditawarkan ke pasar juga harus berubah. Yang semula suasana / ambience ketika menyantap soto, harus berubah menjadi soto yang bisa home-made dan dibuat bersama pasangan dan anak. Untuk membunuh waktu karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Segmen pasar yang kini terkurung di rumah mereka itu tentu kudu dijangkau dengan Channel pemasaran yang baru. Cara baru. Online? Pun harus dengan cara baru. Karena everybody is doing this. 

Bahkan, cara-cara mengelola Customer Relation pun kudu baru. Tak bisa sekedar pasang barang di etalase di Buk***k saja. Butuh upaya lain yang inovatif. Karena marketplace akhirnya menjadi lautan merah (Red Ocean) yang penuh persaingan.

Tentu, sebagaimana Osterwalder ajarkan, bahwa perubahan satu dari sembilan kotak di BMC itu tak bisa kemudian abai pada perubahan kotak lainnya. Pasokan yang baru, Proses Bisnis yang berbeda, Struktur Biaya & Beban yang berbeda, dan bahkan Revenue Stream yang kudu inovatif karena persaingan sengit di pasar.

Maka, anda, saya dan lembaga-lembaga itu bisa memakai tool ampuh ini untuk membantu para pelaku usaha berinovasi dalam merespon pandemi. Dengan membantu pelaku usaha, khususnya UMKM, tuk merubah business model mereka dengan tool BMC ini. Membantu mereka untuk "menggeliat" di tengah "tekanan" akibat dampak pandemi ini. Supaya arus kas terus berputar, pegawai bisa terus bekerja, mudik bisa dicegah dan jika unggul, profit bisa dicapai. Siapa tahu, The Now Normal ini akan terus menjadi The New Normal pasca pandemi nanti?

OK. Everybody gets it. Lalu, bagaimana dengan tool kedua?

Sumber by: STORE.JATIMInYourHand

Berlangganan via Email