Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAGAIMANA KUALITAS PENDIDIKAN DI NEGERI AGRARIS?


BAGAIMANA KUALITAS PENDIDIKAN DI NEGERI AGRARIS?

Pendidikan adalah suatu hal  yang penting untuk mencari bekal ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam kehidupan hanya berdiam diri saja tanpa adanya bekal ilmu dalam suatu pendidikan, sangatlah berbahaya. Ilmu mahal harganya, jika dalam suatu kaum tidak mau atau bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Maka bersiap-siaplah ia menerima pedihnya suatu kebodohan. Untuk melahirkan generasi maju dan jaya diperlukanlah tentor yang handal dan pro dalam suatu bidang tersebut. Bagaimana jika seorang tentor sendiri bermasalah ? tidak dapat memberikan informasi yang jelas dan tidak dapat dipertanggung jawabkan ? tentu saja menjadi suatu persoalan untuk kader atau generasi penerusnya.

Indonesia adalah negara yang memiliki suatu permasalahan dalam dunia pendidikan. Dari berbagai aspek yang bermacam-macam permasalahan pendidikan, dari segi langsung maupun tidak langsung dari sumber televisi, hp, radio, surat kabar cetak maupun elektronik dan lain sebagainya. Seperti yang tertera dalam UUD, alinea ke 4 yang berbunyi : “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dalam isi UUD tersebut sudah pasti bahwa pendidikan dalam negeri ini sangat penting untuk kemajuan bangsa dan negara. Bagaimana bila generasi penerus bangsa belum mendapatkkan pendidikan yang layak. Negeri sudah merdeka, akan tetapi pemikiran rakyat masih ada pemikiran jajahan oleh negara lain, yang masih terbawah sampai saat ini.

Ada beberapa faktor yang bisa saya jadikan alasan mengapa nasib pendidikan Indonesia sangatlah rendah. Lebih rendah dari negara Vietnam. Dari masalah ektifitas, efisiensi, kurangnya kreatifitas pola pikir dari pendidik untuk membimbing siswa, kurikulum pendidikan, mahalnya anggaran pendidikan, renggangnya penerimaan mahasiswa keguruan, lebih mengutamakan lamanya pembelajaran daripada kualitas pembelajaran. Sampai saat ini Kemendikbud masih mempermasalahkan kurikulum yang sekiranya cocok untuk para pelajar di Indonesia. Terjadinya perubahan kurikulum yang menyebabkan guru dan siswa bermasalah baik dalam belajar dan mengajar. Justru dari itu, kurikulum hanya didasarkan dari pengetahuan pemerintah saja tanpa mempedulikan kebutuhan masyarakat sekitar. Mungkin selama ini kita berpikir bahwa kita hanya dijadikan sebagai “kelinci percobaan” oleh pemerintah.

Kualitas kurikulum di Indonesia sempat dibuat bingung sendiri tanpa tahu dimana ujung dan pangkalnya. Pada kurikuulum ini para siswa didik secara halus mereka dipaksa untuk memahami berbagai macam mata pelajaran di kurikulum tersebut. Lantas, tidak ada yang bisa diunggulkan pada setiap anak dalam bidang mata pelajarannya di sekolah. Karena mereka tidak memiliki potensi unggul yang dimiliki secara pribadi. Karena dengan sistem keterpaksaan maka dapatlah ilmu yang bisa dibilang tidak memiliki hard score. Jika proses belajar terlalu memakan waktu lama tanpa memikirkan kualitas belajar siswa disekolah, akan menjadikan beban sang anak. Belum lagi PR dan tugas disekolah ataupun Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) yang diikuti selepas pulang sekolah. Perlu dijelaskan bahwa proses pembelajaran terlalu lama tidak akan mendapatkan ilmu yang maksimal.

Harus diakui bahwa setiap anak didik mayoritas tidak memiliki cita-cita yang jelas, meskipun ada yang punya tetapi tidak jelas. Satu hal penting adalah pendidik tidak memberikan arahan atau pandangan untuk menggapai citacita setiap siswa. Tetapi yang penting mereka harus menghafalkan materi yang sudah pendidik berikan tanpa terkecuali. Saat menggunakan krikulum 2013 yang terlalu mengutamakan interatif di kelas ternyata memiliki halangan saat mencoba melakukan kegiatan pembelajaran dikelas. Karena tidak semua sekolah mendapatkan fasilitas penunjang yang tinggi.

Sayangya, kualitas kurikulum yang diterapkan pemerintah untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang maju dan baik direalisasikan dengan terjadinya perubahan kurikulum yang terlalu”ambisius”. Padahal, bisa dibilang tingkat pendiidkan di Indonesia dengan tingkatan rendah bukan terletak pada kurikulumnya. Jika diibaratkan kurikulum itu adalah sebuah pistol, jika seandainya seserang ingin menembak tepat pada sasarannya maka yan harus bekerja baik bukan pistlnya, melainkan skill. Jika inginmendapatkan pendiidkan yang layak, maka yang harus dibenahi kompetensi pendidiknya bukan kurikulumnya.

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia bukan dari pendidikan sendiri, akan tetapi dari segi lingkungan sekitarnya. Adapun solusi tepat yang dapat menyelesaikan permasalahan yaitu dengan mengarahkan siswa menjadi lebih kreatif dan tanggap dalam suatu permasalahan. Dan pemeritah harus lebih tanggap dan cepat merubah kurikulum aar siswa mendapatkan potensi yang dapat menunjang keberhasilan mereka dalam menuntut ilmu. Bukan hanya pemeerintah saja yang berperan aktif, akan tetapi masyarakat ikut serta dalam tangan keberhasilan siswa didik yang memprihatinkan saat ini. Dengan pini, sumber daya manusia akan meningkat dengan baik dan mampu meneruskan cita-cita bangsa dalam dunia internasional.

Jangan sampai pula kualitas pendidikan di Indonesia dibebankan kepada guru, semua elemen sumber harus terlibat dalam tercapainya prestasi belajar siswa di sekolah. Masih banyak sekali siswa yyang belum memiliki pribadi yang baik, bahkan tidak memiliki tata krama dan adab span santun yang apik terhadap guru, sampai ada yang berani membantah nasihat guru di kelas. Dari tahun ke tahun ilmu dan teknologi berkembang dan maju dengan pesat. Sebuah negara juga akan dikatakan maju apabila pendidikan di negara tersebut juga maju. Mungkin saat ini Indonesia masih dikatakan negara berkembang dan menuju proses tahapan negara maju. Dalam segi Sumber Daya Alam yang melimpah  tidak mampu bersaing ketat dengan dunia pendidikan yang minim. Mereka hanya ingin sesuatu yang instan, tanpa harus menikmati proses pembelajaran yang tidak mudah.

Dengan begitu mereka bukan tipe pekerja keras dan gigih dalam bekerja. Alhasil sebagian besar dari mereka akan melakukan remidi untuk  memperbaiki nilai yang masih kurang memuaskan. Sebuah PR besar bagi orang tua maupun guru di sekolah apabila tidak ingin kalah jauh dengan negara lainnya. Dalam penelitian menjelaskan faktor pertama dalam dunia pendidikan adalah pembelajaran dikelas secara teori tanpa diimbangi dengan praktek. Siswa akan terasa lebih jenuh dan membosankan apabila guru hanya menjelaskan materi dengan membaca buku tanpa memperhatikan setiap murid di kelas. Begitu juga murid akan menlak stimulus ilmu yang disalurkan dalam waktu pembelajaran berlangsung. Bagaimana caranya, guru harus lebih menciptakan 1001 strategi untuk menjadikan suasana dikelas menarik dan siswa tertarik akan konsep mengajarnya tersebut.

Kedua adalah metode ceramah. Metode ini sering kali digunakan leh para pendidik bahkan sudah menjadi metode teravrit dalam keahliannya mengajar. Karena proses mengajar dengan ceramah satuarah, dan mudah untuk digunakan karena tidak mengeluarkan abnyak tenaga, pikiran ataupun modal. Bagaimana jika guru selal menggunakan metode ini pada setiap anak didik mulai dari kelas 1-6 pada tingkat SD ? apakah mereka mendapatkan ilmu yang maksimal sesuai dengan ptensi dan kompetisi bidang mereka masing-masing ? kemudia yang ketiga adlah kurikulum yang seharusnya ditetapkan atau diperankan esai dengan tingkatan kualitas sekolahnya tersebut. percuma saja jika anak didik belum bisa menguasai satu mata pelajarannya dari berbagai macam banyaknya. Tidak akan memiliki potensi yag menunjang untuk masa depan cita-cita anak didik kita.

Keempat adalah kurangnya sarana pembelajaran. Terjadi di daerah pelosok terpencil yang mana kurang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah untuk menunjang keberhasilan anak negeri. Banyak dari para relawa pendidik yang ingin menyalurkan atau memberikan ilmu yang sudah ditimbanya tanpa keinginan untuk mendapatkan keuntungan sepeserpun. Daerah terpencil yang sangat pelosok dikarenakan susa dijangkau itulah penyebab kurangnya fasilitas pendidikan yang layak dari pemerintah. Wajib bagi setiap anak untuk mendpatkan bekal ilmu untuk keberhasilan capaian masa depan yang gemerlang. Dalam segi sumber daya  manusia Indonesia sendiri masih dibilang minus untuk menanggapi permasalahan ini. Acuh tak acuh dalam pendidikan penunjang kualitas negara berkembang. Mengutamakan atasan yang sering membawa petaka bagi rakyat miskin kota. Demi tugas suc yang mulia, beberapa pendidik menawarkan jasa mengajar  tanpa tanda jasa bagi anak pelsok yang masih layak untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Jalur pendidikan adalah dimana anak didik dapat mengembangkan ptensi dan kualitas anak didik pada umumnya. Ada tiga jalur prndidikan yang digunakan di Indonesia, yaitu pendidikan formal, non formal dan informal. Selain itu ada beberapa jenis jenis pendidikan ang diterapkan dalam dunia kependidikan di Indonesia diantaranya : pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan akademik, pendidikan prfesi, pendidikan khusus, pendidikan vokasi, dan pendidikan keagamaan. Sebagai warga negara indnonesia sendiri yang terkenal dengan negara agraris yang berkembang, sangat  prihati  akan dampak negatif yang diterima leh masyarakat sekitar.

Indonesia adalah negara berkembang dan masih memiliki permasalahan dunia pendidikan. Tahun kemarin Indonesia menempati peringkat ke 62. Inti dari pendidikan nasional adalah “meningkatkan potensi anak didik”. Namun hingga saat ini masih dirasakan ketertinggalan mutu pendidikan didalam mutu pendidikan. Maslah keterbatasan pendidikan uga terlibat dalam problematika segi perekonomian, kurangnya asupan gizi, kurangnya informatika yang cukup.  Selain membahas tentang masalah kurikulum yang minim, kurangnya tenaga pendidik atau smber daya manusia didalam sekolah.

Masalah pemerataan guru pendidikan juga permasalahan besar terhadap dunia pendidikan. Dalam mengurangi ini pemerinttah sudah menetapkan sistem zonasi daalam penerimaan siswa baru. namun bagi daerah 3T terdapat pro kontra diantaranya. Karena kurangnya fasilitas sekolah yaitu berupa gedung, ataupun fasilitas media lainnya untuk mengajar di sekolah. Untuk kedepannya semga permasalahan pemerataan akses pendidikan berupa kesediaan lahan dan prasarana dapat teratasi dengan cepat dan dapat menikmati indahnya belajar dengan nuansa yang tenang dan nyaman, agar kita mampuu mengerjar ketinggalan pendidikan.

Jika tidak demikian, nilai persentase tingkat pengangguran sekolah akan semakin tinggi. Sudah begitu angka tingkat putus sekolah di Indonesia sudah ckup tinggi. Dijelaskan bahwa 50 respnden sudah tidak meneruskan pendidikan sekolah kembali dikarenakan masalah biaya pendidiikan yang mahal. Dan 90  persennya melanjutkan ke jenjang non formal seperti pesantren dll. Mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi hanya ber ijazahkan Sekolah Dasar saja. Jadi wajarkah jika selama ini saya masih kurang puas dengan sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia ? dalam pepatah mengatakan “pendidikan bukan segalanya, tetapi segalanya butuh pendidikan”. Tidak ada yang tidak mungkin jika tidak diikuti dengan kemauan yang jelas dan tepat.

Maka dari itu, guru harus bisa menyalurkan ide-ide yang kreatif, aktif dan inovatif untuk menunjang keberhasilan siswa. Selain itu, peran aktif masyarakat sangat diperlukan untuk mendukung pengelolaan pendidikan yang maksimal. Peran masyrakat disini bukan hanya dari segi dana, akan tetapi dari pengambil keputusan, monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas. Mulai saat ini peran guru, masyarakat, orang dan kepala sekolah untuk mensejahterakan tujuan capaian yang totalitas terhadap pendidikan di Indonesia.

By: ARUM PUJI LESTARI

Berlangganan via Email